{"id":81752,"date":"2026-08-03T01:03:37","date_gmt":"2026-08-03T01:03:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/03\/industri-rafinasi-wajib-tanam-tebu-aptri-sulit-terealisasi\/"},"modified":"2026-08-03T01:03:37","modified_gmt":"2026-08-03T01:03:37","slug":"industri-rafinasi-wajib-tanam-tebu-aptri-sulit-terealisasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/03\/industri-rafinasi-wajib-tanam-tebu-aptri-sulit-terealisasi\/","title":{"rendered":"Industri Rafinasi Wajib Tanam Tebu, APTRI Sulit Terealisasi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/03\/1785718747_3f28118d35ee4aeb3188.jpg\" alt=\"Industri Rafinasi Wajib Tanam Tebu, APTRI: Sulit Terealisasi\"\/><figcaption>Ilustrasi&#8211;Sejumlah petani memotong tebu saat panen raya di kawasan Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17\/7\/2026).(ANTARA\/Galih Pradipta)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KEBIJAKAN Menteri Pertanian (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mentan\" title=\"Mentan\">Mentan<\/a>) Andi Amran Sulaiman yang mewajibkan industri <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gula\" title=\"gula\">gula<\/a> rafinasi memiliki kebun <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/tebu\" title=\"tebu\">tebu<\/a> sendiri guna mendukung target <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/swasembada-gula\" title=\"Swasembada Gula\">swasembada gula<\/a> nasional menuai respons kritis. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/aptri\" title=\"APTRI\">APTRI<\/a>) menilai aturan tersebut sulit direalisasikan dalam waktu dekat karena berbagai kendala fundamental.<\/p>\n<p>Ketua Dewan Pimpinan Nasional APTRI, Soemitro Samadikoen, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam kebijakan ini adalah ketersediaan lahan. Untuk memenuhi target pemerintah, diperkirakan dibutuhkan tambahan lahan seluas 700.000 hektare.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cPertanyaannya, apakah tersedia lahan 700.000 hektare untuk ditanam dalam dua tahun? Kita bicara soal lahan, bukan sekadar menanam,\u201d ujar Soemitro dalam siaran pers yang diterima pada Senin (3\/8\/2026).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/668771\/bahlil-lahadalia-kejar-investasi-untuk-gapai-swasembada-gula\" title=\"Bahlil Lahadalia Kejar Investasi untuk Gapai Swasembada Gula\" target=\"_blank\">Bahlil Lahadalia Kejar Investasi untuk Gapai Swasembada Gula<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Kendala Infrastruktur dan Lokasi Pabrik<\/h3>\n<p>Selain masalah ketersediaan lahan secara umum, Soemitro juga menyoroti rencana pengembangan perkebunan tebu di Merauke yang dinilai tidak realistis sejak awal. Menurutnya, faktor infrastruktur menjadi hambatan utama di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa secara teknis, pabrik <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/gula-rafinasi\" title=\"Gula Rafinasi\">gula rafinasi<\/a> di Indonesia tidak dirancang untuk mengolah tebu secara langsung. Selama ini, pabrik-pabrik tersebut menggunakan gula mentah (raw sugar) atau gula setengah jadi hasil impor sebagai bahan baku utama.<\/p>\n<p>\u201cPabrik gula rafinasi itu terbiasa menggunakan gula setengah jadi. Kalau menggunakan tebu, harus diproses dulu menjadi gula setengah jadi sebelum masuk ke pabrik rafinasi,\u201d jelasnya. Lokasi pabrik yang mayoritas berada di wilayah pesisir juga mempertegas bahwa desain industri ini memang ditujukan untuk memudahkan logistik impor, bukan pengolahan hasil kebun domestik.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/911932\/prabowo-dapat-laporan-mentan-swasembada-gula-dipercepat-jadi-dua-tahun\" title=\"Prabowo Dapat Laporan Mentan Swasembada Gula Dipercepat Jadi Dua Tahun\" target=\"_blank\">Prabowo Dapat Laporan Mentan Swasembada Gula Dipercepat Jadi Dua Tahun<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Data Perbandingan Target dan Realitas Industri Gula<\/h3>\n<p>Berikut adalah ringkasan data terkait tantangan produksi dan target gula nasional berdasarkan pernyataan APTRI:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; border: 1px solid #ddd; margin-bottom: 20px;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Indikator<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Keterangan \/ Data<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Kebutuhan Lahan Tambahan<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">\u00b1 700.000 Hektare<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Target Kebutuhan Gula Industri<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">\u00b1 4 Juta Ton (dalam 2 tahun)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Produksi Saat Ini<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Sulit mencapai 3 Juta Ton<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Rendemen Saat Ini<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">6% \u2013 7%<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">Rendemen Tahun 1930-an<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 10px; border: 1px solid #ddd;\">11% \u2013 13%<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Fokus pada Produktivitas, Bukan Sekadar Lahan<\/h3>\n<p>Soemitro menekankan bahwa pemerintah seharusnya tidak hanya fokus pada perluasan lahan baru, tetapi lebih pada peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada. Ia menyayangkan melemahnya peran riset gula nasional, padahal Indonesia pernah memiliki pusat riset yang maju di Pasuruan.<\/p>\n<p>\u201cKalau mau swasembada, jangan hanya bicara soal lahan baru. Pemerintah harus membantu petani dengan benih unggul, riset yang serius, pupuk yang terjangkau, dan teknologi budidaya modern. Tanpa itu, produktivitas kita tetap rendah,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Penurunan angka rendemen dari belasan persen pada era 1930-an menjadi hanya sekitar 6-7% saat ini dianggap sebagai bukti nyata bahwa masalah utama industri gula nasional terletak pada aspek produktivitas dan kualitas budidaya.<\/p>\n<p>Ia pun menyarankan agar pemerintah membuka ruang dialog lebih luas dengan pelaku industri sebelum menerapkan kebijakan wajib tanam tebu bagi pabrik rafinasi guna menghindari ketimpangan antara regulasi dan realitas di lapangan. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/917593\/industri-rafinasi-wajib-tanam-tebu-aptri-sulit-terealisasi\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi&#8211;Sejumlah petani memotong tebu saat panen raya di kawasan Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17\/7\/2026).(ANTARA\/Galih Pradipta) KEBIJAKAN Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang mewajibkan industri gula rafinasi memiliki kebun tebu sendiri guna mendukung target swasembada gula nasional menuai respons kritis. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai aturan tersebut sulit direalisasikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":81753,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-81752","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81752"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81752\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81753"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}