{"id":81985,"date":"2026-08-03T11:50:43","date_gmt":"2026-08-03T11:50:43","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/03\/defisit-dagang-dinilai-bukan-sinyal-pelemahan-ekonomi\/"},"modified":"2026-08-03T11:50:43","modified_gmt":"2026-08-03T11:50:43","slug":"defisit-dagang-dinilai-bukan-sinyal-pelemahan-ekonomi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/03\/defisit-dagang-dinilai-bukan-sinyal-pelemahan-ekonomi\/","title":{"rendered":"Defisit Dagang Dinilai Bukan Sinyal Pelemahan Ekonomi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/03\/1785756878_a0269ece34459a138219.png\" alt=\"Defisit Dagang Dinilai Bukan Sinyal Pelemahan Ekonomi\"\/><figcaption>ilustrasi.(MI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>EKONOM Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai defisit <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/neraca-dagang\" title=\"neraca dagang\">neraca dagang<\/a> Indonesia pada Juni 2026 belum mencerminkan pelemahan sektor eksternal. Menurutnya, kondisi tersebut lebih tepat dipandang sebagai bagian dari proses penyesuaian struktur perdagangan, meski defisit terjadi selama dua bulan berturut-turut.<\/p>\n<p>Berdasarkan data terbaru, neraca dagang Juni 2026 mencatat defisit sebesar US$0,45 miliar, setelah pada Mei mengalami defisit yang lebih besar, yakni US$1,61 miliar. Meski demikian, Yusuf menilai kondisi tersebut masih berada dalam batas yang wajar.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Realisasi neraca dagang Juni 2026 yang kembali defisit sebesar US$0,45 miliar perlu dibaca secara proporsional. Ini memang menjadi defisit dua bulan berturut-turut setelah Mei mencatat defisit US$1,61 miliar. Namun saya melihat kondisi ini lebih sebagai proses penyesuaian struktur perdagangan daripada sinyal melemahnya sektor eksternal,&#8221; ujar Yusuf saat dihubungi, Senin (3\/8).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/906448\/defisit-neraca-dagang-mei-2026-persulit-bi-jaga-stabilitas-rupiah\" title=\"Defisit Neraca Dagang Mei 2026 Persulit BI Jaga Stabilitas Rupiah\" target=\"_blank\">Defisit Neraca Dagang Mei 2026 Persulit BI Jaga Stabilitas Rupiah<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menjelaskan, kinerja ekspor sebenarnya masih menunjukkan tren positif. Nilai ekspor pada Juni mencapai US$25,46 miliar atau tumbuh 8,84% secara tahunan, terutama ditopang oleh ekspor nonmigas seperti nikel, bahan bakar mineral, dan minyak nabati.<\/p>\n<p>Sebaliknya, tekanan terhadap neraca dagang berasal dari lonjakan impor yang meningkat 34,27% menjadi US$25,91 miliar. Kenaikan paling besar terjadi pada impor migas yang melonjak lebih dari 100% sehingga mendorong defisit sektor migas mencapai US$3,49 miliar. Surplus perdagangan nonmigas sebesar US$3,04 miliar belum mampu menutupi defisit tersebut.<\/p>\n<p>Menurut Yusuf, meningkatnya impor juga mencerminkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat. Ia menilai sebagian besar barang yang diimpor merupakan bahan baku, barang penolong, dan barang modal yang digunakan untuk mendukung kegiatan produksi maupun investasi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/846578\/indonesia-surplus-neraca-dagang-67-bulan-berturut-turut\" title=\"Indonesia Surplus Neraca Dagang 67 Bulan Berturut-turut\" target=\"_blank\">Indonesia Surplus Neraca Dagang 67 Bulan Berturut-turut<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Di sisi lain, kenaikan impor juga menunjukkan bahwa permintaan domestik masih cukup kuat. Sebagian besar impor berasal dari bahan baku, barang penolong, dan barang modal yang digunakan untuk produksi dan investasi. Dalam analisis ekonomi, impor seperti ini cenderung bersifat produktif karena mendukung peningkatan kapasitas industri,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Meski demikian, Yusuf mengingatkan, ketergantungan terhadap impor energi masih menjadi tantangan utama. Menurutnya, setiap kenaikan harga minyak dunia atau meningkatnya kebutuhan energi di dalam negeri akan langsung memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan.<\/p>\n<p>Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan surplus perdagangan Indonesia selama beberapa tahun terakhir masih sangat dipengaruhi oleh siklus harga komoditas. Karena itu, diversifikasi ekspor dengan nilai tambah yang lebih tinggi dinilai perlu terus diperkuat agar ketahanan sektor eksternal semakin baik.<\/p>\n<p>Secara kumulatif, Yusuf mencatat neraca dagang Indonesia sepanjang semester pertama 2026 masih membukukan surplus sebesar US$3,58 miliar. Hal itu, menurutnya, menunjukkan posisi eksternal Indonesia masih relatif terjaga.<\/p>\n<p>Ke depan, ia memperkirakan arah neraca dagang akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga energi dunia serta permintaan dari mitra dagang utama, seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara-negara ASEAN. Apabila ekspor nonmigas tetap bertahan kuat dan pertumbuhan impor mulai melambat, peluang kembalinya surplus perdagangan masih terbuka.<\/p>\n<p>&#8220;Sebaliknya, jika impor terus tumbuh lebih cepat daripada ekspor dalam periode yang panjang, tekanan terhadap transaksi berjalan dan nilai tukar akan semakin besar,&#8221; pungkas Yusuf. (Mir\/P-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/917782\/defisit-dagang-dinilai-bukan-sinyal-pelemahan-ekonomi\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi.(MI) EKONOM Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai defisit neraca dagang Indonesia pada Juni 2026 belum mencerminkan pelemahan sektor eksternal. Menurutnya, kondisi tersebut lebih tepat dipandang sebagai bagian dari proses penyesuaian struktur perdagangan, meski defisit terjadi selama dua bulan berturut-turut. Berdasarkan data terbaru, neraca dagang Juni 2026 mencatat defisit sebesar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":81986,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-81985","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81985","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81985"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81985\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81986"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81985"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81985"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81985"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}