{"id":81840,"date":"2026-08-03T05:35:39","date_gmt":"2026-08-03T05:35:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/03\/diet-rendah-protein-mampu-perpanjang-usia-dan-bantu-metabolisme\/"},"modified":"2026-08-03T05:35:39","modified_gmt":"2026-08-03T05:35:39","slug":"diet-rendah-protein-mampu-perpanjang-usia-dan-bantu-metabolisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/03\/diet-rendah-protein-mampu-perpanjang-usia-dan-bantu-metabolisme\/","title":{"rendered":"Diet Rendah Protein Mampu Perpanjang Usia dan Bantu Metabolisme"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/03\/1785715050_609c42325a25aee253c8.jpg\" alt=\"Diet Rendah Protein Mampu Perpanjang Usia dan Bantu Metabolisme\"\/><figcaption>ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>TREN makanan berprotein tinggi kini membanjiri rak supermarket, mulai dari sereal hingga kopi. Namun, tinjauan komprehensif terhadap lebih dari 350 studi menunjukkan fenomena ini mungkin berlebihan dari apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh. Mengurangi asupan protein justru dapat meningkatkan metabolisme, meredakan peradangan, dan mengaktifkan jalur kesehatan yang mendukung penuaan lebih sehat serta umur lebih panjang.<\/p>\n<p>Studi yang dipublikasikan pada 31 Juli di jurnal Cell Press Blue ini meneliti dampak pengurangan protein terhadap proses penuaan. Hasilnya menunjukkan pembatasan protein dapat memperbaiki respon sel terhadap nutrisi, membatasi kerusakan sel, dan menjaga fungsi normal sel.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Sangat jelas bahwa protein memiliki manfaat untuk pertumbuhan otot dan respons latihan pada individu yang aktif,&#8221; ujar Dudley Lamming, penulis korespondensi laporan tersebut dari University of Wisconsin-Madison. &#8220;Namun karena sebagian besar orang relatif jarang bergerak, banyak orang mungkin mengonsumsi lebih banyak protein daripada yang sebenarnya mereka butuhkan, yang kemungkinan berdampak buruk bagi kesehatan.&#8221;<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/910184\/manfaat-labu-siam-bagi-kesehatan-dan-efek-samping-jika-dikonsumsi-berlebihan\" title=\"Manfaat Labu Siam bagi Kesehatan dan Efek Samping jika Dikonsumsi Berlebihan\" target=\"_blank\">Manfaat Labu Siam bagi Kesehatan dan Efek Samping jika Dikonsumsi Berlebihan<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Alternatif Pembatasan Kalori<\/h2>\n<p>Para ilmuwan sejak lama mengetahui membatasi kalori dapat memperpanjang usia dan menekan risiko penyakit akibat penuaan seperti kanker. Meski begitu, menerapkan diet rendah kalori dalam jangka panjang sangat sulit dilakukan oleh kebanyakan orang.<\/p>\n<p>Pembatasan protein menawarkan jalan keluar alternatif. Uji klinis pada manusia menunjukkan bahwa orang yang mengurangi asupan protein mengalami penurunan berat badan dan lemak tubuh, serta perbaikan gula darah puasa, meskipun total kalori yang dikonsumsi tetap sama.<\/p>\n<h2>Peran Hormon dan Asam Amino<\/h2>\n<p>Penelitian mengidentifikasi beberapa mekanisme biologis utama di balik manfaat pembatasan protein:<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/908643\/ini-dampak-mengerikan-kurang-tidur-selama-6-minggu-bagi-tubuh\" title=\"Ini Dampak Mengerikan Kurang Tidur Selama 6 Minggu Bagi Tubuh\" target=\"_blank\">Ini Dampak Mengerikan Kurang Tidur Selama 6 Minggu Bagi Tubuh<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Hormon FGF21: Saat asupan protein turun, kadar hormon fibroblast growth factor 21 (FGF21) akan meningkat. Hormon ini membantu meningkatkan pengeluaran energi, memperbaiki regulasi gula darah, serta meredakan peradangan.<br \/>&#13;<br \/>\nPengurangan Asam Amino Tertentu: Mengonsumsi asam amino seperti metionin, isoleusin, dan valin secara berlebihan dapat memicu jalur pertumbuhan biologis berlebih. Kondisi ini berisiko meningkatkan obesitas, peradangan, dan masalah penuaan.<\/p>\n<p>&#8220;Studi-studi ini menunjukkan bahwa jumlah protein yang dikonsumsi orang-orang yang kurang aktif saat ini mungkin memiliki konsekuensi kesehatan yang negatif, setidaknya pada tingkat populasi,&#8221; kata Lamming.<\/p>\n<h2>Kebutuhan Protein Berbeda pada Setiap Orang<\/h2>\n<p>Meski pembatasan protein memberi manfaat, kebutuhan nutrisi tetap bervariasi. Wanita hamil, lansia tertentu, serta atlet tetap membutuhkan asupan protein lebih tinggi untuk mempertahankan massa otot. Pada individu yang aktif, olahraga rutin menjadi pelindung yang mengarahkan protein untuk membentuk otot yang kuat.<\/p>\n<p>&#8220;Rekomendasi terbaru telah mendorong orang untuk makan lebih banyak protein, tetapi mereka juga mendorong orang untuk lebih banyak berolahraga,&#8221; kata Lamming. &#8220;Kita mungkin perlu mempersonalisasi rekomendasi protein tidak hanya berdasarkan usia, tetapi juga pada seberapa aktif orang tersebut secara fisik.&#8221;<\/p>\n<p>Temuan ini menegaskan pentingnya penyesuaian asupan protein berdasarkan usia dan tingkat aktivitas harian, bukan sekadar mengikuti tren umum. (Science DAily\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/917581\/diet-rendah-protein-mampu-perpanjang-usia-dan-bantu-metabolisme\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi(Magnific) TREN makanan berprotein tinggi kini membanjiri rak supermarket, mulai dari sereal hingga kopi. Namun, tinjauan komprehensif terhadap lebih dari 350 studi menunjukkan fenomena ini mungkin berlebihan dari apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh. Mengurangi asupan protein justru dapat meningkatkan metabolisme, meredakan peradangan, dan mengaktifkan jalur kesehatan yang mendukung penuaan lebih sehat serta umur lebih panjang. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":81841,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-81840","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81840","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81840"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81840\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81841"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81840"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81840"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81840"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}