{"id":83995,"date":"2026-08-07T10:03:42","date_gmt":"2026-08-07T03:03:42","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/07\/pertama-dalam-sejarah-ai-berhasil-ciptakan-virus-baru-secara-utuh\/"},"modified":"2026-08-07T10:03:42","modified_gmt":"2026-08-07T03:03:42","slug":"pertama-dalam-sejarah-ai-berhasil-ciptakan-virus-baru-secara-utuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/07\/pertama-dalam-sejarah-ai-berhasil-ciptakan-virus-baru-secara-utuh\/","title":{"rendered":"Pertama dalam Sejarah AI Berhasil Ciptakan Virus Baru Secara Utuh"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/07\/1786056498_0196f1b5957b3e748394.jpg\" alt=\"Pertama dalam Sejarah! AI Berhasil Ciptakan Virus Baru Secara Utuh\"\/><figcaption>Peneliti AS memanfaatkan AI untuk merancang genom virus secara utuh. Terobosan biologi sintetis ini berpotensi obati penyakit, meski memicu kekhawatiran keamanan.(stanford University)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Para peneliti di Amerika Serikat berhasil memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk merancang virus baru yang berfungsi penuh dan mampu bereplikasi di laboratorium. Terobosan ini menjadi momen pertama dalam sejarah di mana seluruh genom berhasil dirancang secara utuh oleh AI.<\/p>\n<p>Sembilan belas virus baru yang dihasilkan ini dirancang khusus untuk menginfeksi bakteri, sehingga tidak menimbulkan ancaman bagi manusia. Pencapaian ini dinilai sebagai titik balik penting dalam sains yang dapat membuka era baru pengobatan penyakit. Meski begitu, para ahli memperingatkan adanya masalah keselamatan dan keamanan yang mendesak.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Pengembangan ini menggunakan model AI bernama Evo1 dan Evo2. Cara kerjanya mirip dengan model bahasa besar (Large Language Models) seperti ChatGPT, tetapi memprediksi kode genetik alih-alih kata-kata. AI ini dilatih menggunakan data genetik dari virus, bakteri, tumbuhan, hingga manusia, lalu disempurnakan untuk menghasilkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bacteriophage\" title=\"bacteriophage\">bacteriophage<\/a>, sejenis virus yang hanya menginfeksi spesies bakteri tertentu.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/906648\/sel-sintetis-buatan-laboratorium-berhasil-tumbuh-dan-membelah-diri\" title=\"Sel Sintetis Buatan Laboratorium Berhasil Tumbuh dan Membelah Diri\" target=\"_blank\">Sel Sintetis Buatan Laboratorium Berhasil Tumbuh dan Membelah Diri<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Tim peneliti dari Stanford University memilih 302 rancangan AI paling menjanjikan untuk disintesis di laboratorium. Hasilnya, 16 di antaranya terbukti efektif membunuh bakteri E. coli.<\/p>\n<p>&#8220;Ini adalah tingkat kerumitan berikutnya yang dapat dirancang oleh AI generatif. Ini pertama kalinya AI generatif digunakan untuk merancang genom lengkap&#8230; ini adalah wilayah baru bagi kami,&#8221; ujar Brian Hie, Asisten Profesor di Stanford University.<\/p>\n<p>Kemampuan menciptakan bacteriophage baru membuka jalan bagi metode pengobatan infeksi yang telah kebal terhadap antibiotik. Selain itu, terobosan dalam bidang <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/biologi-sintetis\" title=\"biologi sintetis\">biologi sintetis<\/a> ini dinilai berpotensi meningkatkan kesehatan manusia secara signifikan melalui pembuatan obat dan terapi baru.<\/p>\n<h2>Memicu Kekhawatiran Biosekuritas<\/h2>\n<p>Kendati demikian, muncul kekhawatiran bahwa teknologi serupa dapat disalahgunakan untuk menciptakan penyakit baru. Dalam komentar yang menyertai publikasi riset di jurnal Science, Dr. Thomas Inglesby dan Dr. Moritz Hanke dari Johns Hopkins University menyatakan bahwa temuan ini menimbulkan &#8220;pertanyaan mendesak mengenai keselamatan dan keamanan biologis.&#8221; Menurut mereka, pembuatan virus baru yang berpotensi menyebabkan penyakit &#8220;tidak boleh dilanjutkan.&#8221;<\/p>\n<p>Guna meminimalkan risiko, tim peneliti Stanford telah mengecualikan virus yang dapat menginfeksi organisme kompleks dari basis data pelatihan, serta menguji riset ini di laboratorium yang aman.<\/p>\n<p>Profesor Marc G\u00fcell dari Pompeu Fabra University, Spanyol, menyebut studi ini sebagai titik balik yang sangat signifikan. Menurutnya, untuk &#8220;pertama kalinya dalam sejarah, kita mulai merancang biologi di komputer.&#8221;<\/p>\n<p>Senada dengan hal tersebut, Prof. Patrick Cai dari Manchester Institute of Biotechnology menilai studi ini sebagai milestone penting. &#8220;Signifikansinya melampaui sekadar phage\u2014ini menunjukkan bahwa model bahasa genom mulai mempelajari prinsip-prinsip desain yang dikodekan oleh evolusi, membuka pintu bagi penulisan genom berbantuan AI,&#8221; pungkasnya. (BBC\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/919238\/pertama-dalam-sejarah-ai-berhasil-ciptakan-virus-baru-secara-utuh\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peneliti AS memanfaatkan AI untuk merancang genom virus secara utuh. Terobosan biologi sintetis ini berpotensi obati penyakit, meski memicu kekhawatiran keamanan.(stanford University) Para peneliti di Amerika Serikat berhasil memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk merancang virus baru yang berfungsi penuh dan mampu bereplikasi di laboratorium. Terobosan ini menjadi momen pertama dalam sejarah di mana seluruh genom [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":83996,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-83995","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83995","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83995"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83995\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83996"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83995"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83995"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83995"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}