{"id":91462,"date":"2026-08-22T09:44:42","date_gmt":"2026-08-22T02:44:42","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/22\/bedah-kitab-hawlal-ihtifal-mengapa-ulama-membolehkan-maulid-nabi\/"},"modified":"2026-08-22T09:44:42","modified_gmt":"2026-08-22T02:44:42","slug":"bedah-kitab-hawlal-ihtifal-mengapa-ulama-membolehkan-maulid-nabi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/22\/bedah-kitab-hawlal-ihtifal-mengapa-ulama-membolehkan-maulid-nabi\/","title":{"rendered":"Bedah Kitab Hawlal Ihtifal Mengapa Ulama Membolehkan Maulid Nabi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/22\/1787364838_38002e992c731b680c9a.png\" alt=\"Bedah Kitab Hawlal Ihtifal: Mengapa Ulama Membolehkan Maulid Nabi?\"\/><figcaption>Ilustrasi.(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PERDEBATAN\u00a0mengenai peringatan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/maulid-nabi\" title=\"Maulid Nabi\">Maulid Nabi<\/a> Muhammad SAW sering kali berputar pada satu pertanyaan klasik,\u00a0<em>&#8220;Jika Nabi tidak pernah melakukannya, mengapa sebagian ulama tetap membolehkannya?&#8221;\u00a0<\/em>Pertanyaan ini dijawab secara mendalam oleh <strong>Prof. Dr. Abuya as-Sayyid Muhammad &#8216;Alawi al-Maliki al-Hasani<\/strong> dalam kitabnya yang fenomenal, <em>Hawlal Ihtif\u0101l bi Dhikri al-Mawlid al-Nabaw\u012b al-Shar\u012bf<\/em>.<\/p>\n<p>Kitab ini tidak sekadar membela tradisi, tetapi membedah landasan syariat dan logika keimanan di baliknya. Berikut rangkumannya sebagaimana dilansir akun\u00a0Banjarmasin Islamic Education di Instagram.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h2>Maulid bukan Ritual Kaku<\/h2>\n<p>Abuya <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sayyid-muhammad-alawi-al-maliki\" title=\"Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki\">Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki<\/a> menegaskan bahwa Maulid bukanlah ritual yang harus memiliki satu format tunggal. Esensi dari Maulid akan tercapai melalui segala kebaikan yang mengumpulkan umat di atas petunjuk agama.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/699228\/biodata-nabi-muhammad-saw-perjalanan-kehidupan-keluarga-sifat-fisik\">Biodata Nabi Muhammad SAW, Perjalanan Kehidupan, Keluarga, Sifat Fisik<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Tolak ukur peringatan Maulid yaitu ada hal-hal yang dianjurkan syariat, seperti:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Membaca sejarah (sirah) hidup <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/617790\/urutan-30-surat-juz-amma-lengkap-arab-latin-dan-arti\" rel=\"nofollow\" target=\"_blank\">Nabi SAW<\/a>.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Memperbanyak bacaan selawat.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Mendengarkan nasihat agama.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Bersedekah dan menjamu makanan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Menghidupkan kembali rasa cinta (mahabbah) kepada Rasulullah SAW.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h2>Memahami Makna tidak Dilakukan Nabi<\/h2>\n<p>Kitab ini mengajak pembaca membedakan antara tidak pernah dilakukan Nabi\u00a0dengan pasti haram dilakukan. Mengutip <strong>Imam Syafi&#8217;i<\/strong>, Abuya menjelaskan batasan bid&#8217;ah secara jernih:<\/p>\n<h2>Siapa yang Pertama Merayakan Maulid?<\/h2>\n<p>Secara mengejutkan, Abuya memaparkan bahwa Nabi SAW sendiri ialah orang pertama yang mengaitkan ibadah dengan momen kelahirannya. Dalam hadis riwayat <strong>Imam Muslim<\/strong>, saat ditanya alasan\u00a0beliau berpuasa di hari Senin, Nabi menjawab,\u00a0<em>&#8220;Itu hari aku dilahirkan&#8230;&#8221;<\/em><\/p>\n<p>Bagi penulis, ini\u00a0dalil sahih bahwa mensyukuri hari kelahiran Nabi sangat dianjurkan. Bentuk syukurnya bisa beragam; mulai dari puasa, sedekah, hingga membaca sirah nabawiyah (Hlm. 16).