{"id":87868,"date":"2026-08-15T03:22:52","date_gmt":"2026-08-14T20:22:52","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/15\/olah-limbah-rumah-tangga-menjadi-pewarna-tekstil-kampus-ini-dan-kusuma-craft-di-tangsel-dorong-seni-berkelanjutan\/"},"modified":"2026-08-15T03:22:52","modified_gmt":"2026-08-14T20:22:52","slug":"olah-limbah-rumah-tangga-menjadi-pewarna-tekstil-kampus-ini-dan-kusuma-craft-di-tangsel-dorong-seni-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/15\/olah-limbah-rumah-tangga-menjadi-pewarna-tekstil-kampus-ini-dan-kusuma-craft-di-tangsel-dorong-seni-berkelanjutan\/","title":{"rendered":"Olah Limbah Rumah Tangga Menjadi Pewarna Tekstil, Kampus ini dan Kusuma Craft di Tangsel Dorong Seni Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/14\/1786709484_b43e385a91a70566139b.jpeg\" alt=\"Olah Limbah Rumah Tangga Menjadi Pewarna Tekstil, Kampus ini dan Kusuma Craft di Tangsel Dorong Seni Berkelanjutan\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p data-path-to-node=\"3\">LIMBAH\u00a0organik rumah tangga seperti kulit buah, sisa sayuran, dan material alami lainnya ternyata memiliki potensi untuk diolah menjadi sumber pewarna bagi karya seni tekstil dan kriya.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"4\">Potensi tersebut menjadi fokus Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 bertajuk \u201cInovasi Pewarna Tekstil Berbasis <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/limbah-organik\" title=\"limbah organik\">Limbah Organik<\/a> Domestik untuk Pengembangan Praktik Seni Tekstil dan Kriya Berkelanjutan\u201d yang dilaksanakan tim Universitas Budi Luhur bersama Kusuma Craft, belum lama ini.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p data-path-to-node=\"5\">Program ini memperoleh pendanaan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kemendiktisaintek\" title=\"Kemendiktisaintek\">Kemendiktisaintek<\/a>). Tim pelaksana diketuai Dhika Purnama Putra, bersama Benny Muhdaliha, Yori Pusparani, dan Muhammad Iqbal Naufal. Pelaksanaan program juga melibatkan mahasiswa Universitas Budi Luhur dalam kegiatan pendampingan, produksi karya, dokumentasi, dan publikasi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/921727\/mural-interaktif-berbasis-augmented-reality-untuk-edukasi-budaya-dan-pemberdayaan-komunitas\" title=\"Mural Interaktif Berbasis Augmented Reality untuk Edukasi Budaya dan Pemberdayaan Komunitas\" target=\"_blank\">Mural Interaktif Berbasis Augmented Reality untuk Edukasi Budaya dan Pemberdayaan Komunitas<\/a><\/strong><\/p>\n<p data-path-to-node=\"6\">Kusuma Craft merupakan rumah kreasi seni dan kerajinan berkelanjutan yang berlokasi di Pondok Kacang Timur, Tangerang Selatan (Tangsel). Selama ini, Kusuma Craft mengembangkan praktik seni tekstil dan kriya dengan pendekatan pewarna alami. Melalui PISN 2026, praktik tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan memanfaatkan limbah organik domestik sebagai sumber material pewarna. Program tidak hanya berfokus pada penciptaan produk akhir, juga membangun rangkaian proses yang menghubungkan pengelolaan limbah rumah tangga, eksplorasi material, penciptaan karya seni, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan pemasaran dan media digital. Salah satu perhatian utama program adalah memastikan ketersediaan bahan pewarna tidak hanya bergantung pada limbah yang diperoleh secara insidental. Karena itu, masyarakat dilibatkan sejak tahap awal melalui proses pemilahan dan pengumpulan material.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"7\">Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah Pelatihan Pemilahan Sampah Domestik. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemilahan limbah rumah tangga sekaligus memperkenalkan jenis limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami. Kegiatan melibatkan masyarakat di lingkungan RT\/RW, termasuk ibu-ibu PKK, serta mendorong optimalisasi peran bank sampah setempat dalam pengumpulan material.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"8\">Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai penyedia limbah, tetapi menjadi bagian dari ekosistem praktik seni berkelanjutan. Limbah organik yang telah dipilah kemudian dapat diseleksi dan dimanfaatkan sebagai bahan eksplorasi warna oleh Kusuma Craft dan peserta program.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/918057\/sinergi-perguruan-tinggi-dan-pemerintah-dorong-umkm-desa-naik-kelas\" title=\"Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah Dorong UMKM Desa Naik Kelas\" target=\"_blank\">Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah Dorong UMKM Desa Naik Kelas<\/a><\/strong><\/p>\n<p data-path-to-node=\"9\"><b data-index-in-node=\"0\" data-path-to-node=\"9\">Berbagai Tahapan<\/b><\/p>\n<p data-path-to-node=\"10\">Setelah proses pemilahan, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan teknik pewarna tekstil alami berbasis limbah organik domestik. Peserta diperkenalkan pada berbagai tahapan, mulai dari pemilihan material, ekstraksi warna, pewarnaan kain, hingga proses fiksasi. Metode pelatihan memadukan penyampaian materi, demonstrasi, eksperimen, dan praktik langsung. Melalui proses tersebut, peserta dapat memahami karakter setiap material organik serta pengaruhnya terhadap warna yang dihasilkan. Hasil eksplorasi kemudian diterapkan dalam praktik seni tekstil dan kriya. Material yang sebelumnya dianggap sebagai sisa konsumsi rumah tangga memperoleh fungsi baru sebagai bagian dari proses penciptaan karya. Program juga diarahkan untuk menghasilkan karya dan prototipe yang memiliki karakter visual sekaligus nilai keberlanjutan, serta memperkuat identitas Kusuma Craft sebagai pelaku seni dan kriya yang mengembangkan eksplorasi material ramah lingkungan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"11\"><b data-index-in-node=\"0\" data-path-to-node=\"11\">Inovasi dan Seni<\/b><\/p>\n<p data-path-to-node=\"12\">Program PISN 2026 tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan workshop, tetapi juga memastikan inovasi yang dikembangkan dapat terus diterapkan setelah program berakhir. Universitas Budi Luhur bersama Kusuma Craft melakukan penguatan pada aspek produksi, manajemen, dokumentasi, dan pemasaran.