{"id":86425,"date":"2026-08-12T10:48:38","date_gmt":"2026-08-12T03:48:38","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/12\/tes-berdiri-satu-kaki-bisa-prediksi-harapan-hidup-lansia-ini-studi-terbarunya\/"},"modified":"2026-08-12T10:48:38","modified_gmt":"2026-08-12T03:48:38","slug":"tes-berdiri-satu-kaki-bisa-prediksi-harapan-hidup-lansia-ini-studi-terbarunya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/12\/tes-berdiri-satu-kaki-bisa-prediksi-harapan-hidup-lansia-ini-studi-terbarunya\/","title":{"rendered":"Tes Berdiri Satu Kaki Bisa Prediksi Harapan Hidup Lansia, Ini Studi Terbarunya"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/12\/1786487942_9cd0c601b051de51fcb1.jpg\" alt=\"Tes Berdiri Satu Kaki Bisa Prediksi Harapan Hidup Lansia, Ini Studi Terbarunya\"\/><figcaption>ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PEMERIKSAAN kebugaran medis pada lansia umumnya berfokus pada fungsi jantung dan paru-paru. Namun, riset terbaru menunjukkan kemampuan menjaga keseimbangan tubuh dan kelincahan gerak ternyata menjadi indikator yang lebih kuat dalam memprediksi harapan hidup seseorang di usia lanjut.<\/p>\n<p>Penelitian ini dipimpin Li-Lin Liang dari National Yang Ming Chiao Tung University di Taipei bersama Chen-Te Hsu dari National Taiwan University of Sport. Tim peneliti menganalisis data 13.423 lansia berusia 65 tahun ke atas dari program kebugaran nasional Taiwan, lalu menghubungkannya dengan catatan asuransi kesehatan nasional hingga akhir 2022. Selama periode pemantauan rata-rata hampir tujuh tahun tersebut, tercatat sebanyak 1.631 peserta meninggal dunia.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Dalam riset ini, para peserta menjalani tujuh bentuk tes kebugaran yang mencakup empat kategori: daya tahan jantung-paru (jalan di tempat selama dua menit), kekuatan otot (angkat beban tangan 30 detik dan bangun dari kursi), kelenturan (jangkauan tangan di bahu dan punggung), serta keseimbangan dan kelincahan (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/berdiri-satu-kaki\" title=\"Berdiri Satu Kaki\">berdiri satu kaki<\/a> dengan mata terbuka dan tes <em>8-foot up-and-go<\/em>).<\/p>\n<p>Tes 8-foot up-and-go, yaitu tes beranjak dari kursi, berjalan sejauh 2,44 meter mengelilingi kerucut, lalu kembali duduk, menjadi indikator tunggal paling dominan. Lansia pada kelompok seperlima tercepat dalam tes ini memiliki risiko kematian 59% lebih rendah (risiko 41% dibanding kelompok terlambat) setelah disesuaikan dengan faktor usia, jenis kelamin, pendapatan, tingkat pendidikan, riwayat penyakit, hingga kebiasaan olahraga.<\/p>\n<p>Tes berdiri satu kaki berada di urutan berikutnya dengan risiko kematian 50%, diikuti tes bangun dari kursi (55%), dan tes jalan di tempat dua menit (58%). Secara keseluruhan, lansia yang mencatatkan hasil baik pada seluruh tes memiliki risiko kematian 39% dibanding kelompok dengan performa terendah.<\/p>\n<p>Liang mengaku sempat terkejut dengan hasil dominasi tes keseimbangan tersebut. Menurutnya, kemampuan menjaga keseimbangan tidak hanya bergantung pada satu organ tubuh saja.<\/p>\n<p>\u201cKeseimbangan bukanlah hasil dari satu sistem fisiologis tunggal,\u201d ujar Liang kepada Earth.com.<\/p>\n<p>Kemampuan berdiri satu kaki melibatkan penglihatan, kekuatan otot kaki, sistem telinga dalam, hingga kesadaran posisi tubuh (<em>proprioception<\/em>) yang semuanya dikoordinasikan oleh otak. Hasil tes yang buruk dapat menjadi petunjuk awal adanya gangguan pada beberapa sistem tersebut sebelum gejala penyakit muncul dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Riset ini juga menunjukkan bahwa pengukuran kebugaran objektif memberikan gambaran kesehatan yang tidak sepenuhnya terekam dari diagnosis penyakit maupun laporan aktivitas mandiri.<\/p>\n<p>\u201cTemuan kami menunjukkan bahwa kebugaran yang diukur secara objektif menangkap dimensi kesehatan yang tidak sepenuhnya tercermin dalam beban penyakit atau aktivitas yang dilaporkan sendiri,\u201d kata Liang.<\/p>\n<p>Namun, Liang menegaskan batasan dari studi ini karena pemindaian kebugaran hanya dilakukan satu kali pada awal penelitian.<\/p>\n<p>\u201cKami mengukur kebugaran hanya satu kali di awal (<em>baseline<\/em>), sehingga studi kami tidak dapat memastikan bahwa meningkatkan skor tes secara otomatis akan mengurangi risiko kematian,\u201d tutur Liang.<\/p>\n<p>Meski begitu, temuan yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open ini menegaskan pentingnya intervensi latihan fisik pada kelompok lansia dengan tingkat kebugaran terendah guna menjaga fungsi motorik dan keseimbangan mereka. (Earth\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/920794\/tes-berdiri-satu-kaki-bisa-prediksi-harapan-hidup-lansia-ini-studi-terbarunya\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi(Magnific) PEMERIKSAAN kebugaran medis pada lansia umumnya berfokus pada fungsi jantung dan paru-paru. Namun, riset terbaru menunjukkan kemampuan menjaga keseimbangan tubuh dan kelincahan gerak ternyata menjadi indikator yang lebih kuat dalam memprediksi harapan hidup seseorang di usia lanjut. Penelitian ini dipimpin Li-Lin Liang dari National Yang Ming Chiao Tung University di Taipei bersama Chen-Te Hsu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":86426,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-86425","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86425","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86425"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86425\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86426"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86425"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86425"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86425"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}