{"id":85838,"date":"2026-08-11T09:18:48","date_gmt":"2026-08-11T02:18:48","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/11\/ini-bahaya-melampiaskan-amarah-di-media-sosial-menurut-psikolog\/"},"modified":"2026-08-11T09:18:48","modified_gmt":"2026-08-11T02:18:48","slug":"ini-bahaya-melampiaskan-amarah-di-media-sosial-menurut-psikolog","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/11\/ini-bahaya-melampiaskan-amarah-di-media-sosial-menurut-psikolog\/","title":{"rendered":"Ini Bahaya Melampiaskan Amarah di Media Sosial, Menurut Psikolog"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/11\/1786414443_76ce07220c9f17ddca0f.jpg\" alt=\"Ini Bahaya Melampiaskan Amarah di Media Sosial, Menurut Psikolog\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/psikolog\" title=\"psikolog\">PSIKOLOG<\/a> klinis sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, MM, Psikolog, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/media-sosial\" title=\"media sosial\">media sosial<\/a> sebagai sarana melampiaskan kemarahan. Menurut lulusan Universitas Indonesia ini, tindakan impulsif tersebut justru berisiko memperkuat emosi negatif alih-alih menyelesaikannya.<\/p>\n<p>Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kasus viral unggahan Yurizal Tri Chaerawan. Sebelum meninggal dunia pada 31 Juli 2026, Yurizal sempat mengeluhkan lamanya waktu tunggu kamar rawat inap, yang kemudian diduga memicu aksi perundungan oleh sejumlah tenaga kesehatan di media sosial.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Melampiaskan kemarahan secara impulsif tidak selalu membuat permasalahannya selesai dan kondisi emosi jadi membaik. Justru, sangat mungkin hal tersebut malah memperkuat kemarahan karena seseorang terus mengulang dan menghidupkan kembali emosi negatifnya,&#8221; ujar Ratih, dikutip Selasa (11\/8).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/806282\/yuk-jaga-kesehatan-mental-dengan-cara-hindari-kabar-tak-berfaedah\" title=\"Yuk Jaga Kesehatan Mental dengan Cara Hindari Kabar tak Berfaedah\" target=\"_blank\">Yuk Jaga Kesehatan Mental dengan Cara Hindari Kabar tak Berfaedah<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Risiko di Balik Katarsis Digital<\/h3>\n<p>Ratih menjelaskan bahwa mengeluarkan unek-unek atau katarsis memang memberikan rasa lega sesaat. Namun, efek tersebut bersifat sementara dan menyimpan potensi bahaya jangka panjang, terutama jika dilakukan saat emosi berada di puncak.<\/p>\n<p>Beberapa risiko yang membayangi unggahan impulsif di media sosial meliputi:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Munculnya konflik baru dengan pihak lain.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Penyesalan mendalam setelah emosi mereda.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Kerusakan reputasi profesional yang sulit dipulihkan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Penyalahgunaan relasi kuasa, terutama jika sasaran kemarahan adalah pihak yang lebih lemah seperti pasien.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<h3>Fenomena Online Disinhibition Effect<\/h3>\n<p>Secara psikologis, terdapat alasan mengapa seseorang cenderung lebih berani dan agresif di dunia maya. Ratih menyebut fenomena ini sebagai <em>online disinhibition effect<\/em>.<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; border: 1px solid #ddd; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Faktor Penyebab<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Penjelasan<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\"><strong>Jarak Fisik<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Interaksi tidak langsung membuat empati berkurang.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\"><strong>Anonimitas<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Merasa tersembunyi di balik layar sehingga lebih berani bereaksi.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\"><strong>Minim Konsekuensi Langsung<\/strong><\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Dampak dari ucapan tidak langsung terlihat secara fisik atau sosial saat itu juga.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Saran Pengelolaan Emosi<\/h3>\n<p>Sebagai langkah yang lebih konstruktif, Ratih menyarankan agar individu memproses emosi melalui refleksi diri atau berbicara langsung dengan orang yang dipercaya. Jika tekanan emosional terasa berat dan berkepanjangan, ia sangat menganjurkan untuk mencari bantuan profesional.<\/p>\n<p>&#8220;Kemampuan mengelola emosi sangat penting agar kita tidak menjadikan media sosial tempat melampiaskan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/amarah\" title=\"amarah\">amarah<\/a> yang berdampak buruk bagi orang lain. Ingat, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/jejak-digital\" title=\"Jejak digital\">jejak digital<\/a> sulit dihapus dan bisa berdampak luas bagi pengunggah maupun sasarannya,&#8221; pungkasnya. (Ant\/Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/920421\/ini-bahaya-melampiaskan-amarah-di-media-sosial-menurut-psikolog\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) PSIKOLOG klinis sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, MM, Psikolog, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan media sosial sebagai sarana melampiaskan kemarahan. Menurut lulusan Universitas Indonesia ini, tindakan impulsif tersebut justru berisiko memperkuat emosi negatif alih-alih menyelesaikannya. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kasus viral unggahan Yurizal Tri Chaerawan. Sebelum meninggal dunia pada 31 Juli [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":85839,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-85838","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85838","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85838"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85838\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85838"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85838"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85838"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}