{"id":89795,"date":"2026-08-19T03:52:42","date_gmt":"2026-08-18T20:52:42","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/19\/apakah-menginjak-najis-membatalkan-wudhu-ini-penjelasan-mazhab-syafii\/"},"modified":"2026-08-19T03:52:42","modified_gmt":"2026-08-18T20:52:42","slug":"apakah-menginjak-najis-membatalkan-wudhu-ini-penjelasan-mazhab-syafii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/19\/apakah-menginjak-najis-membatalkan-wudhu-ini-penjelasan-mazhab-syafii\/","title":{"rendered":"Apakah Menginjak Najis Membatalkan Wudhu Ini Penjelasan Mazhab Syafii"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/18\/1787063378_11b8dabd115e630735a7.jpg\" alt=\"Apakah Menginjak Najis Membatalkan Wudhu? Ini Penjelasan Mazhab Syafii\"\/><figcaption>Ilustrasi.(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DALAM\u00a0diskursus keislaman, sering kali muncul perdebatan mengenai hal-hal yang membatalkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/wudhu\" title=\"wudhu\">wudhu<\/a>. Salah satu isu yang belakangan mencuat adalah klaim bahwa menginjak najis, seperti kotoran anjing, dapat membatalkan wudhu seseorang. Namun, benarkah demikian menurut pandangan para ulama salaf dan mazhab fikih yang otoritatif?<\/p>\n<p>Penting bagi umat Islam untuk membedakan antara hadas\u00a0dan najis. Ketidakpahaman dalam membedakan keduanya sering kali berujung pada fatwa yang keliru dan memberatkan umat. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai perkara apa saja yang sebenarnya membatalkan wudhu dan bagaimana kedudukan najis dalam hukum bersuci (thaharah).<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h2>Perbedaan Mendasar Hadas dan Najis<\/h2>\n<p>&#8220;Dalam ilmu fikih, terdapat perbedaan fundamental antara hadas dan najis. Hadas adalah keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang menyebabkan ia terhalang untuk melaksanakan ibadah tertentu seperti salat. Hadas hanya bisa dihilangkan dengan wudu (hadas kecil) atau mandi wajib (hadas besar),&#8221; ujar Ustaz Abdurrachman Asy-Syafii dalam akunnya di Youtube.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/916198\/syarat-dan-batasan-batal-wudu-dalam-menyentuh-kemaluan\" target=\"_blank\" title=\"Syarat dan Batasan Batal Wudu dalam Menyentuh Kemaluan\">Syarat dan Batasan Batal Wudu dalam Menyentuh Kemaluan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Sementara itu, najis adalah benda atau kotoran yang menghalangi sahnya salat, seperti kotoran hewan, darah, atau air kencing. Cara menyucikannya bukan dengan berwudu kembali, melainkan dengan membersihkan atau mencuci bagian tubuh, pakaian, atau tempat yang terkena najis tersebut hingga hilang zat, warna, dan baunya.<\/p>\n<p><strong>Poin Penting:<\/strong> Menginjak najis tidak sama dengan berhadas. Jika seseorang sudah memiliki wudhu lalu menginjak kotoran anjing, wudunya tetap sah, tetapi ia wajib mencuci kakinya sebelum melaksanakan salat.<\/p>\n<p>Merujuk pada literatur klasik Mazhab Syafi&#8217;i, yang merupakan mazhab mayoritas di Indonesia, Imam Syafi&#8217;i merumuskan bahwa perkara yang membatalkan wudhu hanya terbatas pada empat hal. Tidak ada satu pun di antaranya yang menyebutkan bahwa terkena najis dari luar tubuh dapat membatalkan wudhu.<\/p>\n<p>Berikut empat perkara pembatal wudu menurut Mazhab Syafi&#8217;i:<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/915318\/hukum-hilang-akal-dan-tidur-yang-membatalkan-wudhu\" target=\"_blank\" title=\"Hukum Hilang Akal dan Tidur yang Membatalkan Wudhu\">Hukum Hilang Akal dan Tidur yang Membatalkan Wudhu<\/a><\/strong><\/p>\n<ol>&#13;<\/p>\n<li><strong>Keluarnya sesuatu dari dua jalan:<\/strong> Segala sesuatu yang keluar dari qubul (kemaluan depan) maupun dubur (kemaluan belakang), baik berupa gas (kentut), cair, maupun benda padat, kecuali air mani.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Hilangnya akal:<\/strong> Baik karena tidur, pingsan, mabuk, atau gila. Dikecualikan tidur dalam posisi duduk yang mantap (tidak berubah posisi pantatnya dari tempat duduk).<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan:<\/strong> Persentuhan kulit secara langsung tanpa penghalang antara laki-laki dan perempuan yang keduanya sudah dewasa (ajnabi\/bukan mahram).<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Menyentuh kemaluan:<\/strong> Menyentuh kemaluan manusia atau lingkaran dubur dengan menggunakan bagian dalam telapak tangan atau bagian dalam jari-jari.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ol>\n<p>Para ulama salaf, termasuk imam empat mazhab, bersepakat bahwa terkena najis di luar anggota tubuh (seperti menginjak kotoran) bukanlah faktor pembatal wudhu. Menyatakan bahwa menginjak kotoran anjing membatalkan wudhu dianggap sebagai kekeliruan dalam memahami bab thaharah.