{"id":74694,"date":"2026-07-20T05:15:56","date_gmt":"2026-07-20T05:15:56","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/20\/cari-tempat-kemah-di-google-maps-pria-kanada-ini-justru-temukan-kawah-meteor-berusia-390-juta-tahun\/"},"modified":"2026-07-20T05:15:56","modified_gmt":"2026-07-20T05:15:56","slug":"cari-tempat-kemah-di-google-maps-pria-kanada-ini-justru-temukan-kawah-meteor-berusia-390-juta-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/20\/cari-tempat-kemah-di-google-maps-pria-kanada-ini-justru-temukan-kawah-meteor-berusia-390-juta-tahun\/","title":{"rendered":"Cari Tempat Kemah di Google Maps, Pria Kanada Ini Justru Temukan Kawah Meteor Berusia 390 Juta Tahun"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/20\/1784523435_c4e957ea2a67fb563cc8.png\" alt=\"Cari Tempat Kemah di Google Maps, Pria Kanada Ini Justru Temukan Kawah Meteor Berusia 390 Juta Tahun\"\/><figcaption>ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SEBUAH penemuan ilmiah di bidang geologi planet berhasil terungkap melalui aktivitas digital sederhana yang awalnya hanya ditujukan untuk merencanakan liburan berkemah. Seorang pria asal <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kanada\" title=\"Kanada\">Kanada<\/a>, Jo\u00ebl Lapointe, secara tidak sengaja menemukan sebuah anomali struktur topografi berbentuk melingkar yang janggal saat sedang memindai peta digital <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/google-maps\" title=\"Google Maps\">Google Maps<\/a> di kawasan terpencil C\u00f4te-Nord, Quebec<\/p>\n<p>Rasa penasarannya terhadap bentuk menyerupai kawah itu kemudian mengantarkannya pada penemuan ilmiah yang mengungkap keberadaan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kawah-meteor\" title=\"kawah meteor\">kawah meteor<\/a> purba yang diperkirakan berusia sekitar 390 juta tahun.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Lapointe pertama kali melihat cekungan berbentuk lingkaran yang mengelilingi Danau Marsal ketika menyusun rute perjalanan. Ia menduga bentuk tersebut bukan bentang alam biasa, sehingga menghubungi ahli geofisika Pierre Rochette untuk meminta pendapat.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/912154\/jelajahi-google-maps-seorang-pria-temukan-kawah-meteor-berusia-390-juta-tahun\" title=\"Jelajahi Google Maps, Seorang Pria Temukan Kawah Meteor Berusia 390 Juta Tahun\" target=\"_blank\">Jelajahi Google Maps, Seorang Pria Temukan Kawah Meteor Berusia 390 Juta Tahun<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Setelah meninjau citra satelit dan melakukan analisis awal, para peneliti menilai lokasi tersebut memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan kawah hasil tumbukan meteorit.<\/p>\n<p>Untuk memastikan dugaan tersebut, tim ilmuwan melakukan ekspedisi lapangan ke wilayah yang sulit dijangkau pada 2025. Penelitian dipimpin oleh ahli geologi planet Gordon Osinski. Selama ekspedisi, mereka menemukan shatter cones atau kerucut retakan batuan serta batuan lelehan akibat tumbukan (impact melt rock), dua bukti geologi yang menjadi ciri khas tabrakan meteorit berenergi tinggi.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil penanggalan batuan, kawah tersebut diperkirakan terbentuk sekitar 390 juta tahun lalu.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/755959\/begini-cara-pakai-google-maps-offline-untuk-mudik-lebaran\" title=\"Begini Cara Pakai Google Maps Offline Untuk Mudik Lebaran\" target=\"_blank\">Begini Cara Pakai Google Maps Offline Untuk Mudik Lebaran<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Struktur yang kini diberi nama Kawah Uhaachatik memiliki diameter sekitar 25 kilometer atau sekitar 15,5 mil. Penamaan dilakukan bersama masyarakat adat Ekuanitshit Innu sebagai bentuk penghormatan terhadap wilayah tempat kawah tersebut berada. Hingga saat ini, hanya sekitar 200 kawah tumbukan yang telah teridentifikasi di seluruh dunia, sehingga penemuan kawah berukuran besar seperti ini tergolong langka dan memiliki nilai ilmiah yang tinggi.<\/p>\n<p>Menurut Gordon Osinski, penemuan tersebut menunjukkan bahwa citra satelit yang tersedia untuk publik dapat membantu mendukung penelitian ilmiah. Meski sebagian besar laporan dari masyarakat tidak berujung pada penemuan baru, kasus ini menjadi contoh bahwa rasa ingin tahu dan pengamatan yang teliti dapat memberikan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan. Para peneliti berencana melanjutkan penelitian di kawasan tersebut untuk mempelajari dampak tumbukan meteorit terhadap kondisi geologi, iklim, dan lingkungan Bumi pada masa lampau.\u00a0<\/p>\n<p>Penemuan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi digital yang sehari-hari digunakan untuk navigasi dapat membuka peluang bagi lahirnya temuan ilmiah baru. Dari sebuah pencarian lokasi berkemah di Google Maps, sebuah misteri geologi yang tersimpan selama ratusan juta tahun akhirnya berhasil terungkap.\u00a0<\/p>\n<p>(Timesofindia\/P-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/912567\/cari-tempat-kemah-di-google-maps-pria-kanada-ini-justru-temukan-kawah-meteor-berusia-390-juta-tahun\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ilustrasi(Magnific) SEBUAH penemuan ilmiah di bidang geologi planet berhasil terungkap melalui aktivitas digital sederhana yang awalnya hanya ditujukan untuk merencanakan liburan berkemah. Seorang pria asal Kanada, Jo\u00ebl Lapointe, secara tidak sengaja menemukan sebuah anomali struktur topografi berbentuk melingkar yang janggal saat sedang memindai peta digital Google Maps di kawasan terpencil C\u00f4te-Nord, Quebec Rasa penasarannya terhadap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":74695,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-74694","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74694","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=74694"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74694\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74695"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=74694"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=74694"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=74694"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}