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"13\">Proses eksperimen pewarna alami didokumentasikan untuk membangun alur kerja yang lebih terstruktur, mulai dari pengumpulan bahan, pengolahan material, ekstraksi warna, pewarnaan, hingga pengembangan karya tekstil dan kriya.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"14\">Standardisasi tersebut diharapkan dapat membantu Kusuma Craft menghasilkan karya dengan proses yang lebih konsisten sekaligus membuka peluang pengembangan produk secara berkelanjutan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"15\">Pada aspek digital, program turut mengembangkan website Kusuma Craft sebagai ruang dokumentasi praktik seni sekaligus etalase karya. Website tersebut dirancang untuk memuat katalog, informasi mengenai proses produksi dan nilai keberlanjutan, serta mendukung pengembangan fungsi e-commerce, pembayaran, dan pengiriman produk.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"16\">Pengembangan media digital menjadi bagian penting karena karya Kusuma Craft ke depan tidak hanya terbatas pada produk tekstil atau fashion, juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk turunan seni dan kriya berbasis material berkelanjutan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"17\">Ketua tim pelaksana, Dhika Purnama Putra, menjelaskan bahwa program ini dirancang agar seni tidak berhenti pada persoalan estetika, tetapi juga dapat menjadi medium untuk membangun hubungan baru antara masyarakat dan material yang berada di lingkungan sehari-hari.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"18\">\u201cSampah di mata orang lain bisa jadi harta dan sebuah karya yang mempunyai nilai, program ini adalah bukti bahwa karya seni bisa juga berdampak besar pada kehidupan masyarakat.\u201d kata Dhika<\/p>\n<p data-path-to-node=\"19\">Sementara itu, Diah Kusumawardani selaku mitra terlibat langsung sebagai co-creator dalam proses eksplorasi material, pengembangan teknik, produksi karya, hingga pemanfaatan inovasi.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"20\">Menurutnya, program tersebut memberikan dampak signifikan bagi pengembangan Kusuma Craft, khususnya dalam mendukung kegiatan riset dan pengembangan berkelanjutan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"21\">\u201cKeberadaan program ini memberikan dampak yang sangat signifikan bagi Kusuma Craft selaku mitra, terutama dalam mengoptimalkan kegiatan riset dan pengembangan berkelanjutan melalui bantuan peralatan dan material yang memadai. Bagi studio tekstil seperti kami, sarana yang berkualitas merupakan kunci utama dalam menjaga mutu produk akhir,&#8221; ungkap Diah.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"22\">Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku seni tersebut diharapkan dapat membentuk model praktik seni yang dapat terus dikembangkan setelah program berakhir.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"23\">Pengetahuan mengenai pemilahan material, pengolahan pewarna alami, penciptaan karya, hingga dokumentasi proses juga diharapkan dapat diterapkan kembali oleh mitra serta dibagikan kepada masyarakat dan komunitas lainnya.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"24\">Pelaksanaan PISN 2026 turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 11 \u2013 Kota dan Permukiman Berkelanjutan, khususnya melalui peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan permukiman.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"25\">Program ini juga berkaitan dengan SDG 12 \u2013 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui upaya mengubah limbah organik domestik menjadi sumber daya kreatif serta mendorong praktik produksi seni yang lebih memperhatikan siklus material.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"26\">Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pelaku seni, komunitas, masyarakat, PKK, dan bank sampah, program ini menunjukkan bahwa persoalan limbah dapat didekati melalui berbagai perspektif, termasuk seni, desain, kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"27\">Pada tahap selanjutnya, karya yang dihasilkan akan dikembangkan dan didiseminasikan melalui media digital serta pameran atau showcase seni tekstil dan kriya. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperlihatkan secara langsung bagaimana limbah organik rumah tangga dapat ditransformasikan menjadi karya yang memiliki nilai estetika, sosial, dan ekonomi. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/921954\/olah-limbah-rumah-tangga-menjadi-pewarna-tekstil-kampus-ini-dan-kusuma-craft-di-tangsel-dorong-seni-berkelanjutan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Istimewa) LIMBAH\u00a0organik rumah tangga seperti kulit buah, sisa sayuran, dan material alami lainnya ternyata memiliki potensi untuk diolah menjadi sumber pewarna bagi karya seni tekstil dan kriya. Potensi tersebut menjadi fokus Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 bertajuk \u201cInovasi Pewarna Tekstil Berbasis Limbah Organik Domestik untuk Pengembangan Praktik Seni Tekstil dan Kriya Berkelanjutan\u201d yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":87869,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-87868","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87868","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=87868"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87868\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87869"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=87868"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=87868"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=87868"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}