{"id":75793,"date":"2026-07-22T05:47:11","date_gmt":"2026-07-22T05:47:11","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/22\/phantom-limb-mengapa-anggota-tubuh-yang-diamputasi-masih-terasa\/"},"modified":"2026-07-22T05:47:11","modified_gmt":"2026-07-22T05:47:11","slug":"phantom-limb-mengapa-anggota-tubuh-yang-diamputasi-masih-terasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/22\/phantom-limb-mengapa-anggota-tubuh-yang-diamputasi-masih-terasa\/","title":{"rendered":"Phantom Limb, Mengapa Anggota Tubuh yang Diamputasi Masih Terasa"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/22\/1784697168_04a837e2129eb44f3ada.jpeg\" alt=\"Phantom Limb, Mengapa Anggota Tubuh yang Diamputasi Masih Terasa?\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KEHILANGAN anggota tubuh akibat <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/amputasi\" title=\"Amputasi\">amputasi<\/a> bukan berarti seluruh sensasi pada bagian tubuh tersebut ikut menghilang. Faktanya, banyak pasien masih merasakan seolah lengan, kaki, atau jari yang telah diamputasi tetap ada. Bahkan, sebagian di antaranya mengalami nyeri yang terasa sangat nyata meski anggota tubuh tersebut sudah tidak lagi dimiliki. Fenomena ini dikenal sebagai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/phantom-limb\" title=\"phantom limb\">phantom limb<\/a> atau anggota tubuh fantom.<\/p>\n<p>Kondisi ini sering kali menimbulkan kebingungan, baik bagi pasien maupun keluarga. Tidak sedikit yang mengira rasa sakit tersebut hanya berasal dari faktor psikologis. Padahal, para ahli menjelaskan phantom limb merupakan gangguan neurologis yang melibatkan sistem saraf dan otak. Karena itu, keluhan yang dirasakan pasien bukanlah sekadar imajinasi, melainkan respons biologis yang dapat dijelaskan secara medis.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h2>Mengapa Phantom Limb Bisa Terjadi?<\/h2>\n<p>Hingga kini, penyebab pasti phantom limb pain belum sepenuhnya dipahami. Meski demikian, para ahli meyakini kondisi ini berkaitan dengan cara otak dan sistem saraf beradaptasi setelah amputasi.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/865585\/pentingnya-pemeriksaan-kaki-untuk-penderita-diabetes-cegah-luka-dan-risiko-amputasi\" title=\"Pentingnya Pemeriksaan Kaki untuk Penderita Diabetes: Cegah Luka dan Risiko Amputasi\" target=\"_blank\">Pentingnya Pemeriksaan Kaki untuk Penderita Diabetes: Cegah Luka dan Risiko Amputasi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Saat anggota tubuh diamputasi, jalur saraf menuju otak sebenarnya masih tersisa. Otak yang selama bertahun-tahun menerima sinyal dari bagian tubuh tersebut belum sepenuhnya mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan mendadak. Akibatnya, sinyal yang berasal dari saraf di area amputasi dapat disalahartikan sebagai rasa sakit yang berasal dari anggota tubuh yang sudah tidak ada. Proses inilah yang menyebabkan pasien tetap merasakan nyeri, gatal, atau sensasi lainnya pada anggota tubuh yang telah hilang.<\/p>\n<h2>Gejala yang Beragam pada Setiap Pasien<\/h2>\n<p>Sensasi phantom limb tidak selalu sama. Beberapa pasien mengaku masih dapat &#8220;menggerakkan&#8221; jari tangan atau kaki yang sebenarnya sudah diamputasi. Sementara itu, pasien lain merasakan nyeri seperti terbakar, tertusuk, berdenyut, kesemutan, kram, hingga sensasi tersengat listrik.<\/p>\n<p>Keluhan ini paling sering muncul dalam enam bulan pertama setelah amputasi. Seiring waktu, frekuensi dan intensitas nyeri umumnya berkurang, meskipun pada sebagian pasien keluhan dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Stres, kelelahan, infeksi, gangguan aliran darah, maupun tekanan pada sisa tungkai dapat memicu atau memperparah nyeri fantom.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/817645\/selamat-dari-tragedi-kaki-kiri-santri-haical-diamputasi\" title=\"Selamat dari Tragedi, Kaki Kiri Santri Haical Diamputasi\" target=\"_blank\">Selamat dari Tragedi, Kaki Kiri Santri Haical Diamputasi<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Penanganan untuk Mengurangi Nyeri<\/h2>\n<p>Karena penyebabnya melibatkan sistem saraf dan otak, penanganan phantom limb pain biasanya memerlukan kombinasi beberapa terapi. Dokter dapat memberikan obat-obatan, seperti antinyeri, antidepresan, atau obat antikejang, sesuai kondisi pasien.<\/p>\n<p>Selain itu, terapi nonobat juga banyak digunakan, salah satunya mirror therapy. Teknik ini memanfaatkan cermin untuk menciptakan ilusi seolah anggota tubuh yang hilang masih ada, sehingga membantu otak membentuk kembali persepsi tubuh dan mengurangi nyeri. Beberapa pasien juga memperoleh manfaat dari stimulasi saraf, fisioterapi, terapi perilaku kognitif, hingga latihan relaksasi.<\/p>\n<p>Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar pasien dapat mengendalikan nyeri fantom sehingga aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup tetap terjaga. (Cleveland Clinic\/-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/913456\/phantom-limb-mengapa-anggota-tubuh-yang-diamputasi-masih-terasa\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) KEHILANGAN anggota tubuh akibat amputasi bukan berarti seluruh sensasi pada bagian tubuh tersebut ikut menghilang. Faktanya, banyak pasien masih merasakan seolah lengan, kaki, atau jari yang telah diamputasi tetap ada. Bahkan, sebagian di antaranya mengalami nyeri yang terasa sangat nyata meski anggota tubuh tersebut sudah tidak lagi dimiliki. Fenomena ini dikenal sebagai phantom limb [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":75794,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-75793","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75793","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75793"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75793\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75793"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75793"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75793"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}