{"id":81109,"date":"2026-08-01T16:21:38","date_gmt":"2026-08-01T16:21:38","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/01\/linkedin-hadirkan-fitur-pelaporan-ai-slop-untuk-perangi-konten-ai\/"},"modified":"2026-08-01T16:21:38","modified_gmt":"2026-08-01T16:21:38","slug":"linkedin-hadirkan-fitur-pelaporan-ai-slop-untuk-perangi-konten-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/01\/linkedin-hadirkan-fitur-pelaporan-ai-slop-untuk-perangi-konten-ai\/","title":{"rendered":"LinkedIn Hadirkan Fitur Pelaporan AI Slop untuk Perangi Konten AI"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/01\/1785579300_d09fe836a6354919caf1.jpeg\" alt=\"LinkedIn Hadirkan Fitur Pelaporan AI Slop untuk Perangi Konten AI\"\/><figcaption>Ilustrasi LinkedIn.(Dok. Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/linkedin\" title=\"LinkedIn\">LinkedIn<\/a> mengambil langkah baru untuk menjaga kualitas percakapan di platformnya dengan memperkenalkan fitur pelaporan bertajuk \u201cSeems like <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ai\" title=\"AI\">AI<\/a> slop\u201d atau \u201cterlihat seperti <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ai-slop\" title=\"Ai slop\">AI slop<\/a>\u201d. Fitur ini memungkinkan pengguna menandai unggahan yang dinilai terlalu bergantung pada kecerdasan buatan (AI) atau memiliki kualitas rendah sehingga dianggap kurang autentik.<\/p>\n<p>Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya LinkedIn membatasi membanjirnya konten otomatis yang semakin marak di media sosial profesional tersebut. Chief Product Officer LinkedIn, Hari Srinivasan, menjelaskan bahwa istilah <em>AI slop<\/em> memang tidak memiliki definisi yang benar-benar baku. Oleh karena itu, masukan dari pengguna akan dimanfaatkan untuk menyempurnakan sistem deteksi konten berkualitas rendah yang dikembangkan perusahaan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h2>Mekanisme Pelaporan dan Dampak Algoritma<\/h2>\n<p>Menurut Srinivasan, tombol baru tersebut dapat diakses melalui menu tiga titik di setiap unggahan. Ketika pengguna memilih opsi \u201cSeems like AI slop\u201d, laporan tersebut akan menjadi sinyal bagi sistem LinkedIn untuk mengevaluasi konten serupa di masa mendatang.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/911366\/nvidia-tepis-isu-bubble-ai-sebut-permintaan-sangat-kuat\" title=\"Nvidia Tepis Isu Bubble AI, Sebut Permintaan Sangat Kuat\" target=\"_blank\">Nvidia Tepis Isu Bubble AI, Sebut Permintaan Sangat Kuat<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Selain itu, unggahan yang dilaporkan juga akan berkurang jangkauannya dalam rekomendasi algoritma. Hal ini bertujuan agar konten yang dinilai tidak autentik lebih sedikit muncul di linimasa pengguna lain, sehingga memberikan ruang lebih besar bagi interaksi manusia yang nyata.<\/p>\n<h2>Perubahan Fitur Penulisan AI<\/h2>\n<p>Selain menghadirkan tombol pelaporan, LinkedIn juga mengumumkan perubahan terhadap fitur berbasis AI miliknya. Perusahaan memutuskan menghapus fitur \u201cEnhance Your Post\u201d yang sebelumnya membantu pengguna menulis ulang unggahan menggunakan AI secara menyeluruh.<\/p>\n<p>Sebagai gantinya, LinkedIn kini hanya menyediakan fitur pemeriksaan tata bahasa (<em>proofreading<\/em>). Fitur ini dirancang untuk tetap mempertahankan gaya bahasa asli penulis tanpa mengubah suara personal mereka. Langkah ini diambil untuk mendorong terciptanya konten yang lebih autentik dan mencerminkan pengalaman nyata penggunanya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/911362\/ini-2-kemampuan-manusia-yang-tak-akan-tergantikan-ai-menurut-google-cloud\" title=\"Ini 2 Kemampuan Manusia yang tak akan Tergantikan AI Menurut Google Cloud\" target=\"_blank\">Ini 2 Kemampuan Manusia yang tak akan Tergantikan AI Menurut Google Cloud<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Moderasi Otomatis dan Keamanan Platform<\/h2>\n<p>Upaya menjaga kualitas konten ini juga diperkuat dengan peningkatan sistem moderasi otomatis. LinkedIn mengklaim telah berhasil memblokir ratusan ribu percobaan komentar otomatis setiap hari dan menggagalkan miliaran aktivitas otomatis, termasuk unggahan massal berbasis AI, dalam beberapa bulan terakhir.<\/p>\n<p>Langkah tegas LinkedIn muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI generatif untuk membuat konten profesional. Sebuah studi dari Pangram Labs sebelumnya memperkirakan sekitar 41 persen unggahan panjang di LinkedIn dibuat sepenuhnya menggunakan AI. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran bahwa linimasa platform dipenuhi tulisan yang terdengar seragam, minim pengalaman pribadi, dan kehilangan nilai orisinalitas.<\/p>\n<p>Melalui berbagai pembaruan ini, LinkedIn berharap dapat menyeimbangkan pemanfaatan AI sebagai alat bantu produktivitas tanpa mengorbankan keaslian komunikasi antarpengguna. Perusahaan menegaskan bahwa meskipun AI dapat digunakan secara bertanggung jawab, pengalaman, perspektif, dan suara asli pengguna tetap menjadi nilai utama dalam membangun jejaring profesional. (LinkedIn\/H-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/917173\/linkedin-hadirkan-fitur-pelaporan-ai-slop-untuk-perangi-konten-ai\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi LinkedIn.(Dok. Magnific) LinkedIn mengambil langkah baru untuk menjaga kualitas percakapan di platformnya dengan memperkenalkan fitur pelaporan bertajuk \u201cSeems like AI slop\u201d atau \u201cterlihat seperti AI slop\u201d. Fitur ini memungkinkan pengguna menandai unggahan yang dinilai terlalu bergantung pada kecerdasan buatan (AI) atau memiliki kualitas rendah sehingga dianggap kurang autentik. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":81110,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-81109","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81109","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81109"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81109\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81110"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81109"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81109"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81109"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}