{"id":88916,"date":"2026-08-17T13:52:39","date_gmt":"2026-08-17T06:52:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/17\/makna-filosofis-busana-presiden-prabowo-subianto-di-hut-ke-81-ri\/"},"modified":"2026-08-17T13:52:39","modified_gmt":"2026-08-17T06:52:39","slug":"makna-filosofis-busana-presiden-prabowo-subianto-di-hut-ke-81-ri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/17\/makna-filosofis-busana-presiden-prabowo-subianto-di-hut-ke-81-ri\/","title":{"rendered":"Makna Filosofis Busana Presiden Prabowo Subianto di HUT Ke-81 RI"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/17\/1786949159_6db45d11f100be0fdc3b.png\" alt=\"Makna Filosofis Busana Presiden Prabowo Subianto di HUT Ke-81 RI\"\/><figcaption>Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) membacakan naskah Proklamasi pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17\/8\/2026).(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PENAMPILAN <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/presiden-prabowo-subianto\" title=\"Presiden Prabowo Subianto\">Presiden Prabowo Subianto<\/a> dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menarik perhatian publik dan pengamat mode. Presiden dinilai berhasil membawa identitas serta nilai budaya Indonesia yang kuat melalui perpaduan busana Melayu, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kain-songket\" title=\"Kain Songket\">kain songket<\/a>, dan ronce melati putih.<\/p>\n<p>Pengamat mode sekaligus salah satu pendiri Indonesian Fashion Chamber (IFC), Lisa Fitria, menilai pilihan busana tersebut bukan sekadar persoalan estetika, melainkan sebuah pernyataan identitas Nusantara di panggung kenegaraan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Dalam upacara tersebut, Presiden Prabowo mengenakan busana Melayu bernuansa biru tua dengan atasan berkerah tegak dan celana senada, dilengkapi peci hitam. Namun, elemen yang paling menonjol adalah penggunaan kain sampin atau songket bernuansa marun kecokelatan dengan aksen keemasan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/922569\/hut-ke-81-ri-presiden-prabowo-ajak-doakan-warga-terdampak-bencana\" title=\"HUT ke-81 RI: Presiden Prabowo Ajak Doakan Warga Terdampak Bencana\" target=\"_blank\">HUT ke-81 RI: Presiden Prabowo Ajak Doakan Warga Terdampak Bencana<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurut Lisa Fitria, penggunaan songket ini menjadi elemen krusial yang memperkuat identitas tradisional dalam penampilan kenegaraan. Secara visual, songket dengan benang emas atau tembaga memberikan kesan:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Kemuliaan dan Kehormatan:<\/strong> Kilau benang emas merepresentasikan martabat tinggi.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Kemakmuran:<\/strong> Melambangkan kekayaan sumber daya dan budaya bangsa.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Keteraturan:<\/strong> Susunan motif yang repetitif dan teratur mencerminkan keseimbangan, tata krama, serta keterikatan pada nilai adat.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Lisa mengidentifikasi bahwa karakter ragam hias pada kain tersebut sangat dekat dengan tradisi songket Melayu-Sumatra, khususnya karakter visual songket Palembang. Hal ini terlihat dari susunan motif geometris, ornamen flora, dan pola menyerupai pucuk pada bagian tepi kain.<\/p>\n<h2>Filosofi Motif dan Potongan Busana<\/h2>\n<p>Setiap detail pada busana Presiden memiliki makna filosofis yang mendalam. Lisa menjelaskan beberapa poin utama terkait motif dan potongan busana tersebut:<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/opini\/921354\/kemerdekaan-dan-paradoks-pembangunan\" title=\"Kemerdekaan dan Paradoks Pembangunan\" target=\"_blank\">Kemerdekaan dan Paradoks Pembangunan<\/a><\/strong><\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; border: 1px solid #ddd; margin-bottom: 20px;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Elemen Busana<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Makna Filosofis<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Ragam Geometris<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Keteraturan dan keseimbangan hidup.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Unsur Flora<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Kehidupan, keindahan, dan kemakmuran.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Motif Pucuk Rebung<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Pertumbuhan, harapan, dan kemajuan bangsa.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Potongan Melayu (Longgar &amp; Rapi)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Kesopanan, kerendahan hati, dan religiusitas.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>Perpaduan antara atasan berkerah tegak (baju koko) dengan elemen wastra Nusantara menunjukkan pendekatan modern gaya negarawan Indonesia. Presiden tidak menggunakan pakaian adat secara utuh, melainkan menerjemahkan elemen tradisional ke dalam konteks kepemimpinan masa kini.<\/p>\n<h2>Ronce Melati: Simbol Kesucian Niat Pemimpin<\/h2>\n<p>Selain songket, ronce atau kalung bunga melati putih yang dikenakan Presiden menjadi sorotan utama. Melati, yang dikenal sebagai &#8220;Puspa Bangsa&#8221;, memiliki kedudukan simbolis yang sangat kuat dalam kebudayaan Indonesia.<\/p>\n<p>Dalam konteks kepala negara, melati merepresentasikan:<\/p>\n<ol>&#13;<\/p>\n<li>Kesucian niat dalam memimpin.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Ketulusan dalam mengemban amanah rakyat.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Pengabdian total kepada bangsa dan negara.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ol>\n<div style=\"border: 1px solid #ccc; padding: 15px; background-color: #f9f9f9; border-left: 5px solid #007bff;\"><strong>Kutipan Penting:<\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Ketika wastra dan busana adat hadir di panggung kenegaraan, sesungguhnya kita sedang memperkenalkan wajah Indonesia kepada dunia. Fashion bukan sekadar estetika, ia membawa identitas, filosofi, sejarah, dan nilai-nilai bangsa.&#8221; \u2014 <strong>Lisa Fitria <\/strong><\/p>\n<\/div>\n<p>Lisa Fitria menekankan bahwa ronce melati tersebut bukan sekadar aksesori tambahan. &#8220;Warna putih melambangkan kesucian dan kemurnian, sementara karakter bunga melati yang sederhana tetapi harum sering dimaknai sebagai ketulusan, kehormatan, dan keikhlasan,&#8221; ujarnya. (Ant\/I-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/weekend\/922591\/makna-filosofis-busana-presiden-prabowo-subianto-di-hut-ke-81-ri\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) membacakan naskah Proklamasi pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17\/8\/2026).(Antara) PENAMPILAN Presiden Prabowo Subianto dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menarik perhatian publik dan pengamat mode. Presiden dinilai berhasil membawa identitas serta nilai budaya Indonesia yang kuat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":88917,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-88916","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88916","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88916"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88916\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/88917"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88916"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88916"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88916"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}