{"id":82612,"date":"2026-08-04T15:01:35","date_gmt":"2026-08-04T15:01:35","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/04\/polusi-udara-berisiko-turunkan-iq-dan-fungsi-paru-anak\/"},"modified":"2026-08-04T15:01:35","modified_gmt":"2026-08-04T15:01:35","slug":"polusi-udara-berisiko-turunkan-iq-dan-fungsi-paru-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/04\/polusi-udara-berisiko-turunkan-iq-dan-fungsi-paru-anak\/","title":{"rendered":"Polusi Udara Berisiko Turunkan IQ dan Fungsi Paru Anak"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/04\/1785854634_1a2b5776e930d2798194.jpg\" alt=\"Polusi Udara Berisiko Turunkan IQ dan Fungsi Paru Anak\"\/><figcaption>Seorang anak memakai masker saat melintasi jalan yang diselimuti kabut asap kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (3\/7\/2026)(ANTARA FOTO\/Putra M. Akbar)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>GURU Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof Dr R Budi Haryanto SKM MKes MSc menegaskan paparan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/polusi\" title=\"Polusi\">polusi<\/a> udara berdampak serius terhadap kesehatan anak. Dampak tersebut meliputi risiko gangguan pertumbuhan otak, penurunan fungsi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/paru-paru\" title=\"paru-paru\">paru-paru<\/a>, hingga penyakit kronis.<\/p>\n<p>Menurut Budi, tingginya eksposur berbagai zat polutan di udara serta penggunaan bahan bakar bernilai emisi rendah yang tidak sehat meningkatkan risiko penyakit kronis pada usia dini.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cMaka ya risikonya semakin banyak, ada penyakit-penyakit kronis dari gangguan seperti paru, penyakit jantung bahkan stroke, anak-anak, jadi bukan milik orang dewasa saja sekarang, karena eksposurnya tinggi ini jadi masalah untuk anak-anak,\u201d ujar Budi dalam acara International Council on Clean Transportation (ICCT) di Jakarta, Selasa (4\/8).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/621520\/7-makanan-untuk-membersihkan-paru-paru-saat-polusi-udara\" title=\"7 Makanan untuk Membersihkan Paru-paru saat Polusi Udara\" target=\"_blank\">7 Makanan untuk Membersihkan Paru-paru saat Polusi Udara<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menjelaskan, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/polusi-udara\" title=\"Polusi Udara\">polusi udara<\/a> karena organ tubuh dan sistem kekebalan mereka masih dalam tahap tumbuh tumbuh kembang.<\/p>\n<p>Di sisi lain, tingkat aktivitas fisik anak yang tinggi membuat volume dan frekuensi udara yang dihirup jauh lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Dalam kondisi normal, seseorang bernapas sekitar 20 kali per menit dengan volume udara masuk mencapai 500 mililiter sekali dihirup. Namun, saat anak aktif berlari atau bersepeda, frekuensi tersebut bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat.<\/p>\n<p>\u201cBayangkan kalau sekali bernapas normal saja itu sekitar 500 ml udara yang masuk, atau katakanlah 9 meter kubik selama satu menit. Kalau itu frekuensinya semakin cepat ya semakin banyak dua kali lipat, tiga kali lipat. Bayangkan yang dimasukkan dalam paru-paru itu apa saja semakin banyak makin cepat,\u201d tutur Budi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/611713\/pergi-ke-alam-terbuka-bisa-bersihkan-paru-dari-polutan\" title=\"Pergi ke Alam Terbuka Bisa Bersihkan Paru dari Polutan\" target=\"_blank\">Pergi ke Alam Terbuka Bisa Bersihkan Paru dari Polutan<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Risiko Penurunan IQ<\/h2>\n<p>Lebih lanjut, Budi memaparkan bahwa dampak polusi udara terhadap sistem pernapasan manusia\u2014mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia\u2014sangat bergantung pada jenis serta kadar polutan yang terhirup.<\/p>\n<p>Partikel halus seperti PM2.5 sanggup menembus paru-paru hingga meresap ke aliran darah sebelum beredar ke organ vital lainnya, termasuk jantung. Dalam jangka panjang, paparan ini memicu asma, pneumonia, bronkitis, hingga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).<\/p>\n<p>\u201cTerus bronkitis, gangguan fungsi paru itu terutama kalau sudah long term, terus kemudian ini akan meningkat menjadi penyakit-penyakit paru yang PPOK ya,\u201c jelasnya.<\/p>\n<p>Selain menyerang organ pernapasan, senyawa kimia berbahaya dalam polusi udara juga mampu melintasi pembuluh darah dan mengganggu sistem saraf pusat. Dampak neurologis ini berisiko memicu demensia, penurunan fungsi kognitif, Alzheimer, stroke, hingga hambatan perkembangan kecerdasan pada anak.<\/p>\n<p>\u201cKalau kita teliti itu kaitannya nanti dengan penurunan IQ, jadi kalau dilihat rapotnya itu tidak tinggi-tinggi nilainya tingkat prestasi belajar itu juga terganggu, itu semuanya otak. Pokoknya terganggu di susunan saraf pusat ya udah segala macam ada di sana yang terkait dengan otak,\u201d pungkas Budi. (Ant\/P-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/918326\/polusi-udara-berisiko-turunkan-iq-dan-fungsi-paru-anak\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seorang anak memakai masker saat melintasi jalan yang diselimuti kabut asap kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (3\/7\/2026)(ANTARA FOTO\/Putra M. Akbar) GURU Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof Dr R Budi Haryanto SKM MKes MSc menegaskan paparan polusi udara berdampak serius terhadap kesehatan anak. Dampak tersebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":82613,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-82612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82612"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82612\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/82613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}