{"id":81844,"date":"2026-08-03T05:46:41","date_gmt":"2026-08-03T05:46:41","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/03\/terperangkap-dalam-amber-100-juta-tahun-peneliti-temukan-kumbang-purba-berantena-unik\/"},"modified":"2026-08-03T05:46:41","modified_gmt":"2026-08-03T05:46:41","slug":"terperangkap-dalam-amber-100-juta-tahun-peneliti-temukan-kumbang-purba-berantena-unik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/03\/terperangkap-dalam-amber-100-juta-tahun-peneliti-temukan-kumbang-purba-berantena-unik\/","title":{"rendered":"Terperangkap dalam Amber 100 Juta Tahun, Peneliti Temukan Kumbang Purba Berantena Unik"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/03\/1785717154_3314c1c0ff00e3087c05.jpg\" alt=\"Terperangkap dalam Amber 100 Juta Tahun, Peneliti Temukan Kumbang Purba Berantena Unik\"\/><figcaption>ilustrasi(YANG Dinghua)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SEKITAR 100 juta tahun lalu, seekor kumbang kecil merayap di atas pohon di wilayah yang kini dikenal sebagai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/myanmar\" title=\"Myanmar\">Myanmar<\/a> utara, sebelum akhirnya terperangkap di dalam getah pohon. Getah tersebut membeku menjadi batu amber dan menjaga tubuh kumbang tetap utuh di dalamnya.<\/p>\n<p>Saat tim paleontolog memotong batu amber tersebut, mereka menemukan struktur antena unik yang tidak dimiliki oleh spesies kumbang hidup mana pun di bumi saat ini.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Penelitian yang dipimpin oleh Yanda Li, seorang mahasiswa doktoral dari University of Bristol, bekerja sama dengan Profesor Chenyang Cai dari Nanjing Institute of Geology and Palaeontology of the Chinese Academy of Sciences (NIGPAS). Tim peneliti menamai kumbang tersebut <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/icaroramus-perisi\" title=\"Icaroramus perisi\">Icaroramus perisi<\/a>. Nama spesies ini diambil untuk menghormati ahli paleoentomologi Dr. David Peris.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/914465\/kemlu-lakukan-pencarian-dua-wni-yang-disandera-di-myanmar\" title=\"Kemlu Lakukan Pencarian Dua WNI yang Disandera di Myanmar\" target=\"_blank\">Kemlu Lakukan Pencarian Dua WNI yang Disandera di Myanmar<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Struktur Antena Luar Biasa<\/h2>\n<p>Antena pada Icaroramus perisi terdiri dari 12 segmen. Uniknya, delapan segmen di bagian tengah masing-masing menumbuhkan dua pasang cabang samping yang berbeda.<\/p>\n<p>Pasang cabang pertama tumbuh dari dasar segmen dengan ukuran lebih panjang, agak membesar di bagian ujung, dan dilapisi bulu-bulu kasar. Sementara pasang cabang kedua berada di bagian tengah segmen, berukuran lebih pendek, lebih tipis, dan hanya memiliki bulu-bulu halus.<\/p>\n<p>Pola antena ini dinamakan quadriheteroramose, yang berarti empat cabang dari dua jenis berbeda pada satu segmen. Struktur ini merupakan temuan pertama pada spesies kumbang, baik yang masih hidup maupun yang telah punah.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/912666\/kemlu-ri-pulangkan-1203-wni-korban-online-scam-dari-myanmar\" title=\"Kemlu RI Pulangkan 1.203 WNI Korban Online Scam dari Myanmar\" target=\"_blank\">Kemlu RI Pulangkan 1.203 WNI Korban Online Scam dari Myanmar<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Bagi serangga, antena berfungsi layaknya hidung. Bulu-bulu halus pada antena menampung sel saraf yang menangkap senyawa kimia di udara. Cabang tambahan pada antena memberikan luas permukaan ekstra untuk mempertajam indra penciuman.<\/p>\n<h2>Sinyal Kimia dan Organ Cahaya<\/h2>\n<p>Spesimen fosil yang ditemukan ini diketahui berjenis kelamin jantan. Peneliti menduga Icaroramus perisi berburu pasangan utamanya menggunakan indra penciuman untuk melacak jejak feromon dari kumbang betina.<\/p>\n<p>Selain antena yang kompleks, fosil ini juga mengawetkan organ cahaya di bagian bawah perutnya. Pada kerabat kuno kunang-kunang ini, keberadaan organ pemancar cahaya bersamaan dengan antena bercabang menciptakan kombinasi yang tidak biasa.<\/p>\n<p>Spesies yang mengandalkan pancaran cahaya untuk menarik pasangan biasanya memiliki antena sederhana dan mata besar. Sebaliknya, spesies dengan antena kompleks umumnya mengandalkan bau dan tidak menggunakan cahaya untuk kawin.<\/p>\n<p>Para peneliti menduga cahaya pada Icaroramus perisi lebih berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri dari pemangsa, ketimbang alat untuk memikat pasangan.<\/p>\n<h2>Desain Tubuh yang Hilang<\/h2>\n<p>Tidak ada spesies kumbang modern yang mempertahankan struktur antena bercabang empat ini. Para peneliti melihatnya sebagai sebuah bentuk eksperimen evolusi singkat yang akhirnya hilang tergerus seleksi alam.<\/p>\n<p>Tim peneliti menempatkan kumbang berukuran panjang sekitar 1 sentimeter ini ke dalam famili yang telah punah, Cretophengodidae. Penemuan ilmiah ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B. (Earth\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/917586\/terperangkap-dalam-amber-100-juta-tahun-peneliti-temukan-kumbang-purba-berantena-unik\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi(YANG Dinghua) SEKITAR 100 juta tahun lalu, seekor kumbang kecil merayap di atas pohon di wilayah yang kini dikenal sebagai Myanmar utara, sebelum akhirnya terperangkap di dalam getah pohon. Getah tersebut membeku menjadi batu amber dan menjaga tubuh kumbang tetap utuh di dalamnya. Saat tim paleontolog memotong batu amber tersebut, mereka menemukan struktur antena unik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":81845,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-81844","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81844","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81844"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81844\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81845"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81844"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81844"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81844"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}