\u00a0<\/p>\n<h2>Dampak Salah Paham dalam Fikih<\/h2>\n<p>Kesalahan dalam memahami pembatal wudu ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan menyangkut kemudahan dalam beragama. Jika setiap kali terkena najis seseorang diwajibkan berwudhu kembali, maka hal ini akan menimbulkan <em>masyaqqah<\/em> (kesulitan) yang tidak diperintahkan oleh syariat.<\/p>\n<p>Islam adalah agama yang memudahkan. Jika kaki terkena kotoran ayam, kambing, atau bahkan anjing sekalipun, kewajiban seorang muslim hanyalah membersihkan najis tersebut sesuai dengan tingkatannya (mukhaffafah, mutawassitah, atau mugallazah) tanpa perlu mengulangi proses wudu dari awal.<\/p>\n<h2>Apa yang Harus Dilakukan Jika Terkena Najis?<\/h2>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #eeeeee;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Kondisi<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Tindakan<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px; text-align: left;\">Status Wudu<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Menginjak kotoran ayam\/kambing<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Cuci dengan air hingga bersih<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Tetap Sah<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Menginjak kotoran anjing<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Basuh 7 kali (salah satunya dengan tanah)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Tetap Sah<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Terkena percikan air kencing<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Bilas bagian yang terkena<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #dddddd; padding: 8px;\">Tetap Sah<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h2>FAQ: Pertanyaan Sering Diajukan<\/h2>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Apakah menyentuh anjing membatalkan wudu?<\/strong> Tidak. Menyentuh anjing hanya menyebabkan seseorang terkena najis mugallazah yang harus disucikan, namun tidak membatalkan wudu.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Bagaimana jika saya salat tapi ternyata ada najis di kaki?<\/strong> Jika baru diketahui setelah salat selesai, menurut mayoritas ulama salatnya harus diulang karena suci dari najis adalah syarat sah salat. Namun wudunya sendiri tidak batal.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Apakah darah yang keluar dari luka membatalkan wudu?<\/strong> Dalam Mazhab Syafi&#8217;i, darah yang keluar dari selain dua jalan (kubul\/dubur) tidak membatalkan wudu, meskipun darah itu sendiri adalah najis.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Mengapa ada ustaz yang bilang batal?<\/strong> Kemungkinan terjadi kerancuan antara syarat sah salat (suci dari najis) dengan pembatal wudu. Seseorang tidak boleh salat dalam keadaan terkena najis, tapi bukan berarti wudunya hilang.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Apa bedanya kentut dengan menginjak kotoran?<\/strong> Kentut adalah hadas (keluar dari dalam tubuh melalui jalan belakang), sehingga membatalkan wudu. Menginjak kotoran adalah terkena najis dari luar, sehingga cukup dicuci saja.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Sebagai penutup, penting bagi kita untuk terus belajar fikih dari sumber-sumber yang otoritatif dan tidak mudah terpengaruh oleh klaim-klaim yang tidak sejalan dengan konsensus para ulama salafus shalih. Memahami perbedaan antara hadas dan najis adalah dasar utama dalam menjaga keabsahan ibadah kita sehari-hari. (I-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/923267\/apakah-menginjak-najis-membatalkan-wudhu-ini-penjelasan-mazhab-syafii\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(Magnific) DALAM\u00a0diskursus keislaman, sering kali muncul perdebatan mengenai hal-hal yang membatalkan wudhu. Salah satu isu yang belakangan mencuat adalah klaim bahwa menginjak najis, seperti kotoran anjing, dapat membatalkan wudhu seseorang. Namun, benarkah demikian menurut pandangan para ulama salaf dan mazhab fikih yang otoritatif? Penting bagi umat Islam untuk membedakan antara hadas\u00a0dan najis. Ketidakpahaman dalam membedakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":89796,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-89795","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89795","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89795"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89795\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89796"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89795"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89795"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89795"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}