{"id":95212,"date":"2026-08-29T14:44:41","date_gmt":"2026-08-29T07:44:41","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/29\/belajar-dari-kuburan-hiu-dasar-laut-ahli-rancang-teknologi-pembersih-orbit\/"},"modified":"2026-08-29T14:44:41","modified_gmt":"2026-08-29T07:44:41","slug":"belajar-dari-kuburan-hiu-dasar-laut-ahli-rancang-teknologi-pembersih-orbit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/29\/belajar-dari-kuburan-hiu-dasar-laut-ahli-rancang-teknologi-pembersih-orbit\/","title":{"rendered":"Belajar dari Kuburan Hiu Dasar Laut, Ahli Rancang Teknologi Pembersih Orbit"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/29\/1787988544_aba7aeb10cc231bae096.png\" alt=\"Belajar dari \" kuburan=\"\" hiu=\"\" dasar=\"\" laut=\"\" ahli=\"\" rancang=\"\" teknologi=\"\" pembersih=\"\" orbit=\"\"\/><figcaption>ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p>LAUT dalam dan ruang angkasa mungkin terlihat sebagai dua lingkungan yang sangat berbeda. Namun, keduanya sama-sama menyimpan persoalan tentang benda-benda yang tertinggal dan sulit dijangkau.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Di dasar laut, ilmuwan dapat menemukan kumpulan sisa organisme dan fosil, termasuk apa yang kerap disebut sebagai \u201ckuburan hiu\u201d. Sementara di orbit Bumi, ribuan objek buatan manusia yang sudah tidak berfungsi terus bergerak sebagai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sampah-antariksa\" title=\"sampah antariksa\">sampah antariksa<\/a>.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/909815\/tak-lagi-di-jalanan-pemulung-kini-berburu-bangkai-roket-di-antariksa\" title=\"Tak Lagi di Jalanan, 'Pemulung' Kini Berburu Bangkai Roket di Antariksa\" target=\"_blank\">Tak Lagi di Jalanan, &#8216;Pemulung&#8217; Kini Berburu Bangkai Roket di Antariksa<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menariknya, perilaku dan kemampuan sejumlah hewan kini menjadi sumber inspirasi bagi ilmuwan dan insinyur untuk merancang teknologi yang dapat membantu menangani masalah sampah <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/antariksa\" title=\"Antariksa\">antariksa<\/a>.<\/p>\n<p>Salah satu contoh penemuan \u201ckuburan hiu\u201d berasal dari penelitian di perairan Australia.<\/p>\n<p>Organisasi penelitian nasional Australia, CSIRO, melaporkan penemuan kawasan yang mengandung sejumlah besar gigi hiu purba di laut dalam. Temuan tersebut bahkan mencakup gigi dari kerabat purba megalodon, hiu raksasa yang telah punah.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/925894\/kemampuan-cicak-menginspirasi-teknologi-satelit-untuk-tangkap-sampah-antariksa\" title=\"Kemampuan Cicak Menginspirasi Teknologi Satelit untuk Tangkap Sampah Antariksa\" target=\"_blank\">Kemampuan Cicak Menginspirasi Teknologi Satelit untuk Tangkap Sampah Antariksa<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kumpulan sisa organisme seperti ini menunjukkan bagaimana lingkungan laut dapat menyimpan jejak kehidupan selama waktu yang sangat panjang.<\/p>\n<p>Penemuan lain yang lebih baru juga mengungkap adanya kawasan luas berisi fosil dan sisa mamalia laut di dasar Samudra Hindia. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Juni 2026 mendokumentasikan kawasan yang membentang sekitar 1.200 kilometer di Zona Diamantina, dengan beberapa fosil diperkirakan berusia hingga 5,3 juta tahun.<\/p>\n<h2>Sampah Antariksa Menjadi Ancaman<\/h2>\n<p>Berbeda dengan sisa organisme di laut, sampah antariksa merupakan benda buatan manusia.<\/p>\n<p>Objek tersebut dapat berupa satelit yang sudah tidak berfungsi, bagian roket, hingga pecahan kecil akibat tabrakan atau kerusakan perangkat di orbit.<\/p>\n<p>Keberadaan benda-benda ini menjadi perhatian karena objek yang bergerak dengan kecepatan tinggi dapat membahayakan satelit aktif maupun wahana antariksa. Karena itu, para peneliti terus mencari cara untuk menangkap, memindahkan, atau membantu mengeluarkan objek tidak aktif dari orbit.