{"id":85934,"date":"2026-08-11T13:26:36","date_gmt":"2026-08-11T06:26:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/11\/ahy-ungkap-3-tantangan-utama-indonesia-capai-swasembada-air\/"},"modified":"2026-08-11T13:26:36","modified_gmt":"2026-08-11T06:26:36","slug":"ahy-ungkap-3-tantangan-utama-indonesia-capai-swasembada-air","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/11\/ahy-ungkap-3-tantangan-utama-indonesia-capai-swasembada-air\/","title":{"rendered":"AHY Ungkap 3 Tantangan Utama Indonesia Capai Swasembada Air"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/11\/1786424922_4b6913f557ec526772ba.jpeg\" alt=\"AHY Ungkap 3 Tantangan Utama Indonesia Capai Swasembada Air\"\/><figcaption>ilustrasi(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/menko-ipk\" title=\"menko ipk\">Menko IPK<\/a>), <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/agus-harimurti-yudhoyono\" title=\"Agus Harimurti Yudhoyono\">Agus Harimurti Yudhoyono<\/a> (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ahy\" title=\"AHY\">AHY<\/a>), mengungkapkan tiga tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam upaya mencapai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/swasembada-air\" title=\"swasembada air\">swasembada air<\/a>. Ketiga aspek krusial tersebut meliputi tantangan ruang, waktu, dan mutu.<\/p>\n<p>Tantangan pertama, yakni <strong>ruang<\/strong>, berkaitan dengan ketimpangan antara potensi air permukaan dan persebaran penduduk. AHY menjelaskan bahwa proporsi ketersediaan air di Indonesia tidak merata jika dibandingkan dengan kebutuhan di setiap wilayah.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cSebagai contoh, penduduk Kalimantan itu hanya sekitar 6,2% terhadap penduduk Indonesia secara keseluruhan, tetapi memiliki suplai potensi air permukaan 26%,\u201d ujar Agus saat <em>Opening Ceremony Indo Water 2026 Expo &amp; Forum<\/em> di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, Selasa (11\/8).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/920469\/menko-ipk-ahy-soroti-dampak-el-nino-terhadap-ketahanan-pangan\" title=\"Menko IPK AHY Soroti Dampak El Nino terhadap Ketahanan Pangan\" target=\"_blank\">Menko IPK AHY Soroti Dampak El Nino terhadap Ketahanan Pangan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kondisi serupa terjadi di Papua yang memiliki potensi air mencapai 39%, namun hanya dihuni sekitar 2,2% penduduk. Sebaliknya, Pulau Jawa menghadapi beban berat karena menampung 56,1% penduduk Indonesia, tetapi hanya memiliki potensi air sebesar 4,5%.<\/p>\n<p>\u201cInilah ketimpangan yang kita miliki. Jadi kalau agregatnya mungkin kita berlebihan air, tetapi jika kita hadapkan keadaan densitas dari jumlah penduduk di masing-masing wilayah, maka di situ ada permasalahan,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Tantangan kedua adalah <strong>waktu<\/strong>. AHY menyoroti rasio ketersediaan air di daerah aliran sungai (DAS) yang berkaitan dengan pasokan tahunan maupun dua mingguan. Pulau Jawa kembali menjadi wilayah paling rentan karena pasokan air tahunannya secara konsisten lebih kecil dibandingkan kebutuhan tahunan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/784043\/apresiasi-kementerian-atrbpn-menko-ahy-tanpa-kepastian-tanah-tidak-akan-ada-pembangunan\" title=\"Apresiasi Kementerian ATR\/BPN, Menko AHY: Tanpa Kepastian Tanah tidak akan Ada Pembangunan\" target=\"_blank\">Apresiasi Kementerian ATR\/BPN, Menko AHY: Tanpa Kepastian Tanah tidak akan Ada Pembangunan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Untuk mengatasi hal ini, ia menekankan pentingnya akurasi data. \u201cIni harus dipastikan secara lebih <em>precise<\/em> lagi dengan teknologi neraca air di setiap waktu maupun di setiap daerah harus benar-benar dijaga secara positif,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Tantangan terakhir adalah <strong>mutu<\/strong>. Menko IPK memaparkan data memprihatinkan di mana sekitar 70% air sungai di Indonesia saat ini dalam kondisi tercemar. Ia mencontohkan Sungai Ciliwung di Jakarta yang ekosistemnya rusak akibat sampah plastik, limbah rumah tangga seperti sofa dan kasur bekas, hingga limbah pabrik.<\/p>\n<p>Menyikapi persoalan mutu ini, AHY menegaskan bahwa solusi infrastruktur saja tidak cukup. Ia mendorong adanya gerakan moral bersama Kementerian PU dan komunitas pecinta lingkungan untuk mengedukasi masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cBukan hanya pendekatan infrastruktur yang harus kita hadirkan, tetapi lebih penting lagi bagaimana kita bisa mengintroduksi sedini mungkin untuk masyarakat agar peduli pada kebersihan sungai sehingga tidak tercemar dan tidak berpolusi,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/920472\/ahy-ungkap-3-tantangan-utama-indonesia-capai-swasembada-air\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi(Antara) Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkapkan tiga tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam upaya mencapai swasembada air. Ketiga aspek krusial tersebut meliputi tantangan ruang, waktu, dan mutu. Tantangan pertama, yakni ruang, berkaitan dengan ketimpangan antara potensi air permukaan dan persebaran penduduk. AHY menjelaskan bahwa proporsi ketersediaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":85935,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-85934","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85934","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85934"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85934\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85935"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85934"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85934"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85934"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}