{"id":81520,"date":"2026-08-02T13:24:40","date_gmt":"2026-08-02T13:24:40","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/02\/anger-economy-dinilai-picu-maraknya-konten-kekerasan-di-media-sosial\/"},"modified":"2026-08-02T13:24:40","modified_gmt":"2026-08-02T13:24:40","slug":"anger-economy-dinilai-picu-maraknya-konten-kekerasan-di-media-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/02\/anger-economy-dinilai-picu-maraknya-konten-kekerasan-di-media-sosial\/","title":{"rendered":"Anger Economy Dinilai Picu Maraknya Konten Kekerasan di Media Sosial"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/02\/1785675973_5d186b12d13277fd66a3.jpg\" alt=\"Anger Economy Dinilai Picu Maraknya Konten Kekerasan di Media Sosial\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PENGAMAT budaya dan komunikasi digital Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, menilai maraknya tayangan kekerasan di <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/media-sosial\" title=\"media sosial\">media sosial<\/a> tidak lepas dari cara kerja <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/algoritma-platform-digital\" title=\"algoritma platform digital\">algoritma platform digital<\/a> yang mengutamakan konten pemicu emosi demi meningkatkan perhatian pengguna.<\/p>\n<p>Menurut Firman, platform media sosial menerapkan strategi yang dikenal sebagai anger economy, yakni menjadikan kemarahan sebagai komoditas untuk mendongkrak interaksi.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Konten yang memancing emosi dinilai mampu bertahan lebih lama di lini masa dibandingkan konten hiburan atau percakapan biasa.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/806282\/yuk-jaga-kesehatan-mental-dengan-cara-hindari-kabar-tak-berfaedah\" title=\"Yuk Jaga Kesehatan Mental dengan Cara Hindari Kabar tak Berfaedah\" target=\"_blank\">Yuk Jaga Kesehatan Mental dengan Cara Hindari Kabar tak Berfaedah<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cKonten yang mengandung kemarahan dan kekerasan terbukti lebih banyak memperoleh perhatian. Ketika perhatian meningkat, konten itu menjadi lebih bernilai untuk dijual kepada pengiklan. Karena itu algoritma terus memunculkan konten serupa kepada publik,\u201d kata Firman kepada Media Indonesia, Minggu (2\/8).<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, mekanisme tersebut membuat pengguna terus disuguhi tayangan kekerasan sehingga perlahan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang lumrah. Akibatnya, sensitivitas masyarakat terhadap konten negatif semakin menurun.<\/p>\n<p>\u201cPublik akhirnya mengalami normalisasi. Kepekaan terhadap kekerasan menjadi tumpul karena terus-menerus terpapar. Lama-kelamaan pembuat konten juga terdorong menghadirkan kekerasan yang lebih ekstrem karena dianggap lebih menarik perhatian,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/hiburan\/801282\/bersama-menjaga-privasi-data-di-ruang-digital\" title=\"Bersama Menjaga Privasi Data di Ruang Digital\" target=\"_blank\">Bersama Menjaga Privasi Data di Ruang Digital<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Firman mengingatkan dampaknya tidak hanya terjadi di ruang digital. Menurutnya, konten yang dipenuhi narasi provokatif dan disinformasi dapat memicu konflik di dunia nyata, seperti yang belakangan mencuat dalam sejumlah kasus bentrokan antarkelompok.<\/p>\n<p>\u201cKadang fakta kejadiannya tidak seperti itu, tetapi narasinya dibuat lebih panas agar semakin banyak yang menonton. Ketika penonton bertambah, platform memperoleh keuntungan dari iklan. Pada akhirnya masyarakat menjadi korban adu domba, sementara platform yang diuntungkan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia menilai masyarakat juga memiliki peran untuk memutus siklus penyebaran <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/konten-kekerasan\" title=\"konten kekerasan\">konten kekerasan<\/a> dengan tidak memberikan interaksi terhadap unggahan semacam itu.<\/p>\n<p>\u201cJangan ditonton, jangan dikomentari, jangan dibagikan. Kalau tidak mendapat perhatian, siklus penyebaran konten seperti itu akan terputus,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Firman mendorong pemerintah lebih aktif mengawasi platform digital, termasuk meminta transparansi mengenai pengaturan algoritma serta membatasi penyebaran konten kekerasan.<\/p>\n<p>\u201cDi sejumlah negara Eropa, ada jenis-jenis konten kekerasan tertentu yang memang dilarang ditampilkan. Pemerintah bisa meminta transparansi algoritma dan menetapkan batasan terhadap konten yang mengandung kekerasan fisik. Selain itu, literasi digital masyarakat juga harus diperkuat agar tidak mudah terpancing provokasi,\u201d pungkasnya. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/917481\/anger-economy-dinilai-picu-maraknya-konten-kekerasan-di-media-sosial\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific.com) PENGAMAT budaya dan komunikasi digital Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, menilai maraknya tayangan kekerasan di media sosial tidak lepas dari cara kerja algoritma platform digital yang mengutamakan konten pemicu emosi demi meningkatkan perhatian pengguna. Menurut Firman, platform media sosial menerapkan strategi yang dikenal sebagai anger economy, yakni menjadikan kemarahan sebagai komoditas untuk mendongkrak interaksi.\u00a0 Konten [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":81521,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-81520","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81520","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81520"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81520\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81521"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81520"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81520"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81520"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}