{"id":79972,"date":"2026-07-30T11:18:09","date_gmt":"2026-07-30T11:18:09","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/30\/ekosistem-kawasan-jadi-magnet-bisnis\/"},"modified":"2026-07-30T11:18:09","modified_gmt":"2026-07-30T11:18:09","slug":"ekosistem-kawasan-jadi-magnet-bisnis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/30\/ekosistem-kawasan-jadi-magnet-bisnis\/","title":{"rendered":"Ekosistem Kawasan Jadi Magnet Bisnis"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/30\/1785409846_4f6ef250ee0599c298db.jpeg\" alt=\"Ekosistem Kawasan Jadi Magnet Bisnis\"\/><figcaption>Ekosistem kawasan di Serpong.(Dok. MI)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PERHITUNGAN <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pelaku-usaha\" title=\"pelaku usaha\">pelaku usaha<\/a> dalam memilih lokasi bisnis mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya kepadatan lalu lintas menjadi salah satu faktor utama, kini keberadaan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/ekosistem-kawasan\" title=\"Ekosistem kawasan\">ekosistem kawasan<\/a> justru menjadi pertimbangan yang semakin dominan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kawasan\" title=\"kawasan\">Kawasan<\/a> dengan aktivitas yang hidup, didukung hunian, fasilitas pendidikan, ruang publik, hingga beragam kegiatan harian dinilai mampu menciptakan arus pengunjung yang lebih stabil dibandingkan sekadar lokasi dengan tingkat mobilitas kendaraan yang tinggi.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Perubahan perilaku pasar tersebut mengikuti perkembangan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/industri-ritel\" title=\"industri ritel\">industri ritel<\/a> yang kini tidak lagi hanya berorientasi pada transaksi. <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pusat-perbelanjaan\" title=\"pusat perbelanjaan\">Pusat perbelanjaan<\/a> dan area komersial mulai bergeser menjadi ruang interaksi yang menawarkan pengalaman, hiburan, serta aktivitas sosial bagi masyarakat.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/megapolitan\/655337\/little-bangkok-destinasi-belanja-baru-bagi-pelaku-usaha-jastip-di-tanah-abang\" title=\"\u2018Little Bangkok\u2019, Destinasi Belanja Baru  Bagi Pelaku Usaha Jastip di Tanah Abang\" target=\"_blank\">\u2018Little Bangkok\u2019, Destinasi Belanja Baru  Bagi Pelaku Usaha Jastip di Tanah Abang<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Head of Research Services Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan pusat perbelanjaan saat ini semakin memperkuat perannya sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat melalui strategi pemilihan tenant, penyelenggaraan acara, dan penyediaan area komunal.<\/p>\n<p>&#8220;Mal-mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online,&#8221; kata Ferry dikutip pada Kamis (30\/7).\u00a0<\/p>\n<p>Berdasarkan catatan Colliers, aktivitas penyewaan ruang ritel premium di Jakarta masih berlangsung meskipun kondisi pasar pada kuartal I 2026 cukup beragam. Tingkat kekosongan pusat perbelanjaan premium meningkat menjadi 4,2% setelah salah satu department store utama di Mal Kelapa Gading 1 menghentikan operasionalnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/megapolitan\/649340\/penuhi-pelaku-usaha-jastip-pusat-grosir-metro-tanah-abang-hadirkan-little-bangkok\" title=\"Penuhi Pelaku Usaha Jastip, Pusat Grosir Metro Tanah Abang Hadirkan 'Little Bangkok'\" target=\"_blank\">Penuhi Pelaku Usaha Jastip, Pusat Grosir Metro Tanah Abang Hadirkan &#8216;Little Bangkok&#8217;<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi minat sejumlah merek untuk memperluas jaringan. Permintaan ruang tetap muncul, terutama dari sektor makanan dan minuman serta kategori ritel premium.<\/p>\n<p>Beberapa merek minuman teh asal China seperti Yuzhou Tea, Auntea Jenny, dan Naisnow mulai membuka gerai perdana di Indonesia. Sementara itu, segmen parfum mewah juga berkembang dengan masuknya merek seperti Byredo, Loewe Perfumes, Penhaligon\u2019s, dan D\u2019Orsay.