{"id":80026,"date":"2026-07-30T13:22:41","date_gmt":"2026-07-30T13:22:41","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/30\/arsip-kebencanaan-jadi-kunci-pembelajaran-dan-kesiapsiagaan-hadapi-bencana\/"},"modified":"2026-07-30T13:22:41","modified_gmt":"2026-07-30T13:22:41","slug":"arsip-kebencanaan-jadi-kunci-pembelajaran-dan-kesiapsiagaan-hadapi-bencana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/30\/arsip-kebencanaan-jadi-kunci-pembelajaran-dan-kesiapsiagaan-hadapi-bencana\/","title":{"rendered":"Arsip Kebencanaan Jadi Kunci Pembelajaran dan Kesiapsiagaan Hadapi Bencana"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/30\/1785416476_5393721a74f8096acc21.jpg\" alt=\"Arsip Kebencanaan Jadi Kunci Pembelajaran dan Kesiapsiagaan Hadapi Bencana\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bnpb\" title=\"BNPB\">BNPB<\/a>) menegaskan bahwa <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/arsip-kebencanaan\" title=\"arsip kebencanaan\">arsip kebencanaan<\/a> memiliki peran strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan sekaligus menjadi sumber pembelajaran bagi penanganan bencana di masa mendatang. Kehilangan arsip dinilai dapat membuat generasi berikutnya kehilangan referensi penting dalam menghadapi ancaman serupa.<\/p>\n<p>Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Utama BNPB, Rustian, dalam acara webinar Monitoring dan Evaluasi Penanganan Arsip Terdampak Bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anri\" title=\"ANRI\">ANRI<\/a>), Kamis (30\/7).<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Rustian mengatakan arsip kebencanaan bukan sekadar kumpulan dokumen, melainkan sumber informasi yang sangat menentukan kualitas penanganan bencana pada masa mendatang.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/916166\/dpr-minta-bnpb-petakan-ancaman-el-nino-dan-mitigasi-karhutla-2026\" title=\"DPR Minta BNPB Petakan Ancaman El Nino dan Mitigasi Karhutla 2026\" target=\"_blank\">DPR Minta BNPB Petakan Ancaman El Nino dan Mitigasi Karhutla 2026<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Dalam arsip tersimpan data dan informasi mengenai lokasi kejadian, tinggi genangan, wilayah terdampak, jumlah korban, jalur evakuasi, kondisi pengungsian, kerusakan infrastruktur, keputusan pemerintah, distribusi bantuan, proses pemulihan, hingga berbagai kendala yang dihadapi dalam penanganan bencana,&#8221; kata Rustian.<\/p>\n<p>Menurutnya, arsip juga menyimpan pengetahuan masyarakat yang diwariskan dari pengalaman menghadapi bencana. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya mitigasi.<\/p>\n<p>&#8220;Arsip juga merekam pengetahuan masyarakat tentang kemana warga menyelamatkan diri, tanda-tanda alam apa yang mereka kenali, jalur mana yang dapat dilalui, kelompok mana yang paling rentan, serta keputusan apa yang terbukti efektif maupun yang perlu diperbaiki,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/915199\/bnpb-karhutla-jadi-bencana-paling-banyakdilaporkan\" title=\"BNPB: Karhutla jadi Bencana Paling Banyak\u00a0Dilaporkan\" target=\"_blank\">BNPB: Karhutla jadi Bencana Paling Banyak\u00a0Dilaporkan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Rustian menekankan pentingnya pengelolaan arsip secara baik agar informasi tersebut tetap dapat diakses pada masa mendatang. Ia mengingatkan bahwa hilangnya arsip dapat menghilangkan kesempatan untuk belajar dari pengalaman sebelumnya.<\/p>\n<p>&#8220;Apabila informasi tersebut hilang, rusak, atau tidak dapat diakses, maka generasi berikutnya berisiko memulai kembali dari titik nol. Mereka dapat menghadapi ancaman yang sama tanpa memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman sebelumnya,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Sebaliknya, apabila arsip kebencanaan dapat diselamatkan dan dikelola secara optimal, pengalaman masa lalu dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan langkah-langkah kesiapsiagaan yang lebih efektif. Arsip tersebut dapat dimanfaatkan sebagai rujukan dalam menentukan lokasi evakuasi, menyusun sistem peringatan dini, merancang simulasi kebencanaan, menyiapkan logistik, memperkuat infrastruktur, hingga melindungi kelompok rentan.