{"id":7485,"date":"2024-07-08T21:00:28","date_gmt":"2024-07-08T21:00:28","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2024\/07\/08\/ini-penyebab-hujan-lebat-berhari-hari-di-tengah-musim-kemarau-menurut-bmkg\/"},"modified":"2024-07-08T21:00:28","modified_gmt":"2024-07-08T21:00:28","slug":"ini-penyebab-hujan-lebat-berhari-hari-di-tengah-musim-kemarau-menurut-bmkg","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2024\/07\/08\/ini-penyebab-hujan-lebat-berhari-hari-di-tengah-musim-kemarau-menurut-bmkg\/","title":{"rendered":"Ini Penyebab Hujan Lebat Berhari-Hari di Tengah Musim Kemarau Menurut BMKG"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n<img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/disk.mediaindonesia.com\/thumbs\/800x467\/news\/2024\/07\/c303c282d9fac7a647f2fff104e727ef.jpg\" alt=\"Ini Penyebab Hujan Lebat Berhari-Hari di Tengah Musim Kemarau Menurut BMKG\"\/><figcaption>Ilustrasi, hujan lebat hingga menyebabkan banjir di beberapa wilayah Jakarta.(Dok. Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bmkg\" title=\"BMKG\" rel=\"dofollow\">BMKG<\/a>) menilai terjadinya fenomena <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/hujan\" title=\"hujan\" rel=\"dofollow\">hujan<\/a> lebat selama beberapa hari pada <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/musim-kemarau\" title=\"Musim Kemarau\" rel=\"dofollow\">musim kemarau<\/a> di wilayah Indonesia bagian barat khususnya <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/jabodetabek\" title=\"Jabodetabek\" rel=\"dofollow\">Jabodetabek<\/a>, merupakan fenomena yang lumrah karena penggerak iklim dan cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor.<\/p>\n<p>Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan faktor-faktor penggerak iklim dan cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh pengaruh geografis dan fenomena alam seperti La Nina, El Nino, IOD, Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial. Hal-hal itu sering kali mengganggu waktu musim hujan dan kemarau menjadi lebih singkat atau lebih panjang, bahkan terjadi guyuran hujan lebat di tengah musim kemarau.\n<\/p>\n<p>\u201cJika fenomena La Nina dan El Nino serta IOD itu mengganggu waktu terjadi musim hujan dan panas dalam beberapa bulan, misalnya hujan atau kemarau menjadi lebih lama hingga berbulan-bulan, sedangkan MJO akan mempengaruhi cuaca dan Iklim jauh lebih singkat dalam skala waktu harian,\u201d ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (8\/7). <\/p>\n<p><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/668896\/bmkg-indonesia-masuki-musim-kemarau-mei-mendatang\" title=\"BMKG: Indonesia Masuki Musim Kemarau Mei Mendatang\" target=\"_blank\" rel=\"dofollow noopener\">BMKG: Indonesia Masuki Musim Kemarau Mei Mendatang<\/a><\/strong>\n<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Dwikora mengatakan peningkatan pembentukan awan-awan hujan yang bergerak di sepanjang khatulistiwa mulai dari Samudra Hindia di sebelah timur Afrika di khatulistiwa menuju Samudra Pasifik merupakan siklus yang akan berulang setiap 40 hingga 60 hari.\n<\/p>\n<p>\u201cJadi nanti dalam beberapa bulan ke depan, musim kemarau itu akan disisipi hujan lebat namun tidak lebih dari tiga hari. Bahkan, dalam sepekan ke depan, masih terdapat potensi peningkatan curah hujan secara signifikan di tengah musim kemarau pada sejumlah wilayah Indonesia,\u201d jelasnya.\n<\/p>\n<p>Fenomena-fenomena alam tersebut, katanya, terjadi karena adanya dinamika atmosfer skala regional-global yang cukup signifikan. Selain itu, suhu permukaan laut yang hangat pada perairan wilayah sekitar Indonesia pun memberikan kontribusi. Awan hujan pun tumbuh signifikan di wilayah Indonesia. <\/p>\n<p><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/megapolitan\/641915\/bmkg-jabodetabek-akan-dilanda-hujan-deras-dan-cuaca-ekstrem-hingga-10-januari\" title=\"BMKG: Jabodetabek akan Dilanda Hujan Deras dan Cuaca Ekstrem hingga 10 Januari\" target=\"_blank\" rel=\"dofollow noopener\">BMKG: Jabodetabek akan Dilanda Hujan Deras dan Cuaca Ekstrem hingga 10 Januari<\/a><\/strong>\n<\/p>\n<p>Dwikora kembali menyebutkan, fenomena itu terjadi sebagian besar wilayah Indonesia khususnya wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sebagian Sumatera.\n<\/p>\n<p>\u201cNamun pada bulan Agustus dan September akan terjadi La Nina yang dipengaruhi oleh suhu muka air laut Samudra Pasifik. Sehingga lanjutnya, pada saat musim kemarau akan mengalami peningkatan curah hujan,\u201d tuturnya.