<\/p>\n<p>Kehadiran merek-merek baru tersebut menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih memiliki daya tarik. Namun, pelaku usaha kini semakin berhati-hati dalam menentukan titik ekspansi, termasuk mempertimbangkan lokasi, ukuran toko, hingga model gerai yang digunakan.<\/p>\n<p>Selain toko konvensional, sejumlah peritel mulai memilih format alternatif seperti island dan booth untuk menjaga eksistensi merek sekaligus menekan biaya operasional.<\/p>\n<p>Ferry menyebut sektor makanan dan minuman masih menjadi penggerak utama permintaan ruang ritel. Di sisi lain, bisnis olahraga dan kebugaran juga menunjukkan perkembangan seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pola hidup sehat.<\/p>\n<p>Perubahan juga terjadi pada perilaku konsumen, terutama generasi muda. Mereka tidak hanya melihat produk yang dijual, tetapi turut mempertimbangkan pengalaman yang diberikan sebuah merek maupun kawasan.<\/p>\n<p>&#8220;Kondisi ini membuat peritel menyesuaikan strategi, mulai dari ukuran gerai hingga pemilihan lokasi yang dinilai memiliki traffic berkualitas,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Dengan kondisi tersebut, kawasan yang hanya mengandalkan keramaian tidak lagi cukup untuk menjamin keberlangsungan bisnis. Pelaku usaha kini mencari lokasi yang mampu menghadirkan pengunjung dengan kebutuhan sesuai, frekuensi kunjungan tinggi, serta durasi tinggal yang lebih panjang.<\/p>\n<p>Kebutuhan terhadap lokasi berkualitas semakin besar karena pasokan pusat perbelanjaan premium di Jakarta masih terbatas. Sepanjang kuartal I 2026, belum terdapat tambahan mal premium baru. Rencana pengembangan berikutnya masih berasal dari dua proyek, yakni perluasan Kota Kasablanka seluas 56.000 meter persegi yang diproyeksikan hadir pada 2029 serta perluasan Gandaria City seluas 12.000 meter persegi pada 2030.<\/p>\n<p>Keterbatasan pasokan tersebut turut mendorong kenaikan tarif sewa pusat perbelanjaan premium sebesar 1,09% secara kuartalan pada kuartal I 2026. Kenaikan terutama terjadi pada pusat belanja kelas atas yang telah memiliki basis pengunjung dan komposisi tenant yang kuat.<\/p>\n<p>Di tengah situasi itu, merek internasional tetap melanjutkan ekspansi melalui kerja sama dengan grup ritel lokal. Strategi tersebut memberikan dukungan operasional sekaligus membantu merek dalam negosiasi harga dan ketentuan sewa.<\/p>\n<p>Ekspansi merek global diperkirakan masih berlanjut sepanjang 2026, dengan sektor makanan dan minuman sebagai salah satu pendorong utama kebutuhan ruang usaha. Persaingan mendapatkan lokasi strategis di pusat perbelanjaan maupun kawasan komersial utama pun diperkirakan tetap tinggi.<\/p>\n<p>Perkembangan ini membuka peluang bagi kawasan komersial berbasis mixed-use yang mampu membangun sumber kunjungannya sendiri melalui perpaduan fungsi hunian, pendidikan, pekerjaan, olahraga, dan rekreasi.<\/p>\n<p>Konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan kawasan perkotaan yang menggabungkan hunian, area komersial, ruang publik, dan fasilitas pendukung dalam satu lingkungan agar aktivitas ekonomi dapat tumbuh secara berkelanjutan.<\/p>\n<h2>Bangun Ekosistem Aktivitas<\/h2>\n<p>Tren tersebut terlihat dalam pengembangan Serpong CBD yang diarahkan menjadi kawasan dengan aktivitas terintegrasi. Kawasan ini menggabungkan berbagai fungsi, mulai dari hunian, fasilitas pendidikan, ruang terbuka, pusat kuliner, fasilitas olahraga, hingga sarana pendukung mobilitas.<\/p>\n<p>Saat ini, kawasan tersebut telah dihuni lebih dari 12.000 keluarga dan didukung sekitar 2.000 unit rumah toko. Aktivitas masyarakat berlangsung dengan dukungan sejumlah destinasi seperti pusat perbelanjaan, area komersial, ruang publik, serta fasilitas pendukung lainnya.<\/p>\n<p>Pengembangan kawasan akan semakin diperkuat melalui kehadiran The Hood, area komersial berkonsep lakeside retail neighborhood yang berdiri di atas lahan sekitar 10 hektare.<\/p>\n<p>Kawasan tersebut direncanakan mulai beroperasi pada Desember 2026 dengan lebih dari 50 tenant yang mencakup sektor makanan dan minuman, pusat kebugaran, lapangan padel, bioskop, gedung pertunjukan, supermarket, fasilitas wellness, hingga konsep toko buku.<\/p>\n<p>Kombinasi berbagai fungsi tersebut diharapkan menciptakan pola kunjungan yang berlangsung sepanjang hari, tidak hanya bergantung pada akhir pekan atau jam makan.