{"id":87259,"date":"2026-08-14T01:17:36","date_gmt":"2026-08-13T18:17:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/14\/fondasi-pendidikan-dasar-yang-kuat-untuk-generasi-unggul\/"},"modified":"2026-08-14T01:17:36","modified_gmt":"2026-08-13T18:17:36","slug":"fondasi-pendidikan-dasar-yang-kuat-untuk-generasi-unggul","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/14\/fondasi-pendidikan-dasar-yang-kuat-untuk-generasi-unggul\/","title":{"rendered":"Fondasi Pendidikan Dasar yang Kuat untuk Generasi Unggul"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/13\/1786639433_9a1aea87cd7cbf39def7.jpg\" alt=\"Fondasi Pendidikan Dasar yang Kuat untuk Generasi Unggul\"\/><figcaption>Ilustrasi pendidikan dasar(Dok.Kemendikdasmen)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>WARTAWAN <em>Media Indonesia <\/em><strong>Despian Nurhidayat <\/strong>melakukan wawancara khusus dengan <strong>Menteri <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pendidikan-dasar\" title=\"Pendidikan Dasar\">Pendidikan Dasar<\/a> dan Menengah, Abdul Mu\u2019ti<\/strong> terkait progres dan dampak program prioritas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka seperti Sekolah Terintegrasi Nasional, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sekolah-garuda\" title=\"Sekolah Garuda\">Sekolah Garuda<\/a>, dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sekolah-rakyat\" title=\"Sekolah Rakyat\">Sekolah Rakyat<\/a> terhadap mutu pendidikan dasar dan menengah di Tanah Air menjelang perayaan ulang tahun ke-81 Republik Indonesia.<\/p>\n<p><strong>1. Baru-baru ini pemerintah meresmikan Sekolah Nasional Terintegrasi (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/snt\" title=\"SNT\">SNT<\/a>),\u00a0apa SNT ini dan bagaimana konsepnya?<\/strong><\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) adalah bagian dari program prioritas Bapak Presiden untuk memberikan layanan pendidikan yang unggul bagi anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan dan bakat istimewa, di bidang akademik maupun di bidang olahraga, seni, dan bidang-bidang keunggulan lainnya. SNT ini didirikan di setiap kecamatan untuk semua jenjang. Tapi dalam perkembangannya kemudian beliau (Presiden Prabowo) membuat sebuah kebijakan bahwa SNT dibuka hanya satu setiap kabupaten untuk jenjang SMP dan SMA. Ke depan akan dibangun di seluruh kabupaten dan kota secara bertahap. Tahun 2026 ini sudah mulai kita buka untuk 17 SNT di beberapa provinsi dan kabupaten di Indonesia.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/912805\/mendikdasmen-sekolah-nasional-terintegrasi-belum-diterapkan-untuk-jenjang-sd\" title=\"Mendikdasmen: Sekolah Nasional Terintegrasi belum Diterapkan untuk Jenjang SD\" target=\"_blank\">Mendikdasmen: Sekolah Nasional Terintegrasi belum Diterapkan untuk Jenjang SD<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Program yang secara konstitusional di dalam Undang-Undang (UU) No.20\/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional itu Pasal 5 ayat 4 yang menyebutkan bahwa anak-anak yang memiliki kemampuan dan bakat istimewa berhak mendapatkan pendidikan khusus. Program ini ada amanatnya di dalam UU. Program ini dibuka dengan seleksi yang sangat ketat untuk para calon murid dan gurunya dengan standar pembelajaran yang di atas rata-rata sekolah nasional pada umumnya.\u00a0<\/p>\n<p><strong>2. Apa perbedaan SNT dengan Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggul Garuda?<\/strong><\/p>\n<p>Secara umum memang masing-masing punya kekhususan. Sekolah Rakyat khusus untuk anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, dari desil 1 dan desil 2. Kemudian secara akademik mereka ini biasa saja. Kurikulumnya didesain dengan sistem kami menyebutnya dengan MEME atau Multi Entry Multi Exit. Jadi, mereka bisa masuk kapan saja dengan program-program dengan modul tertentu. Kalau sudah cukup dia bisa menamatkan pendidikan.