{"id":86395,"date":"2026-08-12T09:33:47","date_gmt":"2026-08-12T02:33:47","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/12\/pentingnya-end-to-end-diabetes-ecosystem-support-untuk-pasien-indonesia\/"},"modified":"2026-08-12T09:33:47","modified_gmt":"2026-08-12T02:33:47","slug":"pentingnya-end-to-end-diabetes-ecosystem-support-untuk-pasien-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/12\/pentingnya-end-to-end-diabetes-ecosystem-support-untuk-pasien-indonesia\/","title":{"rendered":"Pentingnya End-to-End Diabetes Ecosystem Support untuk Pasien Indonesia"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/12\/1786501353_d9f0314e610c83fa1c4f.jpg\" alt=\"Pentingnya End-to-End Diabetes Ecosystem Support untuk Pasien Indonesia\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>TANTANGAN penanganan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/diabetes\" title=\"diabetes\">diabetes<\/a> di Indonesia kini tidak lagi hanya berkutat pada tingginya jumlah kasus baru. Masalah yang jauh lebih mendesak adalah memastikan setiap pasien mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan setelah diagnosis ditegakkan. Tanpa kesinambungan layanan, risiko komplikasi bagi penyandang diabetes akan meningkat tajam.<\/p>\n<p>Pengelolaan diabetes yang efektif memerlukan rantai layanan yang tidak terputus, mulai dari <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/edukasi\" title=\"edukasi\">edukasi<\/a>, deteksi dini, terapi, pemantauan, hingga perubahan gaya hidup. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pendekatan <i>End-to-End Diabetes Ecosystem Support<\/i> dinilai semakin relevan guna memperkuat kualitas pengelolaan diabetes di tanah air.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h3>Edukasi sebagai Fondasi Utama<\/h3>\n<p>Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pedi\" title=\"PEDI\">PEDI<\/a>), Ida Ayu Made Kshanti, menegaskan bahwa edukasi merupakan pilar utama dalam ekosistem pengelolaan diabetes. Pemahaman yang mendalam memungkinkan masyarakat mengenali faktor risiko lebih awal dan mengambil keputusan kesehatan yang tepat.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/678334\/edukasi-diabetes-penting-bagi-masyarakat\" title=\"Edukasi Diabetes Penting Bagi Masyarakat\" target=\"_blank\">Edukasi Diabetes Penting Bagi Masyarakat<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya ditentukan oleh obat atau teknologi kesehatan. Pasien juga perlu memahami penyakitnya agar mampu menjalankan tata laksana medis secara konsisten,&#8221; ujar Ida Ayu pada Rabu (12\/8).<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa edukasi yang berkelanjutan membantu pasien membangun kepatuhan terapi. Melalui pendekatan ekosistem yang terintegrasi, edukasi hadir di setiap tahapan perjalanan pasien, sehingga mereka tidak merasa berjuang sendirian dalam menghadapi penyakitnya.<\/p>\n<h3>Tantangan Pascadiagnosis<\/h3>\n<p>Senada dengan hal tersebut, Ketua Cabang <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/persadia\" title=\"PERSADIA\">PERSADIA<\/a> Jakarta Barat, dr. Marshell Tendean, menyoroti realita di praktik klinis. Menurutnya, tantangan terbesar justru muncul setelah pasien menerima diagnosis. Banyak pasien yang kesulitan mempertahankan kepatuhan terapi dan gaya hidup sehat dalam jangka panjang.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/652129\/prinsip-penanganan-pasien-diabetes-dengan-empat-pilar\" title=\"Prinsip Penanganan Pasien Diabetes dengan Empat Pilar\" target=\"_blank\">Prinsip Penanganan Pasien Diabetes dengan Empat Pilar<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Dalam praktik sehari-hari, kami melihat banyak pasien datang ketika komplikasi sudah mulai muncul. Kondisi tersebut sering terjadi karena diabetes terlambat terdeteksi atau terapi tidak dijalankan secara konsisten,&#8221; ungkap dr. Marshell.<\/p>\n<p>Ia menekankan bahwa kepatuhan terhadap tata laksana medis adalah kunci utama untuk mengendalikan kadar gula darah. Pendekatan <i>End-to-End Diabetes Ecosystem Support<\/i> memastikan pasien memperoleh pendampingan sejak dini hingga manajemen jangka panjang, yang pada akhirnya meningkatkan peluang pasien untuk mempertahankan kualitas hidup mereka.<\/p>\n<h3>Data Diabetes di Indonesia<\/h3>\n<p>Urgensi penguatan ekosistem ini didorong oleh data prevalensi diabetes yang terus meningkat di Indonesia. Berikut adalah ringkasan data terkini berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0; border: 1px solid #ddd;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Indikator<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Data \/ Statistik<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Peringkat Dunia (IDF)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Peringkat ke-5<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Jumlah Penyandang Diabetes<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Lebih dari 20 Juta Jiwa<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Prevalensi (Penduduk Usia 15+)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">11,7% (Data SKI 2023)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Masalah Utama<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Rendahnya kepatuhan pengobatan dan pemeriksaan ulang<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Sinergi Lintas Sektor<\/h3>\n<p>Pendekatan ekosistem ini tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, komunitas pasien, industri kesehatan, hingga peran keluarga. Dukungan kolektif ini mencakup seluruh spektrum, mulai dari pencegahan hingga manajemen jangka panjang.<\/p>\n<p>Melalui sistem yang terintegrasi dan berpusat pada pasien, diharapkan penyandang diabetes di Indonesia dapat lebih patuh terhadap tata laksana medis, terhindar dari risiko komplikasi, serta tetap mampu menjalani hidup yang sehat, aktif, dan produktif. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/920851\/pentingnya-end-to-end-diabetes-ecosystem-support-untuk-pasien-indonesia\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) TANTANGAN penanganan diabetes di Indonesia kini tidak lagi hanya berkutat pada tingginya jumlah kasus baru. Masalah yang jauh lebih mendesak adalah memastikan setiap pasien mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan setelah diagnosis ditegakkan. Tanpa kesinambungan layanan, risiko komplikasi bagi penyandang diabetes akan meningkat tajam. Pengelolaan diabetes yang efektif memerlukan rantai layanan yang tidak terputus, mulai dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":86396,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-86395","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86395","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86395"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86395\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86396"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86395"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86395"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86395"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}