{"id":86926,"date":"2026-08-13T10:31:53","date_gmt":"2026-08-13T03:31:53","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/13\/wabah-ebola-2026-di-kongo-berpotensi-jadi-yang-terburuk-dalam-sejarah\/"},"modified":"2026-08-13T10:31:53","modified_gmt":"2026-08-13T03:31:53","slug":"wabah-ebola-2026-di-kongo-berpotensi-jadi-yang-terburuk-dalam-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/13\/wabah-ebola-2026-di-kongo-berpotensi-jadi-yang-terburuk-dalam-sejarah\/","title":{"rendered":"Wabah Ebola 2026 di Kongo Berpotensi Jadi yang Terburuk dalam Sejarah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/13\/1786591478_3b0af2840ae514ee36b5.jpg\" alt=\"Wabah Ebola 2026 di Kongo Berpotensi Jadi yang Terburuk dalam Sejarah\"\/><figcaption>Tedros Adhanom Ghebreyesus.(WHO)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DIREKTUR Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/who\" title=\"WHO\">WHO<\/a>), <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tedros-adhanom-ghebreyesus\" title=\"Tedros Adhanom Ghebreyesus\">Tedros Adhanom Ghebreyesus<\/a>, memperingatkan bahwa wabah Ebola yang saat ini melanda Republik Demokratik (DR) Kongo berada dalam jalur untuk melampaui rekor wabah paling mematikan dalam sejarah. Berdasarkan kecepatan penularan saat ini, wabah tahun 2026 diprediksi akan melampaui tragedi tahun 2014-2016 yang menewaskan sedikitnya 11.000 orang.<\/p>\n<p>Wabah tahun ini, yang resmi dideklarasikan pada 15 Mei 2026, mencatat sedikitnya 4.300 kasus dengan angka kematian mencapai lebih dari 2.000 jiwa. Meski baru diumumkan pada Mei, pejabat kesehatan meyakini virus mulai menyebar sejak Februari tetapi\u00a0awalnya terdiagnosis sebagai malaria atau tifus.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Krisis kali ini dipicu oleh spesies Ebola <i>Bundibugyo<\/i> yang tergolong langka. Spesies ini sebelumnya hanya diketahui menyebabkan dua wabah, yakni pada tahun 2007 dan 2012. Hingga saat ini, belum ada vaksin yang disetujui atau obat terapi yang diakui secara resmi untuk menangani spesies virus ini secara spesifik.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/895135\/who-identifikasi-vaksin-dan-obat-ebola-untuk-uji-klinis-massal-di-kongo\" title=\"WHO Identifikasi Vaksin dan Obat Ebola untuk Uji Klinis Massal di Kongo\" target=\"_blank\">WHO Identifikasi Vaksin dan Obat Ebola untuk Uji Klinis Massal di Kongo<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Kami sedang mengejar virus ini, tetapi virus berada di depan kami,&#8221; ujar Direktur WHO Afrika, Dr. Mohamed Janabi, dalam konferensi pers di kota Bunia. Ia menambahkan bahwa ketidakstabilan regional di wilayah timur DR Kongo sangat menghambat upaya penanganan. Petugas kesehatan dilaporkan hanya mampu menjangkau sekitar 30% dari total kasus yang ada.<\/p>\n<div style=\"background-color: #f9f9f9; padding: 15px; border-left: 5px solid #d9534f; margin: 20px 0;\"><strong>Gejala dan Penularan:<\/strong><\/p>\n<p>Ebola adalah penyakit virus mematikan dengan masa inkubasi 2 hingga 21 hari. Gejala awal meliputi demam mendadak, sakit kepala, dan kelelahan yang mirip dengan flu atau malaria. Seiring perkembangan penyakit, pasien dapat mengalami muntah, diare, hingga kegagalan organ. Virus menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh yang terinfeksi seperti darah atau muntahan.<\/p>\n<\/div>\n<h2>Upaya Medis dan Pengembangan Vaksin<\/h2>\n<p>WHO menargetkan untuk membalikkan tren penyebaran virus dalam waktu tiga bulan ke depan. Namun, target ini difokuskan pada pengendalian transmisi, bukan mengakhiri wabah sepenuhnya dalam waktu singkat.<\/p>\n<p>Di tengah situasi kritis ini, terdapat titik terang dalam pengembangan medis:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><strong>Uji Coba Vaksin:<\/strong> Regulator obat Inggris (MHRA) memberikan izin untuk uji coba manusia pertama terhadap vaksin khusus <i>Bundibugyo<\/i>. Vaksin ini dikembangkan oleh tim dari Universitas Oxford menggunakan teknologi yang serupa dengan vaksin Covid-19 Oxford-AstraZeneca.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Penelitian Lain:<\/strong> Tiga kelompok riset lain\u00a0juga tengah mengembangkan vaksin berbeda, meski belum memasuki tahap uji klinis.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><strong>Terapi Antiviral:<\/strong> WHO sedang mensponsori uji klinis terpisah di DR Kongo untuk menguji efektivitas dua terapi antiviral yang sudah ada dalam meningkatkan tingkat kelangsungan hidup pasien.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Kombinasi antara konflik wilayah dan karakteristik virus yang sulit dideteksi di awal membuat penanganan di DR Kongo menjadi salah satu tantangan kesehatan global paling berat di tahun 2026. (BBC\/I-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/921321\/wabah-ebola-2026-di-kongo-berpotensi-jadi-yang-terburuk-dalam-sejarah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tedros Adhanom Ghebreyesus.(WHO) DIREKTUR Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa wabah Ebola yang saat ini melanda Republik Demokratik (DR) Kongo berada dalam jalur untuk melampaui rekor wabah paling mematikan dalam sejarah. Berdasarkan kecepatan penularan saat ini, wabah tahun 2026 diprediksi akan melampaui tragedi tahun 2014-2016 yang menewaskan sedikitnya 11.000 orang. Wabah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":86927,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-86926","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86926","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86926"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86926\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86927"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86926"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86926"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86926"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}