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/904372\/pemerintah-pastikan-sekolah-rakyat-sekolah-negeri-dan-sekolah-garuda-berjalan-terintegrasi\" title=\"Pemerintah Pastikan Sekolah Rakyat, Sekolah Negeri, dan Sekolah Garuda Berjalan Terintegrasi\" target=\"_blank\">Pemerintah Pastikan Sekolah Rakyat, Sekolah Negeri, dan Sekolah Garuda Berjalan Terintegrasi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kemudian yang Sekolah Unggul Garuda adalah sekolah yang memang dirancang dengan keunggulan-keunggulan. Kurikulumnya memang standar internasional dan memang <em>highly selected<\/em>, diseragamkan jumlahnya secara nasional. Hanya ada 20 di seluruh Indonesia selama rentang waktu 5 tahun. Kemudian ada lagi namanya Garuda Transformasi. Itu sebenarnya sekolah-sekolah nasional tapi diberikan muatan kurikulum lebih yang itu juga berasrama.\u00a0<\/p>\n<p>Sementara itu, SNT tidak berasrama dan mereka bisa berasal dari latar belakang ekonomi yang berbeda-beda beragam. Anak-anak disabilitas juga boleh dengan kemampuan akademik di atas rata-rata. Bisa jadi kan mereka secara fisik mungkin berkekurangan, tapi secara intelektual dia punya kelebihan.\u00a0<\/p>\n<p>SNT ini diperlukan sebagai pelengkap dari sekolah yang standar yang membuka sekolah \u00a0inklusif. Sekolah-sekolah modern inklusif ini ada empat jalur dalam penerimaannya. Jalur domisili, jalur prestasi, jalur afirmasi, dan jalur mutasi. Untuk jalur afirmasi, anak-anak yang berkebutuhan khusus, yang difabel dan juga dari keluarga tidak mampu, dan jalur mutasi itu jalur murid yang diterima karena mengikuti tugas orangtuanya. Sedangkan untuk jalur prestasi, jumlahnya sangat terbatas sehingga banyak anak-anak yang punya kemampuan akademik yang tinggi, ketika belajar di sekolah standar ini, tidak bisa berkembang secara maksimal.<\/p>\n<p>Karena itu kan masih ada ruang, anak-anak yang berkebutuhan khusus ini belajar di sekolah luar biasa. Sekolah yang memang dikhususkan bagi mereka yang punya disabilitas itu. Kemudian SNT ini fokusnya pada mereka yang punya keunggulan-keunggulan ini.\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nSNT mengisi ruang kosong yang belum mampu disediakan oleh sekolah-sekolah standar. SNT menyediakan sekolah bermutu secara lebih merata, karena setiap kabupaten ada sekolah unggul.<\/p>\n<p><strong>3. Baru-baru ini juga Pendidikan Jarak Jauh diimplementasikan untuk 700 peserta didik, apakah ini dapat mengatasi persoalan anak tidak sekolah dalam jangka panjang?<\/strong>\u00a0<\/p>\n<p>Kami berusaha memberikan layanan pendidikan yang aksesibel, fleksibel, dan affordable. Layanan pendidikan yang dia memang mudah diakses, kemudian juga dia fleksibel dan pembiayaannya bisa ditanggung.<\/p>\n<p>Kami memperkuat <em>broad based education<\/em>, di mana pembelajaran pendidikan itu tidak sebatas sekolah formal tapi juga sekolah non-formal. Banyak anak yang tidak mampu sekolah formal itu, tidak semuanya semata-mata karena alasan ekonomi. Sebagian dari mereka karena alasan waktu. Misalnya dia harus bekerja atau jarak dari sekolah formal terlalu jauh karena mungkin di situ siswa tinggal di daerah pulau dan sebagainya. Kemudian, bisa juga siswa didik mengalami \u00a0kendala-kendala yang bersifat kultural. Mereka sudah berkeluarga di usia muda dan sebagainya. Hal-hal tersebut yang membuat angka tidak sekolah dan angka putus sekolah kita ini masih besar. Menurut data ada yang menyebut di atas 4 juta anak. Karena itu, kita ingin membuat pendidikan ini menjadi aksesibel dan fleksibel. Kita memperkuat pendidikan tidak hanya jalur <em>schooling<\/em>, tetapi <em>learning<\/em> yang tadi mengembangkan <em>broad based education<\/em> dengan 5 model pendidikan.<\/p>\n<p>Pertama pembelajaran jarak jauh, <em>distance learning.<\/em> Kedua \u00a0program kesetaraan, ada kejar paket A, paket B, paket C. Paket A setingkat SD, paket B setingkat SMP, paket C setingkat SMA dan ini ternyata menjadi pilihan dari banyak kalangan termasuk kalangan dari profesional. Ketiga, melalui sekolah satu atap. Sekolah satu atap mirip sekolah terintegrasi ini tapi untuk masyarakat secara umum. Jadi SD, SMP, SMA atau SMP, SMA atau SMP, SD itu satu jadi satu dalam satu kompon seperti terintegrasi ini. Gurunya bisa multi-grade, jadi mereka bisa mengajar beberapa jenjang. Berikutnya, model-model sekolah terbuka yang memberikan kemudahan untuk mereka bisa belajar. Selain ada misalnya bentuknya c<em>ommunity learning center<\/em>, komunitas-komunitas belajar.