{"id":89307,"date":"2026-08-18T06:26:37","date_gmt":"2026-08-17T23:26:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/18\/ruang-damai-bahas-makna-merdeka-dalam-keberagaman\/"},"modified":"2026-08-18T06:26:37","modified_gmt":"2026-08-17T23:26:37","slug":"ruang-damai-bahas-makna-merdeka-dalam-keberagaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/18\/ruang-damai-bahas-makna-merdeka-dalam-keberagaman\/","title":{"rendered":"Ruang Damai Bahas Makna Merdeka dalam Keberagaman"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/18\/1787008624_8ff0d584288ba1353097.jpeg\" alt=\"Ruang Damai Bahas Makna Merdeka dalam Keberagaman\"\/><figcaption>Bincang Damai\u00a0bertajuk &#8216;Menjadi Indonesia: Merdeka, Berbeda dan Tetap Bersama&#8217;\u00a0secara daring pada Senin (17\/8).(Dok.HO)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>RUANG Damai menggelar Bincang Damai\u00a0bertajuk &#8216;Menjadi Indonesia: Merdeka, Berbeda dan Tetap Bersama&#8217;\u00a0secara daring. Diskusi multidimensional ini menjadi perayaan HUT ke-81 RI sekaligus menandai perayaan lima tahun kiprah Ruang Damai dalam lanskap advokasi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/toleransi\" title=\"toleransi\">toleransi<\/a> dan perdamaian di Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kemerdekaan\" title=\"kemerdekaan\">Kemerdekaan<\/a> sejati di era modern adalah ketika perbedaan identitas tidak lagi dijadikan komoditas digital untuk memecah belah, melainkan sebagai algoritma sosial yang memperkaya inovasi bangsa. Kita harus bertransformasi dari sekadar merawat slogan &#8216;Bhinneka Tunggal Ika&#8217; menjadi penggerak modal sosial aktif (active social capital) guna merespons krisis iklim global hingga transformasi ekonomi digital,&#8221; ujar Direktur Eksekutif Ruang Damai Zainal Abidin (17\/8).<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Zainal juga menekankan perlunya inklusivitas digital bagi komunitas adat dan penyandang disabilitas agar integrasi teknologi tidak menggerus identitas kultural lokal.\u00a0Ia juga memperkenalkan gagasan progresif mengenai pentingnya kemerdekaan kognitif\u00a0<em>(cognitive freedom)<\/em> bagi warga negara di era <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kecerdasan-artifisial\" title=\"kecerdasan artifisial\">kecerdasan artifisial<\/a> (AI). Zainal menegaskan bahwa musuh kedaulatan modern bukan lagi kolonialisme fisik, melainkan jeratan algoritma media sosial yang melanggengkan ruang gema <em>(echo chamber)<\/em> dan memperuncing polarisasi sosial.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/922717\/artha-graha-peduli-teguhkan-semangat-kemerdekaan-melalui-kepedulian-untuk-indonesia-berdaulat-adil-dan-makmur\" title=\"Artha Graha Peduli Teguhkan Semangat Kemerdekaan melalui Kepedulian untuk Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur\" target=\"_blank\">Artha Graha Peduli Teguhkan Semangat Kemerdekaan melalui Kepedulian untuk Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur<\/a><\/strong><\/p>\n<h2><strong>Lahirnya toleransi <\/strong><\/h2>\n<p>Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Semiarto Aji Purwanto, membedah proses historis menjadi Indonesia yang bersifat dinamis sejak Sumpah Pemuda 1928, Reformasi 1998, hingga transisi kultural di era AI. Dari kacamata antropologi, ia menekankan bahwa toleransi tidak bisa lahir dari pasifitas, melainkan dari keterlibatan aktif.<\/p>\n<p>\u201cKemerdekaan harus berarti ruang untuk menjadi diri sendiri. Tentu untuk mewujudkan toleransi dengan hadir secara penuh dalam interaksi, perjumpaan, dan kerja bersama lintas identitas,\u201d papar Ketua Umum Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmahbudhi) itu.<\/p>\n<p>Ketua Umum PP Hikmahbudhi, Agustina, menawarkan resolusi spiritualitas kontemporer dalam menavigasi derasnya arus informasi. Ia menawarkan konsep brahmavihara dari ajaran Buddha sebagai jangkar <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/moral\" title=\"moral\">moral<\/a> digital. Melalui aktualisasi nilai <em>metta <\/em>(cinta kasih), <em>karuna <\/em>(welas asih), <em>mudita <\/em>(simpati), dan <em>upekkha <\/em>(keseimbangan batin), generasi muda diharapkan mampu menyaring provokasi siber dengan kejernihan berpikir.<\/p>\n<p>Webinar itu merumuskan tesis: bahwa kemerdekaan Indonesia hari ini adalah sebuah proyek sosial yang belum selesai <em>(an ongoing project).<\/em> Ruang Damai menegaskan komitmen untuk terus memfasilitasi ruang-ruang perjumpaan inklusif demi mengubah perbedaan menjadi sebuah kerja bersama yang kolaboratif dan emansipatif. (M-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/922894\/ruang-damai-bahas-makna-merdeka-dalam-keberagaman\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bincang Damai\u00a0bertajuk &#8216;Menjadi Indonesia: Merdeka, Berbeda dan Tetap Bersama&#8217;\u00a0secara daring pada Senin (17\/8).(Dok.HO) RUANG Damai menggelar Bincang Damai\u00a0bertajuk &#8216;Menjadi Indonesia: Merdeka, Berbeda dan Tetap Bersama&#8217;\u00a0secara daring. Diskusi multidimensional ini menjadi perayaan HUT ke-81 RI sekaligus menandai perayaan lima tahun kiprah Ruang Damai dalam lanskap advokasi toleransi dan perdamaian di Indonesia. &#8220;Kemerdekaan sejati di era modern [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":89308,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-89307","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89307","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89307"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89307\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89308"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89307"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89307"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89307"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}