{"id":83077,"date":"2026-08-05T11:51:37","date_gmt":"2026-08-05T11:51:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/05\/pertumbuhan-529-persen-tunjukkan-ketahanan-ekonomi-yang-baik-di-tengah-tekanan-global\/"},"modified":"2026-08-05T11:51:37","modified_gmt":"2026-08-05T11:51:37","slug":"pertumbuhan-529-persen-tunjukkan-ketahanan-ekonomi-yang-baik-di-tengah-tekanan-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/05\/pertumbuhan-529-persen-tunjukkan-ketahanan-ekonomi-yang-baik-di-tengah-tekanan-global\/","title":{"rendered":"Pertumbuhan 5,29 Persen Tunjukkan Ketahanan Ekonomi yang Baik di Tengah Tekanan Global"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/05\/1785930551_78cd877fac40ca786637.png\" alt=\"Pertumbuhan 5,29 Persen Tunjukkan Ketahanan Ekonomi yang Baik di Tengah Tekanan Global\"\/><figcaption>ilustrasi pertumbuhan ekonomi.(MI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PENELITI\u00a0Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyampaikan bahwa <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pertumbuhan-ekonomi\" title=\"Pertumbuhan Ekonomi\">pertumbuhan ekonomi<\/a> Indonesia sebesar 5,29% pada triwulan II 2026 masih menunjukkan ketahanan yang baik di tengah tekanan global dan pelemahan sektor pertambangan.<\/p>\n<p>\u201cMemang angkanya lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 5,61%, tetapi konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06%, investasi yang tetap kuat, dan kenaikan belanja pemerintah masih menjadi penopang utama aktivitas ekonomi,\u201d ucap Yusuf saat dihubungi, Rabu (5\/8).<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Di sisi lain, Yusuf memandang bahwa ada sinyal yang perlu mendapat perhatian, yakni rasio gini yang naik menjadi 0,368 pada Maret 2026 dari 0,363 pada September 2025. Meski kenaikan tersebut dinilai tipis, Yusuf menyebut bahwa hal tersebut mengindikasikan bahwa manfaat pertumbuhan belum dinikmati secara merata.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/840586\/pemerintah-optimistis-ekonomi-2025-tembus-52-sesuai-target\" title=\"Pemerintah Optimistis Ekonomi 2025 Tembus 5,2%, Sesuai Target\" target=\"_blank\">Pemerintah Optimistis Ekonomi 2025 Tembus 5,2%, Sesuai Target<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cTambahan output ekonomi masih lebih banyak terserap oleh kelompok berpendapatan menengah atas dan masyarakat perkotaan yang memiliki akses lebih besar terhadap pekerjaan formal, modal, dan peluang usaha. Sementara itu, kelompok berpendapatan rendah memperoleh manfaat yang relatif lebih terbatas,\u201d terang Yusuf.<\/p>\n<p>Kondisi itu, lanjut dia, menunjukkan bahwa pertumbuhan masih cenderung eksklusif. Sektor yang menjadi motor ekonomi, seperti industri pengolahan, restoran, hotel, dan transportasi, umumnya lebih banyak menguntungkan pelaku usaha formal dan masyarakat dengan daya beli yang lebih tinggi. \u201cKarena itu, meskipun jumlah penduduk miskin turun menjadi 22,93 juta orang atau 8,07%, penurunan kemiskinan tidak serta-merta memperkecil kesenjangan pendapatan. Hal itu juga tercermin dari rasio gini perkotaan yang mencapai 0,387, jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang berada di level 0,296,\u201d bebernya.<\/p>\n<p>Ke depan, dirinya melihat ketimpangan masih berpotensi melebar apabila struktur pertumbuhan tidak berubah. Dirinya menilai bahwa konsumsi rumah tangga dan investasi kemungkinan tetap menjadi penopang utama, sementara stimulus pemerintah dan program sosial dapat membantu menjaga daya beli masyarakat berpendapatan rendah.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/798271\/pertumbuhan-ekonomi-512-apindo-fondasi-perekonomian-masih-kuat-tapi-jangan-terlena\" title=\"Pertumbuhan Ekonomi 5,12%, Apindo: Fondasi Perekonomian Masih Kuat tapi Jangan Terlena\" target=\"_blank\">Pertumbuhan Ekonomi 5,12%, Apindo: Fondasi Perekonomian Masih Kuat tapi Jangan Terlena<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cNamun, tanpa penciptaan lapangan kerja formal yang lebih inklusif, penguatan UMKM yang mampu menyerap tenaga kerja, serta pemerataan infrastruktur di luar Jawa, manfaat pertumbuhan akan kembali terkonsentrasi pada kelompok yang sudah lebih mapan. Risiko eksternal, seperti pelemahan ekspor dan kenaikan harga energi, juga dapat menekan kondisi rumah tangga yang paling rentan,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Dihubungi secara terpisah, Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan menegaskan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi tercatat pada 5,29%, pertumbuhan tersebut tidak merata karena lebih didorong oleh peningakatan pengeluaran pemweintah.<\/p>\n<p>\u201cAkibatnya pertumbuhan ini tidak menciptakan lapangan kerja berkualitas yang cukup. Lapangan kerja memang naik (pengangguran turun) tapi kebanyakan di informal sektor (bekerja sendiri di sektor perdagangan dan pertanian),\u201d pungkasnya. (Fal\/P-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/918633\/pertumbuhan-529-persen-tunjukkan-ketahanan-ekonomi-yang-baik-di-tengah-tekanan-global\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi pertumbuhan ekonomi.(MI) PENELITI\u00a0Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada triwulan II 2026 masih menunjukkan ketahanan yang baik di tengah tekanan global dan pelemahan sektor pertambangan. \u201cMemang angkanya lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 5,61%, tetapi konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06%, investasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":83078,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-83077","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83077","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83077"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83077\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83078"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83077"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83077"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83077"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}