<\/p>\n<p>Di kawasan yang sama, pengembangan ruang usaha terbaru juga disiapkan melalui Strozzi Commercial yang berada di koridor Symphonia Boulevard, Serpong CBD. Lokasinya berada dalam satu jalur aktivitas dengan The Hood dan dapat dijangkau sekitar lima menit berjalan kaki.<\/p>\n<p>Kawasan tersebut juga akan mendapat tambahan aktivitas dari Sekolah Ekayana Genta Bangsa yang dijadwalkan beroperasi pada Juli 2026. Kehadiran fasilitas pendidikan diperkirakan menciptakan pergerakan rutin, terutama pada hari kerja.<\/p>\n<p>Selain itu, area ini terhubung dengan SQP Hub dan fasilitas pengisian kendaraan listrik Zora SPKLU Signature. Berdasarkan data pengembang, sekitar 400 kendaraan melakukan pengisian daya setiap hari di fasilitas tersebut.<\/p>\n<p>Aktivitas tersebut menciptakan peluang baru bagi bisnis sekitar karena pengguna kendaraan listrik membutuhkan waktu tunggu selama proses pengisian daya. Kondisi itu dapat dimanfaatkan oleh usaha makanan dan minuman, ritel kebutuhan harian, layanan personal, hingga bisnis berbasis jasa.<\/p>\n<p>Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur mengatakan pelaku usaha kini melihat sebuah lokasi tidak hanya berdasarkan posisi geografis, tetapi juga berdasarkan kehidupan yang terbentuk di dalam kawasan.<\/p>\n<p>&#8220;Sekarang pelaku usaha bukan cuma melihat apakah lokasinya strategis atau tidak. Mereka juga ingin tahu, apakah kawasannya memang hidup, apakah ada aktivitas yang terus bergerak setiap hari,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Menurut Albert, keberadaan berbagai fungsi dalam satu kawasan menjadi faktor penting dalam menciptakan aktivitas ekonomi.<\/p>\n<p>&#8220;Ketika orang datang untuk tinggal, belajar, bekerja, berolahraga, atau sekadar menghabiskan waktu, aktivitas bisnis biasanya ikut terbentuk. Itu yang terus kami bangun di Serpong CBD,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Strozzi Commercial sendiri dikembangkan dengan pilihan ukuran unit 5 x 16 meter dan 7 x 16 meter yang dapat digunakan untuk berbagai jenis usaha, mulai dari kuliner, ritel, wellness, hingga layanan profesional.<\/p>\n<p>Unit tersebut dilengkapi mezzanine dan didukung akses jalan dengan lebar ROW 36 meter serta 32 meter. Kawasan ini juga menerapkan konsep double-layer parking untuk meningkatkan kapasitas parkir bagi pengunjung dan pelaku usaha.<\/p>\n<p>Dengan konsep tersebut, pelaku usaha memiliki fleksibilitas dalam menyesuaikan desain ruang melalui pilihan serah terima bare maupun finish sesuai kebutuhan merek dan operasional.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, persaingan lokasi bisnis ke depan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kendaraan yang melintas. Kawasan yang mampu menghadirkan aktivitas konsisten, pengunjung yang relevan, serta kebutuhan ekonomi yang terus berkembang akan menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan sebuah bisnis. (Z-10)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/916533\/ekosistem-kawasan-jadi-magnet-bisnis\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ekosistem kawasan di Serpong.(Dok. MI) PERHITUNGAN pelaku usaha dalam memilih lokasi bisnis mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya kepadatan lalu lintas menjadi salah satu faktor utama, kini keberadaan ekosistem kawasan justru menjadi pertimbangan yang semakin dominan. Kawasan dengan aktivitas yang hidup, didukung hunian, fasilitas pendidikan, ruang publik, hingga beragam kegiatan harian dinilai mampu menciptakan arus pengunjung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":79973,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-79972","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79972","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79972"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79972\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79973"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79972"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79972"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79972"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}