{"id":79102,"date":"2026-07-28T20:11:29","date_gmt":"2026-07-28T20:11:29","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/28\/bangunan-sumbang-40-persen-emisi-global-pengelolaan-energi-perlu-berbenah\/"},"modified":"2026-07-28T20:11:29","modified_gmt":"2026-07-28T20:11:29","slug":"bangunan-sumbang-40-persen-emisi-global-pengelolaan-energi-perlu-berbenah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/28\/bangunan-sumbang-40-persen-emisi-global-pengelolaan-energi-perlu-berbenah\/","title":{"rendered":"Bangunan Sumbang 40 Persen Emisi Global, Pengelolaan Energi Perlu Berbenah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/28\/1785249635_c24f91b224b2a4b1953b.jpg\" alt=\"Bangunan Sumbang 40 Persen Emisi Global, Pengelolaan Energi Perlu Berbenah\"\/><figcaption>Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif(Schneider)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Sektor <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bangunan\" title=\"bangunan\">bangunan<\/a> masih menjadi salah satu penyumbang <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/emisi-karbon\" title=\"emisi karbon\">emisi karbon<\/a> terbesar di dunia sekaligus menghadapi tantangan dalam meningkatkan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/efisiensi-energi\" title=\"efisiensi energi\">efisiensi energi<\/a>. Laporan Architecture 2030 (2020) mencatat bangunan berkontribusi hampir 40%\u00a0terhadap total emisi karbon global. Sementara itu, US Environmental Protection Agency (EPA) memperkirakan sekitar 30% energi yang digunakan di gedung terbuang akibat pengelolaan yang belum optimal.<\/p>\n<p>Tantangan tersebut diperparah oleh rendahnya pemanfaatan data dalam industri konstruksi. Berdasarkan kajian Xpera Group, sekitar 95,5% data yang telah dikumpulkan belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal data berperan penting dalam meningkatkan efisiensi operasional. Di sisi lain, McKinsey menempatkan industri bangunan sebagai salah satu sektor dengan tingkat digitalisasi paling rendah, sedangkan Interval Data Systems menyebut sekitar 40% inefisiensi operasional sudah muncul sejak tahap perancangan bangunan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Selain dituntut lebih hemat energi, bangunan juga harus mampu menghadapi berbagai risiko. Insurance Information Institute mencatat dunia mengalami lebih dari 350 bencana alam maupun nonalam setiap tahun. Pada saat yang sama, aspek kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan penghuni menjadi perhatian utama mengingat sebagian besar aktivitas masyarakat berlangsung di dalam gedung.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/796984\/efisiensi-bangunan-hijau-menekan-emisi-karbon\" title=\"Efisiensi Bangunan Hijau Menekan Emisi Karbon\" target=\"_blank\">Efisiensi Bangunan Hijau Menekan Emisi Karbon<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Di Indonesia, transformasi menuju bangunan cerdas terus didorong melalui sejumlah regulasi. Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri PUPR Nomor 10 Tahun 2023 tentang Bangunan Gedung Cerdas, yang mengatur penerapan sistem manajemen gedung berbasis teknologi. Kebijakan tersebut diperkuat melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2025 mengenai manajemen energi pada bangunan dengan konsumsi minimal 500 setara ton minyak per tahun, serta Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur efisiensi energi dan air di berbagai jenis bangunan, seperti perkantoran, rumah sakit, hotel, dan fasilitas pendidikan.<\/p>\n<p>Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif, mengatakan efisiensi energi tidak hanya berarti menekan konsumsi listrik, tetapi memastikan penggunaan energi berlangsung secara optimal tanpa mengurangi keandalan, keselamatan, maupun kenyamanan penghuni.<\/p>\n<p>&#8220;Pendekatan tersebut membutuhkan sistem yang terintegrasi dan berbasis data, mulai dari pemetaan kondisi bangunan hingga optimalisasi sistem kelistrikan, otomasi, dan operasional. Melalui kampanye <em>Teknologi Cerdas untuk Bangunan yang Efisien<\/em>, perusahaan mendorong terciptanya bangunan yang lebih efisien, tangguh, berkelanjutan, dan berorientasi pada kebutuhan manusia,&#8221; ujar Reza.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/814487\/insulasi-jadi-solusi-tersembunyi-di-tengah-krisis-iklim\" title=\"Insulasi Jadi Solusi Tersembunyi di Tengah Krisis Iklim\" target=\"_blank\">Insulasi Jadi Solusi Tersembunyi di Tengah Krisis Iklim<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia menjelaskan konsep tersebut dibangun melalui empat pilar utama, yakni <em>hyper-efficient <\/em>untuk mengoptimalkan kinerja bangunan, resilient agar operasional tetap berjalan saat terjadi gangguan, <em>sustainable <\/em>melalui pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien, serta <em>people-centric<\/em> yang menitikberatkan pada kenyamanan dan produktivitas pengguna.<\/p>\n<p>Untuk mendukung implementasinya, Schneider Electric menghadirkan ekosistem solusi digital yang mengintegrasikan sistem manajemen bangunan, pemantauan konsumsi energi, distribusi daya, hingga layanan asesmen energi dalam satu platform. Teknologi seperti EcoStruxure Building Operation, EcoStruxure Power Monitoring Expert, dan Smart Panel memungkinkan pengelola gedung memantau kondisi bangunan secara real-time, mendeteksi pemborosan energi lebih cepat, meningkatkan keandalan sistem kelistrikan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.<\/p>\n<p>&#8220;Perusahaan juga menyediakan layanan asesmen energi guna membantu pemilik bangunan mengidentifikasi potensi penghematan, mengevaluasi kinerja sistem, serta menyusun strategi peningkatan efisiensi operasional,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Penerapan teknologi tersebut telah dilakukan di berbagai sektor, salah satunya di SMC RS Telogorejo Semarang. Rumah sakit ini mengintegrasikan pemantauan sistem HVAC, kelistrikan, dan <em>uninterruptible power supply <\/em>(UPS) melalui platform digital sehingga pemantauan yang sebelumnya dilakukan secara manual kini berlangsung secara real-time dengan dukungan sistem peringatan otomatis dan pemeliharaan yang lebih proaktif.<\/p>\n<p>Implementasi tersebut memberikan hasil yang signifikan. Pada 2025, biaya listrik rumah sakit berhasil ditekan hingga 5 persen, sekaligus membalikkan tren kenaikan biaya energi yang sebelumnya mencapai sekitar 9% per tahun. Respons terhadap gangguan teknis juga meningkat hingga 60 persen lebih cepat berkat sistem notifikasi otomatis. Selain itu, rumah sakit mampu menjaga kepatuhan 100% terhadap standar suhu dan kelembapan ruang operasi, serta menargetkan penghematan konsumsi listrik bulanan sebesar 10%-15% melalui pengelolaan energi yang lebih terukur. (E-3)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/915771\/bangunan-sumbang-40-persen-emisi-global-pengelolaan-energi-perlu-berbenah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif(Schneider) Sektor bangunan masih menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia sekaligus menghadapi tantangan dalam meningkatkan efisiensi energi. Laporan Architecture 2030 (2020) mencatat bangunan berkontribusi hampir 40%\u00a0terhadap total emisi karbon global. Sementara itu, US Environmental Protection Agency (EPA) memperkirakan sekitar 30% energi yang digunakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":79103,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-79102","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79102","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79102"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79102\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79103"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79102"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79102"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79102"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}