{"id":83168,"date":"2026-08-05T15:42:35","date_gmt":"2026-08-05T15:42:35","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/05\/studi-baru-tunjukkan-brain-rot-picu-depresi-secara-mengejutkan\/"},"modified":"2026-08-05T15:42:35","modified_gmt":"2026-08-05T15:42:35","slug":"studi-baru-tunjukkan-brain-rot-picu-depresi-secara-mengejutkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/05\/studi-baru-tunjukkan-brain-rot-picu-depresi-secara-mengejutkan\/","title":{"rendered":"Studi Baru Tunjukkan Brain Rot Picu Depresi secara Mengejutkan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/05\/1785944093_fdbbb13c41ac876656bb.jpg\" alt=\"Studi Baru Tunjukkan Brain Rot Picu Depresi secara Mengejutkan\"\/><figcaption>Ilustrasi.(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>TEMUAN\u00a0paling menarik dari studi terbaru mengenai fenomena <em>brain rot<\/em> bukanlah sekadar fakta bahwa <em>scrolling<\/em> media sosial berdampak buruk bagi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kesehatan-mental\" title=\"kesehatan mental\">kesehatan mental<\/a>, melainkan urutan bagaimana kerusakan tersebut terjadi. Studi ini menemukan hubungan linier antara <em>brain rot<\/em>, kelelahan mental (<em>burnout<\/em>), dan depresi.<\/p>\n<p>Istilah <em>brain rot<\/em> sendiri merupakan bahasa gaul internet yang menggambarkan perasaan zombie\u00a0atau mati rasa saat seseorang terjebak terlalu lama di depan ponsel. Berdasarkan laporan <em>PsyPost<\/em>, penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Universitas Karab\u00fck, Turki, mendefinisikan <em>brain rot<\/em> sebagai fenomena konsumsi pasif video pendek yang tak ada habisnya menciptakan jenis kelelahan kognitif tertentu.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h2>Bagaimana Scrolling Menjadi Spiral Kerusakan<\/h2>\n<p>Fitur seperti <em>endless scroll<\/em> dan algoritma yang dipersonalisasi dirancang untuk menjaga pengguna tetap menatap layar selama mungkin. Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada otak saat kebiasaan ini berubah menjadi <em>brain rot<\/em>?<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/918606\/mengenal-hipnoterapi-cara-kerja-serta-manfaatnya\" title=\"Mengenal Hipnoterapi: Cara Kerja serta Manfaatnya\" target=\"_blank\">Mengenal Hipnoterapi: Cara Kerja serta Manfaatnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Melalui studi mediasi yang menguji hubungan antar variabel, para peneliti menemukan bahwa <em>brain rot<\/em> berkontribusi pada spiral kerugian\u00a0(<em>loss spiral<\/em>). Dalam kondisi ini, pengguna mengalami penyusutan energi mental dan kelelahan akibat kelelahan konten digital (<em>digital content fatigue<\/em>).<\/p>\n<p>Urutan operasinya sebagai berikut: <em>brain rot<\/em> memicu <em>burnout<\/em>, yang kemudian meningkatkan stres dan kecemasan. Pada akhirnya, rangkaian tekanan mental ini berujung pada gejala-gejala depresi.<\/p>\n<h2>Beban Kognitif dan Hilangnya Memori Jangka Pendek<\/h2>\n<p>Penelitian ini beroperasi di bawah teori beban kognitif (<em>cognitive load theory<\/em>). Teori ini menyatakan bahwa otak manusia memiliki kapasitas memori kerja yang terbatas dan dapat kewalahan jika terus-menerus dipaksa berpindah topik dan konteks secara cepat, persis seperti yang terjadi saat kita melakukan <em>scrolling<\/em> video pendek.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/918566\/mengenal-digital-hoarding-penyebab-dampak-dan-cara-mengatasinya-menurut-pakar-ipb\" title=\"Mengenal Digital Hoarding: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya Menurut Pakar IPB\" target=\"_blank\">Mengenal Digital Hoarding: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya Menurut Pakar IPB<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kecepatan <em>scrolling<\/em>, durasi konten yang singkat, dan perubahan subjek yang drastis (dari video lucu ke berita sedih, lalu ke tren tarian) bekerja berlawanan dengan pembentukan memori jangka panjang. Hal ini menyebabkan informasi sulit meresap ke dalam ingatan.<\/p>\n<p>Akibatnya, otak mulai menumpulkan respons emosional untuk menghemat energi, yang memicu perasaan mati rasa atau kebas. Kelelahan inilah yang memicu reaksi berantai menuju perasaan depresi yang lebih eksplisit, seperti:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya dinikmati.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Perasaan lesu atau tidak bertenaga.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Perubahan pola tidur dan pola makan.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Meskipun studi ini belum bisa menyatakan secara definitif bahwa <em>doom scrolling<\/em> secara langsung menyebabkan depresi, temuan ini membawa fenomena <em>brain rot<\/em> ke dalam pengaturan studi klinis yang lebih serius untuk penelitian di masa depan. (Inc\/I-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/918750\/studi-baru-tunjukkan-brain-rot-picu-depresi-secara-mengejutkan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi.(Magnific) TEMUAN\u00a0paling menarik dari studi terbaru mengenai fenomena brain rot bukanlah sekadar fakta bahwa scrolling media sosial berdampak buruk bagi kesehatan mental, melainkan urutan bagaimana kerusakan tersebut terjadi. Studi ini menemukan hubungan linier antara brain rot, kelelahan mental (burnout), dan depresi. Istilah brain rot sendiri merupakan bahasa gaul internet yang menggambarkan perasaan zombie\u00a0atau mati rasa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":83169,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-83168","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83168","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83168"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83168\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83168"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83168"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83168"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}