<\/p>\n<p><strong>Baca juga:\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/924664\/dalil-memperingati-hari-kelahiran-nabi-dalam-al-quran-dan-hadis\">Dalil Memperingati Hari Kelahiran Nabi dalam Al-Quran dan Hadis<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Logika Kegembiraan dalam Al-Qur&#8217;an<\/h2>\n<p>Abuya menggeser fokus perdebatan dari sekadar hukum acara menjadi pemahaman makna kebahagiaan. Merujuk <strong>QS. Yunus: 58<\/strong>, Allah memerintahkan umat-Nya untuk bergembira atas karunia dan rahmat-Nya. Mengingat Nabi Muhammad SAW ialah rahmat bagi semesta alam\u00a0(QS. Al-Anbiya&#8217;: 107),\u00a0bergembira atas kelahiran beliau adalah kewajaran iman (Hlm. 24-25).<\/p>\n<h2>Objektivitas: Mengutip Ibnu Taimiyyah<\/h2>\n<p>Menariknya, kitab ini juga mengutip pandangan <strong>Ibnu Taimiyyah<\/strong>. Ia menyebutkan bahwa mengagungkan Maulid dan menjadikannya momentum tertentu bisa mendatangkan pahala besar bagi pelakunya karena niat baik (<em>husnul qasd<\/em>) dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW (Hlm. 36-37).<\/p>\n<p><strong>Baca juga:\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/924623\/tradisi-maulid-nabi-dalam-literatur-ulama-mazhab-hanbali\">Tradisi Maulid Nabi dalam Literatur Ulama Mazhab Hanbali<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Meluruskan Salah Paham soal Berdiri\u00a0(Qiyam)<\/h2>\n<p>Abuya memberikan kritik keras terhadap keyakinan keliru saat tradisi berdiri (<em>Mahalul Qiyam<\/em>). Beliau membantah anggapan awam bahwa jasad fisik Nabi SAW hadir di tengah ruangan saat jemaah berdiri. Beliau menyebut prasangka tersebut tidak berdasar.<\/p>\n<p>Berdiri saat Maulid bukanlah kewajiban, melainkan ekspresi cinta dan adab, seolah-olah kita merasakan keagungan beliau hadir menyelimuti jiwa (Hlm. 40).<\/p>\n<p><strong>Baca juga:\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/686872\/37-surat-dalam-juz-amma-dengan-bahasa-arab-latin-dan-terjemahan\">37 Surat Juz Amma Juz 30 dengan Bahasa Arab, Latin, Terjemahan<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Maulid bukan Kartu Bebas Maksiat<\/h2>\n<p>Label Maulid\u00a0tidak otomatis menghalalkan segala isi acaranya. Abuya menjelaskan bahwa jika dalam acara tersebut terdapat kemungkaran&#8211;seperti campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram atau pelanggaran syariat lain&#8211;hal itu tetap haram.<\/p>\n<p>Pertanyaan kritisnya bukan lagi <em>&#8220;Ini acara Maulid atau bukan?&#8221;<\/em>\u00a0melainkan <em>&#8220;Apa saja yang dilakukan di dalamnya?&#8221;<\/em> (Hlm. 31).<\/p>\n<h2>Kesimpulan: Mencintai dengan Ilmu<\/h2>\n<p>Peringatan Maulid adalah sarana, bukan tujuan akhir. Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menekankan bahwa pertemuan-pertemuan ini adalah sarana mulia menuju tujuan yang mulia.<\/p>\n<p>Pertanyaan paling produktif pasca-Maulid ialah,\u00a0<strong>&#8220;Apakah setelah duduk mengingat Sang Nabi, kita menjadi lebih meniru dan meneladani akhlak beliau?&#8221;<\/strong> (Hlm. 15). (I-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/924675\/bedah-kitab-hawlal-ihtifal-mengapa-ulama-membolehkan-maulid-nabi\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(Magnific) PERDEBATAN\u00a0mengenai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sering kali berputar pada satu pertanyaan klasik,\u00a0&#8220;Jika Nabi tidak pernah melakukannya, mengapa sebagian ulama tetap membolehkannya?&#8221;\u00a0Pertanyaan ini dijawab secara mendalam oleh Prof. Dr. Abuya as-Sayyid Muhammad &#8216;Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya yang fenomenal, Hawlal Ihtif\u0101l bi Dhikri al-Mawlid al-Nabaw\u012b al-Shar\u012bf. Kitab ini tidak sekadar membela tradisi, tetapi membedah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":91463,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-91462","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91462","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91462"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91462\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91463"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91462"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91462"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91462"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}