<\/p>\n<p>&#8220;Menyelamatkan arsip kebencanaan berarti menyelamatkan pembelajaran. Menyelamatkan pembelajaran berarti memperkuat kesiapsiagaan. Dan memperkuat kesiapsiagaan berarti memberikan perlindungan yang lebih baik kepada masyarakat, hari ini dan pada masa yang akan datang,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan itu, Rustian juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelamatan arsip terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.<\/p>\n<p>&#8220;Kami apresiasi kepada Arsip Nasional Republik Indonesia, pemerintah daerah, lembaga kearsipan daerah, BPBD, serta seluruh pihak yang telah bekerja dalam penyelamatan arsip terdampak bencana,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Ia berharap pengalaman dari tiga provinsi tersebut dapat menjadi acuan bagi daerah lain dalam memperkuat tata kelola arsip kebencanaan.<\/p>\n<p>&#8220;Pengalaman penanganan arsip di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat harus menjadi bagian dari pembelajaran nasional. Praktik yang baik perlu direplikasi, sedangkan kekurangan yang ditemukan harus menjadi dasar perbaikan kebijakan, kapasitas sumber daya manusia, peralatan, serta mekanisme koordinasi di daerah,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala ANRI Mego Pinandito menyampaikan bahwa pelaksanaan program penyelamatan arsip di tiga provinsi terdampak dapat terlaksana berkat dukungan BNPB.<\/p>\n<p>&#8220;Terima kasih atas dukungan penuh anggaran, material substansi dan arahan dari BNPB, yang bersama-sama pada akhir tahun lalu memberikan dukungan kepada ANRI. Khususnya di dalam bagaimana bisa menyelamatkan arsip-arsip yang ada di tiga daerah terdampak,&#8221; tutur Mego.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan bahwa penyelamatan tidak hanya difokuskan pada arsip milik pemerintah daerah, tetapi juga berbagai dokumen penting milik masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak hanya arsip pemerintah daerah, hal-hal yang sifatnya keagamaan seperti surat nikah, kartu keluarga, data-data raport siswa dan sebagainya,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Ke depan, kerja sama antara BNPB dan ANRI akan terus diperkuat dengan memperluas upaya dari penyelamatan arsip pascabencana menjadi langkah mitigasi dan kesiapsiagaan bagi arsip yang berada di wilayah rawan bencana.\u00a0<\/p>\n<p>Langkah tersebut dinilai penting mengingat bencana tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik dan terganggunya pelayanan publik, tetapi juga berpotensi menghilangkan dokumen yang menjadi bukti hak masyarakat serta jejak sejarah bangsa. Dengan terselamatkannya arsip, proses pemulihan pelayanan pemerintahan dan penanganan pascabencana diharapkan dapat berlangsung secara lebih efektif, akuntabel, dan berkelanjutan. (H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/916605\/arsip-kebencanaan-jadi-kunci-pembelajaran-dan-kesiapsiagaan-hadapi-bencana\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Istimewa) BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa arsip kebencanaan memiliki peran strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan sekaligus menjadi sumber pembelajaran bagi penanganan bencana di masa mendatang. Kehilangan arsip dinilai dapat membuat generasi berikutnya kehilangan referensi penting dalam menghadapi ancaman serupa. Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Utama BNPB, Rustian, dalam acara webinar Monitoring dan Evaluasi Penanganan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":80027,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-80026","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80026","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=80026"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80026\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/80027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=80026"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=80026"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=80026"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}