{"id":84997,"date":"2026-08-09T15:14:36","date_gmt":"2026-08-09T08:14:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/09\/rumah-murah-makin-jauh-gen-z-sulit-cari-hunian\/"},"modified":"2026-08-09T15:14:36","modified_gmt":"2026-08-09T08:14:36","slug":"rumah-murah-makin-jauh-gen-z-sulit-cari-hunian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/09\/rumah-murah-makin-jauh-gen-z-sulit-cari-hunian\/","title":{"rendered":"Rumah Murah Makin Jauh, Gen Z Sulit Cari Hunian"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/09\/1786262904_743e5c7f3891569a2c01.jpg\" alt=\"Rumah Murah Makin Jauh, Gen Z Sulit Cari Hunian\"\/><figcaption>Rumah subsidi.(Dok. Lamudi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PASAR <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/perumahan\" title=\"perumahan\">perumahan<\/a> Indonesia masih menghadapi celah produk di segmen kelas menengah, terutama bagi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gen-z\" title=\"Gen Z\">Gen Z<\/a> dan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/milenial\" title=\"milenial\">milenial<\/a> yang mulai memasuki usia membeli rumah. <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/knight-frank\" title=\"Knight Frank\">Knight Frank<\/a> menyoroti adanya fenomena\u00a0<em><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/missing-middle\" title=\"missing middle\">missing middle<\/a><\/em>\u00a0pada kisaran harga Rp500 juta hingga Rp800 juta, di mana pilihan hunian dinilai belum sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan konsumen.<\/p>\n<p>Associate Director Research &amp; Consultancy Knight Frank Indonesia, Syarifah Saukat, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara harga, lokasi, dan ketersediaan produk di pasar.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cKalau kita melihat bahwa lokasi-lokasi untuk rumah tapak dengan harga, katakanlah Rp500 juta ke bawah, itu berada di wilayah-wilayah <em>hinterland<\/em>. Sementara untuk apartemen yang tidak disubsidi, harganya mulai dari Rp800 juta,\u201d kata Syarifah secara virtual, belum lama ini.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/638402\/ganjar-mahfud-bakal-permudah-pasangan-muda-beli-rumah\" title=\"Ganjar-Mahfud Bakal Permudah Pasangan Muda Beli Rumah\" target=\"_blank\">Ganjar-Mahfud Bakal Permudah Pasangan Muda Beli Rumah<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menjelaskan, kondisi tersebut menciptakan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kekosongan\" title=\"kekosongan\">kekosongan<\/a> pada rentang harga Rp500 juta hingga Rp800 juta yang justru menjadi area penting bagi pembeli generasi baru.<\/p>\n<p>\u201cDalam rentang harga ini ada kekosongan di angka sekitar Rp500 juta sampai Rp800 juta. Di sini diisi oleh program-program pemerintah untuk mencoba menyediakan\u00a0<em>vertical housing<\/em>\u00a0dengan lokasi yang ada di tengah kota,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Syarifah menambahkan, kelompok Gen Z dan milenial saat ini menjadi mayoritas <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pencari-hunian\" title=\"pencari hunian\">pencari hunian<\/a>, namun menghadapi dilema antara harga dan lokasi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/909370\/milenial-dan-gen-z-dorong-tren-wisata-tematik-dan-digital-native\" title=\"Milenial dan Gen Z Dorong Tren Wisata Tematik dan Digital-Native\" target=\"_blank\">Milenial dan Gen Z Dorong Tren Wisata Tematik dan Digital-Native<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cPreferensi pasar yang saat ini terbesar posturnya adalah Gen Z dan milenial. Mereka bisa memiliki rumah vertikal yang tidak perlu ke hinterland, tetapi dengan harga yang relatif terjangkau untuk mereka,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menurut dia, kondisi tersebut membuka peluang bagi pengembangan hunian vertikal kelas menengah yang lebih terjangkau dan tetap berada di lokasi strategis.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, persoalan utama pasar saat ini bukan hanya soal ketersediaan rumah, tetapi kesesuaian antara produk dan kebutuhan konsumen.<\/p>\n<p>\u201cArtinya, tantangannya bukan hanya menyediakan unit sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan lokasi, harga, desain, dan fasilitasnya sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasar,\u201d ujar Syarifah.<\/p>\n<p>Dengan kondisi tersebut, segmen hunian Rp500 juta hingga Rp800 juta dinilai menjadi ruang penting yang dapat menjembatani kebutuhan Gen Z dan milenial yang saat ini terjepit antara rumah murah di pinggiran dan apartemen di pusat kota yang relatif mahal. (Z-10)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/919880\/rumah-murah-makin-jauh-gen-z-sulit-cari-hunian\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rumah subsidi.(Dok. Lamudi) PASAR perumahan Indonesia masih menghadapi celah produk di segmen kelas menengah, terutama bagi Gen Z dan milenial yang mulai memasuki usia membeli rumah. Knight Frank menyoroti adanya fenomena\u00a0missing middle\u00a0pada kisaran harga Rp500 juta hingga Rp800 juta, di mana pilihan hunian dinilai belum sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan konsumen. Associate Director Research &amp; [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":84998,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-84997","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84997","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84997"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84997\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84998"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84997"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84997"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84997"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}