{"id":75803,"date":"2026-07-22T06:13:37","date_gmt":"2026-07-22T06:13:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/22\/brin-restorasi-terumbu-karang-perlu-dipantau-jangka-panjang\/"},"modified":"2026-07-22T06:13:37","modified_gmt":"2026-07-22T06:13:37","slug":"brin-restorasi-terumbu-karang-perlu-dipantau-jangka-panjang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/22\/brin-restorasi-terumbu-karang-perlu-dipantau-jangka-panjang\/","title":{"rendered":"BRIN Restorasi Terumbu Karang Perlu Dipantau Jangka Panjang"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/22\/1784696575_3848d4a058d15d4af854.jpg\" alt=\"BRIN: Restorasi Terumbu Karang Perlu Dipantau Jangka Panjang\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>BADAN Riset dan Inovasi Nasional (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/brin\" title=\"BRIN\">BRIN<\/a>) menegaskan pemantauan jangka panjang menjadi faktor penting untuk menilai keberhasilan program restorasi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/terumbu-karang\" title=\"terumbu karang\">terumbu karang<\/a>.\u00a0<\/p>\n<p>Penelitian menunjukkan terumbu buatan mampu meningkatkan keanekaragaman ikan dalam beberapa tahun, namun pemulihan fungsi ekosistem membutuhkan waktu lebih lama dan tidak berlangsung secara linear.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Albertus Sulaiman mengatakan penelitian jangka panjang diperlukan untuk menghasilkan rekomendasi ilmiah yang mendukung pengelolaan ekosistem yang berketahanan iklim.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/888607\/teknologi-acoustic-enrichment-harapan-baru-restorasi-terumbu-karang\" title=\"Teknologi Acoustic Enrichment: Harapan Baru Restorasi Terumbu Karang\" target=\"_blank\">Teknologi Acoustic Enrichment: Harapan Baru Restorasi Terumbu Karang<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Penelitian jangka panjang merupakan kunci dalam menghasilkan rekomendasi ilmiah yang dapat mendukung pengelolaan ekosistem yang berketahanan iklim,&#8221; kata Albertus, Rabu (22\/7).\u00a0<\/p>\n<p>Peneliti pascadoktoral PRIMA BRIN Zach Boakes menjelaskan evaluasi keberhasilan restorasi selama ini lebih banyak mengacu pada pertumbuhan dan tutupan karang. Padahal, menurutnya, yang lebih penting adalah memastikan fungsi ekosistem benar-benar pulih.<\/p>\n<p>Tim peneliti melakukan studi selama lima tahun, dari 2020 hingga 2024, di Teluk Tianyar, Bali Utara. Penelitian membandingkan terumbu karang alami, kawasan terumbu buatan, dan dasar laut berpasir bekas terumbu karang yang telah terdegradasi. Pengamatan komunitas ikan dilakukan menggunakan metode Remote Underwater Video (RUV).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/888391\/teknologi-speaker-bawah-laut-dipakai-untuk-pulihkan-terumbu-karang\" title=\"Teknologi Speaker Bawah Laut Dipakai untuk Pulihkan Terumbu Karang\" target=\"_blank\">Teknologi Speaker Bawah Laut Dipakai untuk Pulihkan Terumbu Karang<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Hasil penelitian menunjukkan terumbu buatan telah dihuni komunitas ikan yang menyerupai terumbu alami dalam waktu sekitar satu hingga tiga tahun setelah pemasangan. Dibandingkan dasar laut berpasir yang rusak, keberadaan terumbu buatan juga meningkatkan keanekaragaman ikan secara signifikan.<\/p>\n<p>Namun, hingga tahun kelima pemantauan, komposisi komunitas ikan di terumbu buatan masih berbeda dengan terumbu alami. Terumbu buatan lebih banyak dihuni ikan predator, sedangkan terumbu alami didominasi ikan pemakan plankton dan ikan herbivora yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem.<\/p>\n<p>Tim peneliti menyebut perubahan komunitas ikan dipengaruhi berbagai faktor lingkungan, seperti cuaca, perekrutan ikan muda, interaksi predator dan mangsa, serta aktivitas penangkapan ikan.<\/p>\n<p>Karena itu, perkembangan ekosistem hasil restorasi dinilai bersifat dinamis dan tidak dapat disimpulkan hanya dari pengamatan jangka pendek.<\/p>\n<p>Penelitian juga menemukan bahwa kesimpulan evaluasi dapat berbeda jika pemantauan hanya dilakukan selama tiga tahun dibandingkan lima tahun. Oleh sebab itu, BRIN menilai data jangka panjang diperlukan agar efektivitas restorasi dapat dinilai lebih akurat.<\/p>\n<p>Anggota tim riset BRIN Yudawati menambahkan pemahaman jangka panjang juga perlu didukung data kondisi terumbu karang pada masa lampau untuk mengetahui bagaimana ekosistem tersebut beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan iklim.<\/p>\n<p>Menurut BRIN, hasil penelitian ini menjadi masukan bagi pengembangan program <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/restorasi-terumbu-karang\" title=\"restorasi terumbu karang\">restorasi terumbu karang<\/a> di Indonesia. Selain membangun terumbu buatan, keberhasilan restorasi perlu ditopang sistem pemantauan berkelanjutan agar pemulihan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem bagi masyarakat pesisir dapat diukur secara ilmiah.(H-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/913454\/brin-restorasi-terumbu-karang-perlu-dipantau-jangka-panjang\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific.com) BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pemantauan jangka panjang menjadi faktor penting untuk menilai keberhasilan program restorasi terumbu karang.\u00a0 Penelitian menunjukkan terumbu buatan mampu meningkatkan keanekaragaman ikan dalam beberapa tahun, namun pemulihan fungsi ekosistem membutuhkan waktu lebih lama dan tidak berlangsung secara linear. Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Albertus Sulaiman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":75804,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-75803","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75803","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75803"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75803\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75804"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75803"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75803"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75803"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}