{"id":91945,"date":"2026-08-23T12:15:41","date_gmt":"2026-08-23T05:15:41","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/23\/penemuan-kembali-ptilotus-senarius-tanaman-langka-australia-yang-sempat-punah\/"},"modified":"2026-08-23T12:15:41","modified_gmt":"2026-08-23T05:15:41","slug":"penemuan-kembali-ptilotus-senarius-tanaman-langka-australia-yang-sempat-punah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/23\/penemuan-kembali-ptilotus-senarius-tanaman-langka-australia-yang-sempat-punah\/","title":{"rendered":"Penemuan Kembali Ptilotus senarius, Tanaman Langka Australia yang Sempat Punah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/23\/1787460672_dcf51b68db963077ebab.jpg\" alt=\"Penemuan Kembali Ptilotus senarius, Tanaman Langka Australia yang Sempat Punah\"\/><figcaption>Tanaman langka Ptilotus senarius(MI\/Dok UNSW SYDNEY)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KERUSAKAN alam akibat ulah manusia, mulai dari perusakan habitat, perubahan iklim, hingga masuknya <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/spesies\" title=\"spesies\">spesies<\/a> invasif, telah menempatkan banyak flora dan fauna di ambang kepunahan. Namun, sebuah kabar baik muncul dari pedalaman <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/australia\" title=\"Australia\">Australia<\/a> Utara dengan ditemukannya kembali <i><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ptilotus-senarius\" title=\"Ptilotus senarius\">Ptilotus senarius<\/a><\/i>, tanaman unik yang sempat dinyatakan hilang dari catatan dunia selama lebih dari setengah abad.<\/p>\n<p><i>Ptilotus senarius<\/i> adalah semak kecil yang ramping dengan ciri khas bunga berwarna ungu muda yang mekar menyerupai kembang api kecil. Spesies ini memiliki habitat yang sangat spesifik, yakni hanya tumbuh di wilayah dengan medan terjal di sekitar Teluk Carpentaria, Queensland, Australia.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h2>Kembali Setelah 60 Tahun<\/h2>\n<p>Sebelum penemuan ini, <i>Ptilotus senarius<\/i> terakhir kali terlihat pada 1967. Selama hampir 60 tahun, tanaman ini dianggap telah punah di alam liar, bergabung dengan sekitar 900 jenis tumbuhan lainnya yang tercatat punah secara internasional sejak medio 1750-an.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/903718\/laba-laba-ballista-australia-spesies-baru-dengan-perangkap-ketapel\" title=\"Laba-Laba Ballista Australia: Spesies Baru dengan Perangkap Ketapel\" target=\"_blank\">Laba-Laba Ballista Australia: Spesies Baru dengan Perangkap Ketapel<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Penemuan kembali spesies ini terjadi secara tidak sengaja. Aaron Bean, seorang ahli hortikultura profesional yang juga pemerhati burung, sedang melakukan aktivitas pemasangan cincin pada burung di sebuah lahan luas di pedalaman Queensland. Di tengah kegiatannya, ia melihat tanaman dengan bentuk tidak biasa dan memutuskan untuk memotretnya.<\/p>\n<p>Begitu mendapatkan sinyal telepon, Aaron mengunggah foto tersebut ke platform <i>citizen science<\/i> iNaturalist. Unggahan tersebut menarik perhatian Anthony Bean, seorang ahli <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/botani\" title=\"botani\">botani<\/a> dari Queensland Herbarium yang juga merupakan sosok yang mendeskripsikan spesies tersebut sekitar satu dekade lalu. Anthony segera mengenali bahwa tanaman dalam foto tersebut adalah <i>Ptilotus senarius<\/i> yang telah lama hilang.<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0; border: 1px solid #ddd;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Informasi Spesies<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Detail<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Nama Spesies<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\"><i>Ptilotus senarius<\/i><\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Karakteristik Fisik<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Semak kecil, bunga ungu muda mirip kembang api<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Lokasi Temuan<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Teluk Carpentaria, Queensland, Australia<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Tahun Terakhir Terlihat<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">1967<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Status Konservasi Terbaru<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Kritis Terancam Punah (<i>Critically Endangered<\/i>)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h2>Peran Vital Citizen Science<\/h2>\n<p>Penemuan ini kemudian ditindaklanjuti dengan penelitian lapangan. Dengan bantuan pemilik lahan, para peneliti berhasil memperoleh spesimen fisik untuk mengonfirmasi keberadaan spesies ini secara ilmiah. Meski telah ditemukan kembali, status tanaman ini kini masuk dalam kategori kritis terancam punah (<i>critically endangered<\/i>) karena populasinya yang sangat terbatas.<\/p>\n<p>Thomas Mesaglio, peneliti dari School of Biological, Earth and Environmental Sciences di UNSW, menekankan bahwa kasus ini menjadi bukti nyata betapa pentingnya peran masyarakat dalam sains. Menurutnya, platform seperti iNaturalist membantu ilmuwan menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang sulit diakses oleh peneliti profesional secara rutin.<\/p>\n<p>Dalam penelitian terpisah, Mesaglio mencatat bahwa data dari iNaturalist telah dikutip dalam berbagai makalah ilmiah yang mencakup ribuan spesies di 128 negara. Ia mengingatkan bahwa semakin detail informasi yang dicatat oleh masyarakat dalam setiap pengamatan\u2014seperti foto yang jelas dan koordinat lokasi\u2014semakin besar manfaatnya bagi upaya konservasi dan penelitian dunia. (University of New South Wales\/Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/924952\/penemuan-kembali-ptilotus-senarius-tanaman-langka-australia-yang-sempat-punah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanaman langka Ptilotus senarius(MI\/Dok UNSW SYDNEY) KERUSAKAN alam akibat ulah manusia, mulai dari perusakan habitat, perubahan iklim, hingga masuknya spesies invasif, telah menempatkan banyak flora dan fauna di ambang kepunahan. Namun, sebuah kabar baik muncul dari pedalaman Australia Utara dengan ditemukannya kembali Ptilotus senarius, tanaman unik yang sempat dinyatakan hilang dari catatan dunia selama lebih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":91946,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-91945","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91945","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91945"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91945\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91946"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91945"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91945"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91945"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}