{"id":89327,"date":"2026-08-18T07:44:36","date_gmt":"2026-08-18T00:44:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/18\/ancaman-erosi-genetik-dan-penyusutan-habitat-ayam-hutan-indonesia\/"},"modified":"2026-08-18T07:44:36","modified_gmt":"2026-08-18T00:44:36","slug":"ancaman-erosi-genetik-dan-penyusutan-habitat-ayam-hutan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/18\/ancaman-erosi-genetik-dan-penyusutan-habitat-ayam-hutan-indonesia\/","title":{"rendered":"Ancaman Erosi Genetik dan Penyusutan Habitat Ayam Hutan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/18\/1787013399_58bec29ca8a7ac1c2637.jpg\" alt=\"Ancaman Erosi Genetik dan Penyusutan Habitat Ayam Hutan Indonesia\"\/><figcaption>Ayam Hutan(baliwildlife.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KEBERADAAN <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ayam\" title=\"ayam\">ayam<\/a> hutan asli Indonesia kini tengah menghadapi tekanan berat dari berbagai sisi. Mulai dari penyusutan habitat akibat alih fungsi lahan, maraknya perburuan liar, hingga ancaman persilangan dengan jenis ayam lain yang berisiko menghilangkan kemurnian genetiknya.<\/p>\n<p>Dosen sekaligus Ketua Departemen <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/konservasi\" title=\"konservasi\">Konservasi<\/a> Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) IPB University, Dr. Nyoto Santoso, mengungkapkan bahwa populasi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ayam-hutan\" title=\"ayam hutan\">ayam hutan<\/a> secara umum terus mengalami penurunan. Faktor utamanya adalah ruang hidup yang semakin terjepit.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Perubahan kawasan hutan menjadi perkebunan, pertanian, pertambangan, maupun penggunaan lainnya memberikan tekanan terhadap ruang hidup ayam hutan,&#8221; ujar Nyoto dalam keterangannya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/900426\/krisis-iklim-perlu-pendekatan-komprehensif-untuk-konservasi-biodiversitas\" title=\"Krisis Iklim, Perlu Pendekatan Komprehensif untuk Konservasi Biodiversitas\" target=\"_blank\">Krisis Iklim, Perlu Pendekatan Komprehensif untuk Konservasi Biodiversitas<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Meski habitatnya menyempit, ayam hutan sebenarnya memiliki daya adaptasi yang cukup baik terhadap aktivitas manusia. Selama tersedia ruang terbuka atau area berhutan di kawasan perkebunan, satwa ini masih bisa bertahan hidup.<\/p>\n<p>Menurut Nyoto, ketersediaan pakan alami seperti serangga dan biji-bijian di area perkebunan, termasuk sawit, memungkinkan mereka untuk tetap berkembang biak asalkan tidak diganggu oleh manusia.<\/p>\n<h3>Ancaman Perburuan dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/erosi-genetik\" title=\"erosi genetik\">Erosi Genetik<\/a><\/h3>\n<p>Namun, ancaman yang jauh lebih serius justru datang dari aktivitas perburuan. Karakteristik ayam hutan jantan yang sangat responsif terhadap suara kokok sesamanya sering dimanfaatkan pemburu untuk memancing dan menangkap mereka. Tingginya permintaan dari para penghobi satwa turut memperparah kondisi ini.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/921998\/ekowisata-harus-berkontribusi-bagi-konservasi-lingkungan-bali\" title=\"Ekowisata Harus Berkontribusi bagi Konservasi Lingkungan Bali\" target=\"_blank\">Ekowisata Harus Berkontribusi bagi Konservasi Lingkungan Bali<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menariknya, ayam hutan ditangkap bukan untuk dikonsumsi, melainkan dijadikan satwa peliharaan atau indukan persilangan. Banyak penghobi menyilangkan ayam hutan dengan ayam kampung untuk menghasilkan ayam bekisar, atau menyilangkannya dengan ayam kate dan ayam ketawa.<\/p>\n<p>&#8220;Jika berlangsung tanpa pengendalian, kondisi ini dapat menyebabkan erosi genetik dan membuat kemurnian ayam hutan asli semakin sulit dipertahankan,&#8221; tegas Nyoto.<\/p>\n<h3>Mengenal Jenis Ayam Hutan Indonesia<\/h3>\n<p>Indonesia merupakan rumah bagi dua jenis ayam hutan asli yang memiliki sebaran wilayah berbeda. Berikut adalah data persebaran ayam hutan di Indonesia:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0; border: 1px solid #ddd;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Jenis Ayam Hutan<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Nama Ilmiah<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Wilayah Sebaran<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Ayam Hutan Merah<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\"><i>Gallus gallus<\/i><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Ayam Hutan Hijau<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\"><i>Gallus varius<\/i><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Jawa, Bali, NTB, NTT<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Solusi Konservasi dan Penangkaran<\/h3>\n<p>Untuk menjaga kelestarian galur murni, Nyoto menekankan pentingnya langkah konservasi yang terintegrasi. Penangkaran resmi menjadi salah satu solusi kunci, namun harus dilakukan dengan pengawasan ketat terhadap asal-usul genetik induknya.<\/p>\n<p>Ia mendorong pemerintah melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) untuk memfasilitasi penangkaran berizin. Selain itu, peran perguruan tinggi sangat krusial dalam melakukan penelitian terkait perilaku, adaptasi, dan teknik pembiakan di dalam kandang.<\/p>\n<p>&#8220;Hasil penangkaran juga dapat diarahkan untuk meningkatkan populasi dan mendukung pelepasliaran kembali ke alam,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Upaya penyelamatan ini pada akhirnya memerlukan sinergi antara perlindungan habitat, pengendalian perburuan, dan penjagaan kemurnian genetik secara kolektif. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/922910\/ancaman-erosi-genetik-dan-penyusutan-habitat-ayam-hutan-indonesia\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ayam Hutan(baliwildlife.com) KEBERADAAN ayam hutan asli Indonesia kini tengah menghadapi tekanan berat dari berbagai sisi. Mulai dari penyusutan habitat akibat alih fungsi lahan, maraknya perburuan liar, hingga ancaman persilangan dengan jenis ayam lain yang berisiko menghilangkan kemurnian genetiknya. Dosen sekaligus Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) IPB University, Dr. Nyoto Santoso, mengungkapkan bahwa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":89328,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-89327","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89327","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89327"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89327\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89328"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89327"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89327"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89327"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}