<\/p>\n<p>Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah biomimetika, yaitu merancang teknologi dengan mengambil inspirasi dari struktur atau kemampuan makhluk hidup.<\/p>\n<p>Sebuah penelitian dalam CEAS Space Journal membahas berbagai konsep pembersihan sampah antariksa yang terinspirasi dari hewan. Proyek tersebut mengevaluasi sejumlah rancangan teknologi untuk membantu menangani objek besar yang sudah tidak berfungsi di orbit.\u00a0<\/p>\n<h2>Terinspirasi dari Tokek dan Lebah<\/h2>\n<p>Salah satu konsep memanfaatkan kemampuan tokek untuk menempel pada berbagai permukaan. Kaki tokek memiliki struktur mikroskopis yang memungkinkan hewan tersebut menghasilkan gaya adhesi tanpa menggunakan lem konvensional.<\/p>\n<p>Dalam konsep pembersihan sampah antariksa, prinsip tersebut dapat diterapkan pada bagian robot yang dirancang untuk menempel atau mencengkeram objek di orbit. Teknologi ini berpotensi berguna karena sampah antariksa sering kali memiliki bentuk yang tidak beraturan dan tidak dirancang untuk ditangkap oleh robot.<\/p>\n<p>Peneliti juga mengembangkan konsep yang mengambil inspirasi dari lebah, khususnya mekanisme yang menyerupai alat untuk menciptakan sambungan awal pada objek target.<\/p>\n<p>Dalam salah satu rancangan, sistem yang terinspirasi dari lebah dikombinasikan dengan teknologi adhesi yang meniru tokek.<\/p>\n<p>Penelitian tersebut menilai sejumlah skenario biomimetik dan memilih beberapa konsep yang dianggap paling menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut.<\/p>\n<p>Salah satunya adalah sistem yang dapat mengirim perangkat menuju objek target dari jarak aman, kemudian membantu proses pelepasan objek tersebut dari orbit.\u00a0<\/p>\n<p>Meski masih berada dalam tahap penelitian dan pengembangan konsep, pendekatan biomimetik menunjukkan bahwa solusi teknologi tidak selalu harus dimulai dari nol. Alam telah menghasilkan berbagai mekanisme untuk menempel, bergerak, menangkap, dan beradaptasi selama jutaan tahun.<\/p>\n<p>Dari jejak kehidupan yang tersimpan di dasar laut hingga teknologi yang dirancang untuk membersihkan orbit Bumi, penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana pemahaman terhadap alam dapat memberikan inspirasi bagi tantangan modern.<\/p>\n<p>Dengan jumlah aktivitas manusia di ruang angkasa yang terus meningkat, pengembangan teknologi untuk mengurangi sampah antariksa akan menjadi semakin penting. Dan siapa sangka, salah satu sumber inspirasinya justru dapat berasal dari kemampuan sederhana makhluk hidup seperti tokek dan lebah.<\/p>\n<p>(Nature\/P-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/927380\/belajar-dari-kuburan-hiu-dasar-laut-ahli-rancang-teknologi-pembersih-orbit\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi(Magnific) \u00a0 LAUT dalam dan ruang angkasa mungkin terlihat sebagai dua lingkungan yang sangat berbeda. Namun, keduanya sama-sama menyimpan persoalan tentang benda-benda yang tertinggal dan sulit dijangkau.\u00a0 Di dasar laut, ilmuwan dapat menemukan kumpulan sisa organisme dan fosil, termasuk apa yang kerap disebut sebagai \u201ckuburan hiu\u201d. Sementara di orbit Bumi, ribuan objek buatan manusia yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":95213,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-95212","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95212","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95212"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95212\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95213"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95212"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95212"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95212"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}