{"id":81484,"date":"2026-08-02T11:52:48","date_gmt":"2026-08-02T11:52:48","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/02\/bukan-merusak-alasan-ikan-kakatua-pemakan-karang-untuk-selamatkan-lautan\/"},"modified":"2026-08-02T11:52:48","modified_gmt":"2026-08-02T11:52:48","slug":"bukan-merusak-alasan-ikan-kakatua-pemakan-karang-untuk-selamatkan-lautan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/02\/bukan-merusak-alasan-ikan-kakatua-pemakan-karang-untuk-selamatkan-lautan\/","title":{"rendered":"Bukan Merusak, Alasan Ikan Kakatua Pemakan Karang untuk Selamatkan Lautan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/02\/1785671439_7e374c31ead9faa9eb9e.jpg\" alt=\"Bukan Merusak, Alasan Ikan Kakatua Pemakan Karang untuk Selamatkan Lautan\"\/><figcaption>ikan kakatua(telukcenderawasihnationalpark.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ikan-kakatua\" title=\"ikan kakatua\">IKAN kakatua<\/a> disebut memakan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/terumbu-karang\" title=\"terumbu karang\">terumbu karang<\/a> hingga menghasilkan pasir putih pantai. Meski terdengar merusak, perilaku tersebut justru memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.<\/p>\n<p>Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Dr Adriani Sunuddin, menjelaskan bahwa ikan kakatua memang menggigit dan menghancurkan sebagian matriks kapur karang saat mencari makan.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cSetelah melewati sistem pencernaan, sisa material tersebut dikeluarkan dalam bentuk butiran pasir yang sangat halus dan perlahan mengendap di pesisir sehingga berkontribusi terhadap pembentukan pasir putih di pantai,\u201d kata Adriani dalam keterangannya, Minggu (2\/8).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/917302\/rahasia-pasir-putih-pantai-peran-vital-ikan-kakatua-bagi-ekosistem-terumbu-karang\" title=\"Rahasia Pasir Putih Pantai: Peran Vital Ikan Kakatua bagi Ekosistem Terumbu Karang\" target=\"_blank\">Rahasia Pasir Putih Pantai: Peran Vital Ikan Kakatua bagi Ekosistem Terumbu Karang<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Namun, ia menegaskan bahwa sasaran utama sebagian besar ikan kakatua bukanlah karang, melainkan alga dan mikroorganisme yang menempel di permukaan terumbu karang.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cIkan kakatua berperan sebagai insinyur ekosistem terumbu karang. Aktivitas mengikis maupun mengunyah karang memberikan manfaat ekologis yang jauh lebih besar dibandingkan kerusakan fisik yang ditimbulkannya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Berdasarkan cara makannya, ikan kakatua terbagi menjadi kelompok scrapers (pengikis) dan excavators (pengeruk). Adriani menjelaskan, ikan kakatua pengikis membantu membersihkan alga yang tumbuh cepat sehingga tidak mendominasi permukaan terumbu karang. Kondisi ini memberi ruang bagi larva karang untuk menempel dan tumbuh menjadi koloni baru.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/915040\/hubungan-rahasia-cacing-pohon-natal-dan-ikan-goby-di-terumbu-karang\" title=\"Hubungan Rahasia Cacing Pohon Natal dan Ikan Goby di Terumbu Karang\" target=\"_blank\">Hubungan Rahasia Cacing Pohon Natal dan Ikan Goby di Terumbu Karang<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Sementara itu, kelompok pengeruk membantu memperluas penyebaran fragmen karang maupun alga endosimbion yang masih hidup sehingga mendukung proses regenerasi alami terumbu karang.<\/p>\n<h2>Dampak Penurunan Populasi<\/h2>\n<p>Ia mengingatkan bahwa penurunan populasi ikan kakatua akibat penangkapan berlebihan maupun kerusakan habitat dapat memicu berbagai dampak ekologis. Di antaranya dominasi alga yang menghambat pertumbuhan karang, berkurangnya produksi pasir alami, hingga menurunnya ketahanan terumbu karang terhadap penyakit, pemutihan karang (coral bleaching), dan gangguan lingkungan lainnya.<\/p>\n<p>\u201cSeekor ikan kakatua dewasa bahkan dapat menghasilkan sekitar 90\u2013450 kilogram pasir setiap tahun, sedangkan ikan kakatua kepala benjol (<em>Bolbometopon<\/em>) mampu menghasilkan lebih dari lima ton pasir dalam setahun. Pasir tersebut menjadi salah satu penyusun pulau-pulau kecil dan pantai berpasir putih di kawasan terumbu karang,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Untuk menjaga fungsi ekologis tersebut, Adriani mendorong pengelolaan ikan kakatua berbasis masyarakat, penguatan hukum adat di wilayah pesisir, penerapan aturan penangkapan yang sederhana, serta edukasi mengenai pentingnya ikan kakatua bagi kesehatan ekosistem terumbu karang.<\/p>\n<p>\u201cKonservasi ikan kakatua bukan hanya menjaga satu jenis ikan, tetapi juga mempertahankan kemampuan terumbu karang untuk pulih, melindungi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/keanekaragaman-hayati-laut\" title=\"keanekaragaman hayati laut\">keanekaragaman hayati laut<\/a>, dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir,\u201d pungkasnya. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/917449\/bukan-merusak-alasan-ikan-kakatua-pemakan-karang-untuk-selamatkan-lautan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ikan kakatua(telukcenderawasihnationalpark.com) IKAN kakatua disebut memakan terumbu karang hingga menghasilkan pasir putih pantai. Meski terdengar merusak, perilaku tersebut justru memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Dr Adriani Sunuddin, menjelaskan bahwa ikan kakatua memang menggigit dan menghancurkan sebagian matriks kapur karang saat mencari makan.\u00a0 \u201cSetelah melewati [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":81485,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-81484","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81484","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81484"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81484\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81485"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81484"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81484"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81484"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}