{"id":89593,"date":"2026-08-18T19:12:10","date_gmt":"2026-08-18T12:12:10","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/18\/stunting-kubu-raya-302-persen-pencegahan-diperkuat\/"},"modified":"2026-08-18T19:12:10","modified_gmt":"2026-08-18T12:12:10","slug":"stunting-kubu-raya-302-persen-pencegahan-diperkuat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/18\/stunting-kubu-raya-302-persen-pencegahan-diperkuat\/","title":{"rendered":"Stunting Kubu Raya 30,2 Persen, Pencegahan Diperkuat"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/18\/1787054902_873195e0613df9345296.jpeg\" alt=\"Stunting Kubu Raya 30,2 Persen, Pencegahan Diperkuat\"\/><figcaption>Prevalensi stunting di Kubu Raya mencapai 30,2%.(Dok. MI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PREVELENSI stunting\u00a0pada balita di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, masih mencapai\u00a030,2%, lebih tinggi dibandingkan angka Kalimantan Barat sebesar\u00a026,8% dan rata-rata nasional\u00a019,8% berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah desa di Kubu Raya mulai mengembangkan model pencegahan berbasis masyarakat, mulai dari pendampingan keluarga berisiko, pemanfaatan pangan lokal, hingga pelibatan remaja yang diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Bupati Kubu Raya H. Sujiwo, mengatakan penguatan intervensi hingga tingkat desa menjadi penting agar praktik yang terbukti efektif tidak berhenti pada satu wilayah, tetapi dapat diperluas ke desa-desa lainnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/639674\/kunjungi-rumah-ke-rumah-begini-yang-dilakukan-vera-cegah-stunting\" title=\"Kunjungi Rumah ke Rumah, Begini yang Dilakukan Vera Cegah Stunting\" target=\"_blank\">Kunjungi Rumah ke Rumah, Begini yang Dilakukan Vera Cegah Stunting<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKami harap dampak yang dihasilkan oleh <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/program-pasti\" title=\"Program PASTI\">Program PASTI<\/a> nantinya dapat kami replikasi di wilayah-wilayah lain, sehingga dapat semakin menurunkan angka stunting di seluruh Kabupaten Kubu Raya,\u201d ujar Sujiwo di Kubu Raya.<\/p>\n<p>Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah pembentukan\u00a0empat desa model\u00a0yang menggabungkan edukasi gizi, pendampingan keluarga berisiko\u00a0stunting, penguatan kader, keterlibatan remaja, serta pemanfaatan sumber pangan yang tersedia di desa.<\/p>\n<p>Di tingkat keluarga, intervensi dilakukan antara lain melalui\u00a0Pos Gizi DASHAT (PGD) di 20 desa dan kelurahan. Program tersebut menyasar bayi di bawah dua tahun dan ibu hamil berisiko melalui pemberian makanan bergizi, edukasi pola asuh, serta pemanfaatan bahan pangan lokal.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/594670\/harganas-ke-30tanoto-foundation-raih-penghargaan-bkkbn\" title=\"Harganas Ke-30,\u00a0Tanoto Foundation Raih Penghargaan BKKBN\" target=\"_blank\">Harganas Ke-30,\u00a0Tanoto Foundation Raih Penghargaan BKKBN<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Pada semester I 2026, Pos Gizi DASHAT telah melibatkan\u00a0290 baduta\u00a0serta\u00a0159 ibu hamil berisiko Kurang Energi Kronis (KEK) maupun ibu hamil KEK.<\/p>\n<p>Salah satu peserta Pos Gizi DASHAT di Kubu Raya,\u00a0Susanti (24), mengatakan perubahan pola pemberian makan yang dipelajarinya selama mengikuti kegiatan berdampak pada pertumbuhan anaknya.<\/p>\n<p>\u201cSaya senang sekali ikut PGD. Setelah mengikuti kegiatan ini, berat anak saya naik hingga 800 gram. Sebelumnya, berat anak saya sulit naik karena nafsu makannya kurang. Setelah ikut PGD dan belajar berbagai menu, saya mencoba mempraktikkannya di rumah dan ternyata anak saya suka. Sekarang nafsu makan anak saya meningkat,\u201d kata Susanti.<\/p>\n<p>Selain pendampingan langsung kepada keluarga, penguatan dilakukan terhadap\u00a0Tim Pendamping Keluarga (TPK). Sebanyak\u00a067 kader TPK dilatih pada 2025, kemudian\u00a052 kader mengikuti penyegaran pada semester I 2026. Mereka bertugas melanjutkan pendampingan serta pemantauan terhadap keluarga yang memiliki risiko\u00a0stunting.<\/p>\n<p>Pendekatan tersebut merupakan bagian dari Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia), kemitraan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga\/<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bkkbn\" title=\"BKKBN\">BKKBN<\/a> bersama <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tanoto-foundation\" title=\"Tanoto Foundation\">Tanoto Foundation<\/a>, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA, yang diimplementasikan Wahana Visi Indonesia.<\/p>\n<p>Berdasarkan monitoring program sepanjang 2025 hingga semester I 2026, sebanyak\u00a01.188 orang tua baduta dan ibu hamil\u00a0di Kubu Raya telah mengikuti komunikasi, informasi, dan edukasi bagi keluarga berisiko\u00a0stunting\u00a0serta keluarga dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dari jumlah tersebut,\u00a01.137 orang atau 95,7 persen\u00a0tercatat memiliki pemahaman yang baik mengenai\u00a0stunting.