{"id":82971,"date":"2026-08-05T07:17:37","date_gmt":"2026-08-05T07:17:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/05\/tanpa-bentakan-ini-5-tips-positive-parenting-agar-anak-tumbuh-percaya-diri\/"},"modified":"2026-08-05T07:17:37","modified_gmt":"2026-08-05T07:17:37","slug":"tanpa-bentakan-ini-5-tips-positive-parenting-agar-anak-tumbuh-percaya-diri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/05\/tanpa-bentakan-ini-5-tips-positive-parenting-agar-anak-tumbuh-percaya-diri\/","title":{"rendered":"Tanpa Bentakan, Ini 5 Tips Positive Parenting Agar Anak Tumbuh Percaya Diri"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/05\/1785913563_a60c7a0384e7ba36be4b.png\" alt=\"Tanpa Bentakan, Ini 5 Tips Positive Parenting Agar Anak Tumbuh Percaya Diri\"\/><figcaption>ilustrasi(freepik)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PENERAPAN pola asuh positif (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/positive-parenting\" title=\"positive parenting\">positive parenting<\/a>) dinilai ampuh membantu anak tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan memiliki kemampuan mengelola emosi secara matang. Pendekatan ini mengutamakan bimbingan tanpa perlu mengandalkan bentakan atau hukuman keras.<\/p>\n<p>Dalam kerangka positive <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/parenting\" title=\"parenting\">parenting<\/a>, orangtua menempatkan diri sebagai pembimbing yang membantu anak memahami batas aturan, mengenali emosi, serta memetik pelajaran dari kesalahan. Metode ini berfokus pada komunikasi yang hangat, disiplin nirkekerasan, dan apresiasi terhadap setiap proses tumbuh kembang anak.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa intervensi pengasuhan berbasis bukti terbukti mampu mempererat ikatan hubungan orang tua dan anak, menekan pola asuh keras, serta menjaga kesehatan mental anak.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/jelita\/918202\/lewat-to-see-myself-clearly-kaylee-nicole-pangestu-angkat-isu-kesehatan-mental-remaja\" title=\"Lewat To See Myself Clearly, Kaylee Nicole Pangestu Angkat Isu Kesehatan Mental Remaja\" target=\"_blank\">Lewat To See Myself Clearly, Kaylee Nicole Pangestu Angkat Isu Kesehatan Mental Remaja<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Lima Langkah Menerapkan Positive Parenting<\/h2>\n<p>Guna membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang yakin akan kemampuannya, berikut lima tips pengasuhan positif yang dapat diterapkan sehari-hari:<\/p>\n<p><strong>1. Gunakan Komunikasi Tenang dan Hindari Membentak<\/strong><\/p>\n<p>Meski bentakan dapat menghentikan tindakan anak seketika, cara ini tidak memberikan pemahaman mengenai alasan di balik suatu aturan. Orang tua disarankan berbicara dengan nada tenang serta menjelaskan konsekuensi logis dari tindakan anak agar mereka merasa dihargai.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/917256\/risiko-gangguan-kesehatan-mental-ayah-meningkat-setahun-setelah-anak-lahir\" title=\"Risiko Gangguan Kesehatan Mental Ayah Meningkat Setahun setelah Anak Lahir\" target=\"_blank\">Risiko Gangguan Kesehatan Mental Ayah Meningkat Setahun setelah Anak Lahir<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>2. Dengarkan dan Validasi Perasaan Anak<\/strong><\/p>\n<p>Berikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosinya tanpa terburu-buru menghakimi. Saat anak merasa marah atau kecewa, bantu mereka mengenali emosi tersebut dan arahkan cara mengelolanya dengan baik.<\/p>\n<p><strong>3. Apresiasi Proses dan Usaha, Bukan Hanya Hasil<\/strong><\/p>\n<p>Dukungan atas keberanian mencoba dan proses belajar sangat efektif membangun kepercayaan diri. Ganti dorongan seperti \u201cKamu harus menang\u201d menjadi ungkapan positif seperti \u201cKamu sudah berusaha dengan sangat baik dan terus belajar.\u201d<\/p>\n<p><strong>4. Beri Ruang untuk Pengambilan Keputusan Sederhana<\/strong><\/p>\n<p>Memberikan pilihan yang sesuai dengan tingkatan usia membantu anak belajar mandiri dan bertanggung jawab. Momen sederhana seperti memilih pakaian sendiri atau menentukan opsi permainan akan membuat anak merasa dipercaya.<\/p>\n<p><strong>5. Jadilah Teladan dalam Mengendalikan Emosi<\/strong><\/p>\n<p>Anak menyerap perilaku dari contoh yang ditunjukkan orang tua. Menghadapi masalah dengan tenang serta menunjukkan bahwa kesalahan merupakan hal wajar yang bisa diselesaikan lewat dialog akan menjadi teladan berharga bagi anak.<\/p>\n<h2>Tetap Konsisten Beraturan<\/h2>\n<p>Penerapan pola asuh positif bukan berarti membiarkan anak bertindak bebas tanpa batasan. Orang tua tetap diwajibkan menegakkan aturan yang jelas dan konsisten, namun disampaikan dengan pendekatan yang saling menghormati.<\/p>\n<p>Badan PBB untuk Anak (UNICEF) menegaskan bahwa anak berkembang jauh lebih optimal saat merasa dicintai, aman, dan dipahami. Melalui pola komunikasi yang hangat dan lingkungan yang mendukung, orang tua dapat mengantarkan anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berkarakter kuat. (Ant\/P-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/918512\/tanpa-bentakan-ini-5-tips-positive-parenting-agar-anak-tumbuh-percaya-diri\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi(freepik) PENERAPAN pola asuh positif (positive parenting) dinilai ampuh membantu anak tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan memiliki kemampuan mengelola emosi secara matang. Pendekatan ini mengutamakan bimbingan tanpa perlu mengandalkan bentakan atau hukuman keras. Dalam kerangka positive parenting, orangtua menempatkan diri sebagai pembimbing yang membantu anak memahami batas aturan, mengenali emosi, serta memetik pelajaran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":82972,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-82971","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82971","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82971"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82971\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/82972"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}