<\/p>\n<p><strong>4. Dalam PJJ ini bagaimana cara Kemendikdasmen mengatasi persoalan teknologi?<\/strong><\/p>\n<p>Kita berikan bantuan untuk komunitas belajar dan juga mereka yang belajar PJJ ini kita berikan jaringan internetnya. Kita pakai Starlink. kita bantu, kita sediakan alatnya, kita bantu buku-bukunya.\u00a0<\/p>\n<p><strong>5. Program Revitalisasi Sekolah di daerah pascabencana bagaimana perkembangannya?<\/strong><\/p>\n<p>Di tiga provinsi yang terdampak bencana, Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara itu, sudah selesai hampir 100 persen. Karena kita kan sudah mulai pembangunannya di bulan Februari yang lalu. Bulan Februari sudah jalan dan itu jumlahnya hampir 5 ribu. Totalnya hampir 5 ribu.\u00a0<\/p>\n<p>Sebagian yang belum kita bangun itu karena belum ada lahannya. Karena menurut rekomendasi, sekolah itu harus relokasi karena terletak di daerah atau tempat yang tidak aman. Relokasi ini seringkali terkendala daerah sulit menemukan lokasi yang baru. Itu kita sediakan pendidikan di sekolah darurat yang bisa untuk digunakan selama 2 tahun.\u00a0<\/p>\n<p>Kedua, belum bisa relokasi karena masyarakat, orangtua dan murid berkeberatan karena lokasi barunya jauh dari tempat tinggal. Hal yang seperti ini ada kendala-kendala teknis yang itu memang tidak bisa kami selesaikan sendiri. Lebih banyak bergantung pada pemerintah daerah.\u00a0<\/p>\n<p><strong>6. Berapa anggaran yang sudah digunakan dari program Revitalisasi Satuan Pendidikan?<\/strong><\/p>\n<p>Sudah Rp2 triliun lebih untuk 5 ribu sekolah. Bahkan sekarang ada tambahan lagi karena kemarin kita mengajukan Anggaran Biaya Tambahan, sudah ada <em>approval<\/em>\u00a0dari Kementerian Keuangan. InsyaAllah bisa kami terus gunakan, terutama sekolah yang harus relokasi. Kita membangun unit sekolah baru. Biasanya biayanya juga lebih banyak. Contohnya SD, harus menyediakan minimal untuk sebuah SD yang ideal itu 10 ruang kelas. Ruang kelasnya\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nkemudian ada ruang guru, ada perpustakaan, unit kesehatan sekolah dan toilet.<br \/>&#13;<br \/>\nLalu, sekolah-sekolah yang hilang akibat bencana harus dibangun baru.<\/p>\n<p><strong>7. Apa harapan Anda untuk sektor pendidikan dasar menengah Indonesia di momentum kemerdekaan RI ini?\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Pak Prabowo menyampaikan ke saya tentang arti pentingnya pendidikan dasar ini, karena bagaimana kita membangun sebuah rumah, pendidikan dasar ini adalah fondasi untuk pendidikan yang selanjutnya. Karena itu kami berusaha untuk pada tahun pertama ini meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu untuk semua. Mewujudkan generasi yang berkualitas, generasi yang unggul seperti yang disampaikan oleh Pak Presiden.\u00a0<\/p>\n<p>Kami meletakkan empat infrastruktur. Pertama <em>physical infrastructure<\/em>. Kita perbaiki sarana-sarana fisiknya dengan revitalisasi. InsyaAllah pada tahun ini, 2025-2026 ini kita sudah akan selesai membangun revitalisasi untuk sekitar 90 ribu satuan pendidikan. Kemudian digitalisasi, program Pak Presiden tahun pertama untuk 286 ribu satuan pendidikan mendapatkan <em>Interactive Flat Panel.<\/em> Tahun ini sudah ditambah lagi masing-masing tiga. Jumlahnya IFP bervariasi, ada yang tiga, ada yang empat, tergantung dari jumlah ruang kelasnya.<\/p>\n<p>Kemudian, fondasi lain yakni <em>pedagogical infrastructure<\/em>\u00a0atau infrastruktur pedagogis. Kami melakukan dua kebijakan. Pertama, program yang terkait dengan peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru sehingga diharapkan guru dapat mengajar lebih baik lagi. Kedua, mulai menerapkan pembelajaran mendalam. Sebuah pendekatan yang diharapkan dapat memperbaiki masalah yang sekarang masih kita rasakan, misalnya<em> learning loss<\/em>, <em>learning poverty<\/em> sebagai akibat dari Covid-19, dan juga akibat-akibat lain dari berbagai problem psikologis dan sosial anak-anak kita.