{"id":75869,"date":"2026-07-22T09:01:53","date_gmt":"2026-07-22T09:01:53","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/22\/retinopati-diabetik-gejala-risiko-dan-cara-mencegah-kebutaan-akibat-diabetes\/"},"modified":"2026-07-22T09:01:53","modified_gmt":"2026-07-22T09:01:53","slug":"retinopati-diabetik-gejala-risiko-dan-cara-mencegah-kebutaan-akibat-diabetes","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/22\/retinopati-diabetik-gejala-risiko-dan-cara-mencegah-kebutaan-akibat-diabetes\/","title":{"rendered":"Retinopati Diabetik Gejala, Risiko, dan Cara Mencegah Kebutaan akibat Diabetes"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/22\/1784710662_db795c2642886caa854e.jpeg\" alt=\"Retinopati Diabetik: Gejala, Risiko, dan Cara Mencegah Kebutaan akibat Diabetes\"\/><figcaption>Retinopati diabetik menjadi ancaman serius kebutaan di tengah lonjakan kasus diabetes global.(Dok. Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/diabetes\" title=\"diabetes\">DIABETES<\/a>\u00a0melitus bukan sekadar gangguan kadar gula darah, melainkan ancaman serius bagi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kesehatan-mata\" title=\"kesehatan mata\">kesehatan mata<\/a>. Penyakit metabolik kronis ini berisiko merusak pembuluh darah di retina, yang memicu <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/retinopati-diabetik\" title=\"retinopati diabetik\">retinopati diabetik<\/a> sebagai salah satu penyebab utama gangguan penglihatan hingga <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kebutaan\" title=\"Kebutaan\">kebutaan<\/a> permanen.<\/p>\n<p>Laporan <em>World Health Organization<\/em> (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/who\" title=\"WHO\">WHO<\/a>) menunjukkan lonjakan kasus diabetes yang mengkhawatirkan, meningkat dari 200 juta orang pada 1990 menjadi 830 juta orang pada 2022.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Ironisnya, lebih dari 59% penyandang diabetes berusia di atas 30 tahun belum mendapatkan pengobatan memadai, yang memperbesar risiko komplikasi kerusakan organ.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/912721\/cegah-kebutaan-akibat-diabetes-penyandang-diabetes-wajib-rutin-periksa-retina\" title=\"Cegah Kebutaan akibat Diabetes, Penyandang Diabetes Wajib Rutin Periksa Retina\" target=\"_blank\">Cegah Kebutaan akibat Diabetes, Penyandang Diabetes Wajib Rutin Periksa Retina<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Bahaya Komplikasi Tanpa Gejala<\/h2>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/national-eye-institute\" title=\"National Eye Institute\">National Eye Institute<\/a> (NEI) menjelaskan bahwa retinopati diabetik terjadi akibat kadar gula darah tinggi yang merusak pembuluh darah kecil di retina. Kerusakan ini menyebabkan pembuluh darah bocor atau memicu pertumbuhan pembuluh darah baru yang tidak normal, sehingga mengganggu fungsi penglihatan secara bertahap.<\/p>\n<p>Penyakit ini sangat berbahaya karena sering kali berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Penderita biasanya tidak merasakan nyeri atau gangguan penglihatan hingga terjadi perdarahan atau kebocoran cairan di retina. Banyak kasus baru terdeteksi saat kondisi kerusakan mata sudah memasuki tahap berat.<\/p>\n<h2>Risiko dan Dampak Sistemik<\/h2>\n<p>Risiko penyakit mata diabetik meningkat seiring dengan lamanya seseorang mengidap diabetes. Selain retinopati, penderita diabetes juga lebih rentan terkena katarak dan glaukoma. WHO mencatat bahwa pada 2021, diabetes dan penyakit ginjal terkait menyebabkan lebih dari 2 juta kematian secara global.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/912687\/cegah-kebutaan-permanen-penderita-diabetes-diminta-rutin-periksa-mata\" title=\"Cegah Kebutaan Permanen, Penderita Diabetes Diminta Rutin Periksa Mata\" target=\"_blank\">Cegah Kebutaan Permanen, Penderita Diabetes Diminta Rutin Periksa Mata<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Gula darah yang tidak terkendali tidak hanya menyerang mata, tetapi juga merusak jantung, ginjal, dan saraf. Kadar gula darah tinggi berkontribusi pada sekitar 11% kematian akibat penyakit kardiovaskular di seluruh dunia.<\/p>\n<h2>Deteksi Dini dan Pencegahan<\/h2>\n<p>Kebutaan akibat retinopati diabetik sebenarnya dapat dicegah. NEI merekomendasikan pemeriksaan mata menyeluruh dengan pelebaran pupil (comprehensive dilated eye exam) minimal satu kali setahun. Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat melalui terapi laser, suntikan obat, atau tindakan bedah untuk mempertahankan penglihatan.<\/p>\n<p>WHO menekankan pentingnya pengendalian diabetes secara menyeluruh melalui pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, menjaga berat badan ideal, dan tidak merokok. Kesadaran untuk menjalani pemeriksaan mata berkala menjadi kunci utama dalam melindungi penglihatan di tengah tren peningkatan kasus diabetes dunia. (<em>World Health Organization\/National Eye Institute\/National Institutes of Health\/<\/em>Z-10)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/913531\/retinopati-diabetik-gejala-risiko-dan-cara-mencegah-kebutaan-akibat-diabetes\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Retinopati diabetik menjadi ancaman serius kebutaan di tengah lonjakan kasus diabetes global.(Dok. Magnific) DIABETES\u00a0melitus bukan sekadar gangguan kadar gula darah, melainkan ancaman serius bagi kesehatan mata. Penyakit metabolik kronis ini berisiko merusak pembuluh darah di retina, yang memicu retinopati diabetik sebagai salah satu penyebab utama gangguan penglihatan hingga kebutaan permanen. Laporan World Health Organization (WHO) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":75870,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-75869","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75869","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75869"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75869\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75870"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75869"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75869"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75869"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}