{"id":91006,"date":"2026-08-21T12:23:48","date_gmt":"2026-08-21T05:23:48","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/21\/dari-sampah-jadi-pakan-teknologi-maggot-dorong-sekolah-terapkan-ekonomi-sirkular\/"},"modified":"2026-08-21T12:23:48","modified_gmt":"2026-08-21T05:23:48","slug":"dari-sampah-jadi-pakan-teknologi-maggot-dorong-sekolah-terapkan-ekonomi-sirkular","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/21\/dari-sampah-jadi-pakan-teknologi-maggot-dorong-sekolah-terapkan-ekonomi-sirkular\/","title":{"rendered":"Dari Sampah Jadi Pakan, Teknologi Maggot Dorong Sekolah Terapkan Ekonomi Sirkular"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/21\/1787288495_b7c03ca7542bbc355ae2.jpeg\" alt=\"Dari Sampah Jadi Pakan, Teknologi Maggot Dorong Sekolah Terapkan Ekonomi Sirkular\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PERSOALAN limbah makanan yang terus meningkat menjadi salah satu tantangan lingkungan yang membutuhkan penanganan dari hulu. Di tengah besarnya volume sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), lingkungan pendidikan mulai didorong menjadi bagian dari solusi melalui penerapan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ekonomi-sirkular\" title=\"ekonomi sirkular\">ekonomi sirkular<\/a> dan teknologi hijau.<br \/>&#13;<br \/>\nUpaya tersebut dilakukan melalui program pendampingan pengelolaan sampah organik terintegrasi menggunakan teknologi biokonversi larva black soldier fly (BSF) atau maggot di MTsN 41 Al Azhar Asy Syarif Indonesia, Jakarta Selatan.<\/p>\n<p>Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didukung Hibah Kemitraan Masyarakat Kemendikti Saintek itu melibatkan tim dosen dan akademisi lintas disiplin dari Universitas Pancasila. Program difokuskan pada penanganan sampah dapur harian di lingkungan sekolah berbasis asrama.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Dengan total 628 siswa, terdiri atas 193 siswa asrama dan 435 siswa reguler, aktivitas makan siang serta dapur asrama menghasilkan sekitar 40 kilogram sampah organik setiap hari.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/923977\/pengabdian-masyarakat-untidar-budi-daya-maggot-di-desa-ngargogondo-magelang\" title=\"Pengabdian Masyarakat Untidar: Budi Daya Maggot di Desa Ngargogondo Magelang\" target=\"_blank\">Pengabdian Masyarakat Untidar: Budi Daya Maggot di Desa Ngargogondo Magelang<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Melalui penerapan teknologi biokonversi, sampah organik itu tidak lagi hanya menjadi limbah yang dibuang, tetapi diolah menjadi media tumbuh larva maggot BSF.<\/p>\n<p>Hasil budidaya maggot yang kaya protein dan nutrisi lalu dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif untuk mendukung budidaya ikan hias, ikan nila, serta unggas seperti ayam dan burung di lingkungan sekolah.<br \/>&#13;<br \/>\nPendekatan ini menunjukkan bagaimana persoalan sampah dapat diubah menjadi sumber daya baru yang memiliki nilai ekonomi dan edukatif.<br \/>&#13;<br \/>\nSelain menjadi solusi pengelolaan limbah, proses budidaya maggot juga dikembangkan sebagai sarana pembelajaran dan riset sains terapan bagi siswa dan guru.<\/p>\n<p>Proses biokonversi BSF dimanfaatkan sebagai laboratorium hidup yang memungkinkan siswa melakukan eksplorasi penelitian, baik dalam bidang ilmu pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan sosial.<br \/>&#13;<br \/>\nDengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi aktivitas kebersihan, tetapi juga bagian dari proses pendidikan yang mendorong generasi muda memahami persoalan lingkungan, teknologi, serta prinsip ekonomi sirkular.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/922263\/ketika-sungai-mengajarkan-arti-kemerdekaan\" title=\"Ketika Sungai Mengajarkan Arti Kemerdekaan\" target=\"_blank\">Ketika Sungai Mengajarkan Arti Kemerdekaan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Program ini sekaligus memperkuat berbagai inisiatif lingkungan yang telah dijalankan MTsN 41 Al Azhar Asy Syarif sebagai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sekolah-adiwiyata\" title=\"Sekolah Adiwiyata\">Sekolah Adiwiyata<\/a>.<br \/>&#13;<br \/>\nSebelumnya, sekolah mengembangkan sejumlah program kepedulian lingkungan, mulai dari pengumpulan minyak jelantah, bank sampah, biopori, komposter, tanaman hidroponik, hingga Taman Obat Keluarga atau Toga.<\/p>\n<p>Integrasi program pengabdian masyarakat dan riset yang melibatkan dosen Fakultas Farmasi dan Fakultas Teknik Universitas Pancasila ini diharapkan bisa memperluas model pengelolaan lingkungan berbasis sekolah.<\/p>\n<p>Melalui konsep zero waste dan ekonomi sirkular, sampah organik diolah kembali jadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan, sementara guru dan siswa memperoleh pengalaman langsung dalam penerapan teknologi hijau.<br \/>&#13;<br \/>\nWakil Keasramaan MTsN 41 Al Azhar Asy Syarif Indonesia Rahmadin menegaskan kesiapan pihaknya untuk menggerakkan siswa asrama dalam menjalankan pengolahan maggot BSF secara teratur.<br \/>&#13;<br \/>\nKepala Madrasah Faizah menilai program itu menjadi langkah strategis untuk membuka peluang pengembangan ekonomi sirkular berbasis pengelolaan limbah di lingkungan sekolah.<\/p>\n<p>Sementara Wakil Kesiswaan Sri Suyamti berharap integrasi budidaya maggot dapat memperkaya aktivitas siswa sekaligus memperkuat upaya sekolah dalam mendukung predikat Sekolah Adiwiyata.\u00a0<\/p>\n<p>Ketua tim pengusul dari Universitas Pancasila Diah Kartika Pratami menyatakan pihaknya siap melanjutkan pendampingan guna memperkuat tata kelola lingkungan dan pengembangan riset secara berkelanjutan.<br \/>&#13;<br \/>\nModel seperti ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan nasional dalam pengurangan sampah, terutama sampah makanan dan sampah organik yang dihasilkan setiap hari dari rumah tangga, kawasan komersial, hingga institusi pendidikan.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan menjadikan sekolah sebagai ruang praktik ekonomi sirkular, sampah tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan akhir yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai guna,&#8221; papar Diah.<\/p>\n<p>Ia menambahkan pengembangan teknologi biokonversi BSF di lingkungan pendidikan pun membuka peluang lahirnya model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain.<br \/>&#13;<br \/>\n&#8220;Pengurangan beban TPA dapat dimulai dari langkah sederhana yaitu mengolah limbah sejak dari sumbernya, melibatkan masyarakat, serta menghubungkan solusi lingkungan dengan pendidikan dan ekonomi sirkular,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/924356\/dari-sampah-jadi-pakan-teknologi-maggot-dorong-sekolah-terapkan-ekonomi-sirkular\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Istimewa) PERSOALAN limbah makanan yang terus meningkat menjadi salah satu tantangan lingkungan yang membutuhkan penanganan dari hulu. Di tengah besarnya volume sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), lingkungan pendidikan mulai didorong menjadi bagian dari solusi melalui penerapan ekonomi sirkular dan teknologi hijau.&#13; Upaya tersebut dilakukan melalui program pendampingan pengelolaan sampah organik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":91007,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-91006","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91006","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91006"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91006\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91007"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91006"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91006"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91006"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}