\u00a0<\/p>\n<p>Ketiga itu<em> cultural infrastructure<\/em> atau infrastruktur budaya. \u00a0Kota memperkuat pendidikan karakter. Kami mencoba membangun karakter melalui tujuh kebiasaan, bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.\u00a0<\/p>\n<p>Kedua \u00a0program pagi ceria, di mana sebelum pembelajaran anak-anak ini menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk menumbuhkan nasionalisme, kemudian senam anak Indonesia hebat, kemudian baru berdoa masuk kelas.\u00a0<br \/>&#13;<br \/>\nBerikutnya adalah program penguatan ekstrakurikuler, khususnya pramuka. Pramuka sekarang menjadi ekstrakurikuler wajib.<\/p>\n<p>Keempat, kultur infrastruktur itu kita bangun dengan membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman. Ini juga merupakan penjabaran dari kebijakan Pak Presiden, budaya ASRI. Kemudian kita kembangkan dengan sekolah yang aman dan nyaman, dengan membangun sekolah yang bebas dari segala macam kekerasan. Kami menerbitkan surat edaran Menteri yang mendukung PP Tunas tentang pembatasan penggunaan gawai.\u00a0<\/p>\n<p>Kami melihat bagaimana dampak negatif gawai itu sangat besar terhadap pembelajaran. Dampak yang sangat terasa itu misalnya ketagihan gawai dan<em> attention span<\/em> yang pendek. Anak-anak kita ini enggak bisa konsentrasi yang lama, enggak bisa fokus, karena sudah terpengaruh oleh tayangan-tayangan yang pendek. Bahkan, sebagian mengalami <em>brain rot<\/em>\u00a0karena terlalu banyak mungkin melakukan &lt;i&gt;doom scrolling&lt;p&gt;.<\/p>\n<p>Keempat yakn<em>i legal infrastructure<\/em>. Berbagai regulasi yang mendorong peningkatan mutu. pendidikan Mulai memberlakukan tes kemampuan akademik yang sifatnya tidak wajib, tetapi punya pengaruh besar dalam peningkatan mutu. Tes ini mendorong motivasi dan semangat belajar lebih tinggi di kalangan para murid. Kemudian, berbagai aturan mengenai dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang kami juga permudah. Selain itu, kami punya aturan baru tentang upacara sekarang wajib dilaksanakan hari Senin dan hari-hari besar nasional.<\/p>\n<p>Pertama ada pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia. Itu setiap upacara dibaca. Ini merupakan penerjemahan dari pesan Pak Presiden untuk anak Indonesia yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, lalu menghormati dan mencintai orangtua dan guru, belajar dengan baik dan sungguh-sungguh, rukun sama teman, dan mencintai tanah air Indonesia.\u00a0<\/p>\n<p>Ini dibaca setiap kali upacara bendera. Kemudian ada menyanyikan lagu, selain lagu-lagu nasional itu, ada lagu rukun sama teman untuk mendorong sikap ramah. Mendorong perilaku yang baik dan juga interaksi yang lebih saling menghormati satu dengan yang lain. (Des\/H-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/921674\/fondasi-pendidikan-dasar-yang-kuat-untuk-generasi-unggul\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi pendidikan dasar(Dok.Kemendikdasmen) WARTAWAN Media Indonesia Despian Nurhidayat melakukan wawancara khusus dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu\u2019ti terkait progres dan dampak program prioritas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka seperti Sekolah Terintegrasi Nasional, Sekolah Garuda, dan Sekolah Rakyat terhadap mutu pendidikan dasar dan menengah di Tanah Air menjelang perayaan ulang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":87260,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-87259","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87259","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=87259"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87259\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87260"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=87259"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=87259"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=87259"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}