<\/p>\n<p>Head of Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation, Michael Susanto, menilai pencegahan sejak periode 1.000 HPK menjadi krusial karena periode tersebut menentukan perkembangan anak dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>\u201cMasa depan seorang anak ditentukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), ketika otak membentuk lebih dari satu juta koneksi saraf setiap detik sebagai fondasi kemampuan belajar, kesehatan, dan produktivitasnya. Karena itu, stunting harus dicegah sedini mungkin,\u201d kata Michael.<\/p>\n<p>Ia mengatakan keberhasilan empat desa model di Kubu Raya diharapkan dapat membuka peluang replikasi pendekatan serupa ke daerah lain.<\/p>\n<p>\u201cJika empat desa model di Kubu Raya berhasil, kami optimistis praktik baik ini dapat direplikasi, tidak hanya di 27 desa model Program PASTI, tetapi juga di lebih banyak desa di seluruh Indonesia,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Upaya pencegahan juga diperluas kepada kelompok remaja. Sebanyak\u00a033 Duta Generasi Berencana (GenRe)\u00a0tingkat desa dan kecamatan mendapat edukasi mengenai gizi dan pencegahan anemia untuk menjalankan peran sebagai\u00a0peer educator. Kampanye yang mereka lakukan kemudian menjangkau\u00a0460 remaja berusia 15-19 tahun.<\/p>\n<p>Direktur Bina Lini Lapangan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Nurizky Permanajati, mengatakan keterlibatan generasi muda penting karena pencegahan\u00a0stunting\u00a0perlu dilakukan bahkan sebelum seseorang memasuki fase menjadi orang tua.<\/p>\n<p>\u201cPara anak muda inilah yang nantinya menjadi calon orang tua bagi anak-anak, dan keterlibatan mereka memastikan risiko stunting tidak diturunkan ke generasi selanjutnya,\u201d ujar Nurizky.<\/p>\n<p>Menurut dia, kementerian juga membuka dukungan akses data untuk memperluas replikasi program ke daerah lain.<\/p>\n<p>Di tingkat desa, pendekatan pencegahan juga mulai diarahkan pada persoalan\u00a0akses terhadap sumber pangan bergizi. Salah satunya dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan untuk kebun gizi serta budidaya ayam petelur.<\/p>\n<p>Kebun tersebut menghasilkan sejumlah bahan pangan seperti terong, kangkung, kacang panjang, bayam, gambas, dan cabai. Sementara budidaya ayam petelur menghasilkan rata-rata\u00a017-20 butir telur per hari\u00a0yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan keluarga.<\/p>\n<p>Program Manager PASTI Hotmianida Panjaitan\u00a0mengatakan persoalan\u00a0stunting\u00a0tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah di dalam keluarga karena dipengaruhi pula oleh kondisi di sekitar keluarga.<\/p>\n<p>\u201cPengentasan stunting bukan sekadar permasalahan internal keluarga. Selain latar belakang ekonomi dan edukasi, faktor-faktor eksternal turut menjadi penyebab masalah kegagalan tumbuh kembang anak ini. Dua di antaranya adalah akses ke bahan pangan bergizi dan isu pernikahan anak,\u201d kata Hotmianida.<\/p>\n<p>Penguatan pencegahan berbasis desa juga mencakup tata kelola data. Pada 2025, sebanyak\u00a046 perwakilan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) desa\/kelurahan\u00a0dan\u00a0empat perwakilan TPPS kecamatan\u00a0mengikuti penguatan kapasitas pemanfaatan data untuk mendukung intervensi di wilayah masing-masing.<\/p>\n<p>Model intervensi di Kubu Raya kini menjadi salah satu upaya untuk menguji bagaimana pencegahan\u00a0stunting\u00a0dapat dijalankan dari tingkat keluarga dan desa dengan menggabungkan pendampingan, perubahan perilaku, ketersediaan pangan bergizi, keterlibatan remaja, serta penguatan tata kelola.<\/p>\n<p>Dengan prevalensi\u00a0stunting\u00a0Kubu Raya yang masih berada di atas angka provinsi maupun nasional, keberhasilan pendekatan di desa-desa model akan menjadi salah satu indikator penting apakah pola pencegahan berbasis masyarakat tersebut dapat diperluas ke wilayah lain. (Z-10)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/923196\/stunting-kubu-raya-302-persen-pencegahan-diperkuat\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prevalensi stunting di Kubu Raya mencapai 30,2%.(Dok. MI) PREVELENSI stunting\u00a0pada balita di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, masih mencapai\u00a030,2%, lebih tinggi dibandingkan angka Kalimantan Barat sebesar\u00a026,8% dan rata-rata nasional\u00a019,8% berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah desa di Kubu Raya mulai mengembangkan model pencegahan berbasis masyarakat, mulai dari pendampingan keluarga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":89594,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-89593","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89593","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89593"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89593\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89594"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89593"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89593"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89593"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}