\n<\/p>\n<h2><strong>Geografis Mempengaruhi Musim<\/strong><\/h2>\n<p>Selain faktor fenomena alam, ada pula faktor lain yang mempengaruhi pergeseran iklim dan cuaca du Indonesia yakni letak geografis. Indonesia yang berada diantara benua Asia dan Australia serta berada di pertemuan dua samudra besar yakni Samudra dan Atlantik, ditambah faktor berada di garis ekuator (khatulistiwa), membuat waktu musim kemarau dan hujan seringkali terganggu. <\/p>\n<p><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/632645\/waspada-curah-hujan-di-jabodetabek-meningkat-dan-banjir-rob-di-pesisir-utara-jakarta\" title=\"Waspada! Curah Hujan di Jabodetabek Meningkat dan Banjir Rob di Pesisir Utara Jakarta  \" target=\"_blank\" rel=\"dofollow noopener\">Waspada! Curah Hujan di Jabodetabek Meningkat dan Banjir Rob di Pesisir Utara Jakarta <\/a><\/strong>\n<\/p>\n<p>\u201cMusim kemarau adalah periode ketika curah hujan di suatu tempat berkapasitas kurang dari 50 mm per 10 hari dan terjadi minimal sepanjang 3 hari yang berturut-turut. Secara umum, musim kemarau di Indonesia berkaitan dengan aktifnya monsoon Australia,\u201d jelasnya.\n<\/p>\n<p>Dwikorita menambahkan bahwa musim kemarau terjadi karena ada pergerakan angin dari gurun Australia yang sifatnya kering (monsoon australia), sehingga mengakibatkan curah hujan yang rendah. Hal ini juga diperburuk oleh gerak semu matahari yang menjauhi khatulistiwa sehingga pembentukan awan-awan hujan akan berkurang atau yang disebut.\n<\/p>\n<p>\u201cMusim kemarau di Indonesia tidak terjadi secara bersamaan, tapi berlangsung dengan durasi yang berbeda-beda. Ada yang musim kemarau dimulai dari bulan Mei namun sebagian besar masuk kemarau di bulan Juni bahkan puncaknya Juli dan Agustus,\u201d tuturnya. <\/p>\n<p><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/megapolitan\/627633\/pemprov-dki-antisipasi-banjir-kiriman-hingga-hujan-lokal\" title=\"Pemprov DKI Antisipasi Banjir Kiriman Hingga Hujan Lokal\" target=\"_blank\" rel=\"dofollow noopener\">Pemprov DKI Antisipasi Banjir Kiriman Hingga Hujan Lokal<\/a><\/strong>\n<\/p>\n<p>Sementara untuk musim penghujan, lanjut Dwikora, Indonesia memiliki setidaknya tiga pola hujan yaitu pertama tipe monsun yang diakibatkan oleh angin monsun dasi Asia, tipe ini dikatakan memiliki karakteristik curah hujan perbedaan yang sangat kontras antara musim kemarau dan musim penghujan.\n<\/p>\n<p>\u201cTipe ini biasa ditemukan di wilayah kepulauan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara serta sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan. Jadi pada musim kemarau masih ada hujan namun curah hujannya sangat rendah kurang dari 50 mm dalam 10 hari atau 300 mm dalam sebulan,\u201d jelasnya.\n<\/p>\n<p>Selain itu, ada pula tipe hujan ekuatorial yang terjadi di sebagian besar Pulau Sumatera, sebagian Kalimantan, hampir keseluruhan pulau Sulawesi dan sebagian besar Papua. Hujan dengan tipe ekuatorial, baik di musim kemarau dan hujan, wilayah akan terus diguyur hujan sepanjang tahun.\n<\/p>\n<p>\u201cHampir tidak ada musim kemarau artinya jika ada musim kemarau, curah tetap ada dan kejadian hujan di atas rata-rata. Jadi selalu hujan terus-menerus sehingga saat ini meskipun sebagian besar wilayah Indonesia memasuki kemarau tapi zona ini akan tetap hujan sepanjang tahun,\u201d tuturnya.\n<\/p>\n<p>Sementara tipe hujan terakhir disebut tipe lokal yang terjadi di wilayah sebagian kecil Papua serta Maluku. Tipe ini dipengaruhi oleh faktor topografi sehingga pembentukan awan-awan hujan terjadi secara lokal sehingga fenomena hujan dan kemarau akan terlihat sangat berbeda dan mencolok dari wilayah lainnya.\n<\/p>\n<p>\u201cTipe ini bisa berbeda dan mencolok, jika di tempat lain kemarau, wilayah yang berada di tipe hujan lokal ini bisa saja hujan lebat sendiri, ataupun sebaliknya. Tapi sebagian besar pola hujan di Indonesia adalah tipe monsun yang dapat musim hujan dan musim kemarau seperti saat ini,\u201d jelas Dwikora.\n<\/p>\n<p>Setelah menjelaskan faktor-faktor tersebut, dapat diketahui bahwa cuaca dan iklim yang bergerak di wilayah kepulauan Indonesia iklim dipengaruhi oleh Monsoon angin dari benua Asia dan Australia secara bergantian secara umum serta adanya dua samudra besar yang mengontrol.\n<\/p>\n<p>(Z-9)\n<\/p>\n<\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/683492\/ini-penyebab-hujan-lebat-berhari-hari-di-tengah-musim-kemarau-menurut-bmkg\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi, hujan lebat hingga menyebabkan banjir di beberapa wilayah Jakarta.(Dok. Antara) BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai terjadinya fenomena hujan lebat selama beberapa hari pada musim kemarau di wilayah Indonesia bagian barat khususnya Jabodetabek, merupakan fenomena yang lumrah karena penggerak iklim dan cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7486,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-7485","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7485","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7485"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7485\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7486"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7485"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7485"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7485"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}