{"id":74038,"date":"2026-07-18T13:47:53","date_gmt":"2026-07-18T13:47:53","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/18\/pencemaran-laut-indonesia-meluas-ke-pesisir-guru-besar-ini-ingatkan-bahaya-mikroplastik\/"},"modified":"2026-07-18T13:47:53","modified_gmt":"2026-07-18T13:47:53","slug":"pencemaran-laut-indonesia-meluas-ke-pesisir-guru-besar-ini-ingatkan-bahaya-mikroplastik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/18\/pencemaran-laut-indonesia-meluas-ke-pesisir-guru-besar-ini-ingatkan-bahaya-mikroplastik\/","title":{"rendered":"Pencemaran Laut Indonesia Meluas ke Pesisir, Guru Besar Ini Ingatkan Bahaya Mikroplastik"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/18\/1784381760_b4f0945c5f84a6d58fbb.jpg\" alt=\"Pencemaran Laut Indonesia Meluas ke Pesisir, Guru Besar Ini Ingatkan Bahaya Mikroplastik\"\/><figcaption>Ilustrasi&#8211;Seorang anak berenang antara sampah yang mengapung di laut di Pantai Kalumata Ternate, Maluku Utara, Jumat (15\/11\/2024).(ANTARA\/Andri Saputra)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>KONDISI <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pencemaran\" title=\"pencemaran\">pencemaran<\/a> laut di Indonesia kini berada pada level yang semakin memprihatinkan. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Etty Riani, mengungkapkan bahwa pencemaran tidak lagi hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan, tetapi telah meluas hingga ke wilayah pesisir yang jauh dari pusat aktivitas manusia.<\/p>\n<p>Menurut pakar pencemaran lingkungan dan ekotoksikologi ini, mayoritas polutan yang mencemari lautan justru berasal dari daratan. Limbah domestik, aktivitas industri, sektor pertanian, hingga sampah yang terbawa aliran sungai menjadi kontributor utama rusaknya kualitas air laut.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Selain menurunkan kualitas air, pencemaran juga menyebabkan kerusakan ekosistem penting seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang merupakan habitat vital bagi berbagai biota laut,&#8221; ujar Prof Etty.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/746389\/kontaminasi-mikroplastik-dapat-berdampak-negatif-pada-fungsi-otak\" title=\"Kontaminasi Mikroplastik dapat Berdampak Negatif pada Fungsi Otak\" target=\"_blank\">Kontaminasi Mikroplastik dapat Berdampak Negatif pada Fungsi Otak<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Ancaman <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mikroplastik\" title=\"mikroplastik\">Mikroplastik<\/a> dan Rantai Makanan<\/h3>\n<p>Salah satu sorotan utama dalam krisis ini adalah <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sampah-plastik\" title=\"sampah plastik\">sampah plastik<\/a>. Berdasarkan berbagai penelitian di wilayah pesisir, plastik menjadi penyumbang terbesar pencemaran. Persoalan ini menjadi sangat serius karena sifat plastik yang sulit terurai dan mampu bertahan hingga ratusan tahun di lingkungan.<\/p>\n<p>Seiring berjalannya waktu, plastik akan terfragmentasi menjadi partikel yang jauh lebih kecil, yakni mikroplastik dan nanoplastik. Partikel ini kini telah ditemukan di berbagai elemen laut, mulai dari sedimen hingga biota yang dikonsumsi manusia.<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 12px; text-align: left;\">Kategori Temuan<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 12px; text-align: left;\">Detail Unsur\/Biota Terpapar<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 12px;\">Jenis Sampah Dominan<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 12px;\">Kemasan sekali pakai, kantong plastik, botol, sedotan, styrofoam, jaring, dan tali plastik.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 12px;\">Lokasi Temuan Mikroplastik<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 12px;\">Air laut, sedimen dasar laut, dan garam.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 12px;\">Biota Terdampak<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 12px;\">Ikan, kerang, udang, dan teripang.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Dampak Jangka Panjang: Ekonomi dan Kesehatan<\/h3>\n<p>Prof Etty memperingatkan jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan serius dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, dampaknya akan sangat luas. Penurunan produktivitas perikanan akibat rusaknya habitat akan mengancam ketahanan pangan nasional.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/512126\/studi-limbah-mikroplastik-muara-sungai-ke-teluk-jakarta-meningkat-10-kali-lipat\" title=\"Studi: Limbah Mikroplastik Muara Sungai ke Teluk Jakarta Meningkat 10 Kali Lipat\" target=\"_blank\">Studi: Limbah Mikroplastik Muara Sungai ke Teluk Jakarta Meningkat 10 Kali Lipat<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Dari sisi ekonomi, nelayan akan menjadi kelompok yang paling terdampak karena penurunan jumlah dan kualitas hasil tangkapan. Selain itu, sektor wisata bahari diprediksi akan lesu seiring dengan menurunnya estetika dan kualitas lingkungan pesisir.<\/p>\n<div style=\"background-color: #f9f9f9; padding: 20px; border-left: 5px solid #007bff; margin: 20px 0;\"><strong>Langkah Nyata Masyarakat untuk Mencegah <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pencemaran-laut\" title=\"pencemaran laut\">Pencemaran Laut<\/a>:<\/strong><\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai (tas belanja dan botol minum sendiri).<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Melakukan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Mengolah sampah organik menjadi kompos.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Tidak membuang sampah ke aliran sungai maupun area pantai.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Berpartisipasi aktif dalam aksi bersih sungai dan pantai.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<\/div>\n<p>Sebagai penutup, Prof Etty menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Penanganan pencemaran laut harus dilakukan secara terpadu melalui penguatan penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, serta sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat luas.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan begitu, kita dapat mewariskan ekosistem laut yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,&#8221; pungkasnya. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/912218\/pencemaran-laut-indonesia-meluas-ke-pesisir-guru-besar-ini-ingatkan-bahaya-mikroplastik\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi&#8211;Seorang anak berenang antara sampah yang mengapung di laut di Pantai Kalumata Ternate, Maluku Utara, Jumat (15\/11\/2024).(ANTARA\/Andri Saputra) KONDISI pencemaran laut di Indonesia kini berada pada level yang semakin memprihatinkan. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Etty Riani, mengungkapkan bahwa pencemaran tidak lagi hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan, tetapi telah meluas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":74039,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-74038","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74038","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=74038"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74038\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74039"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=74038"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=74038"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=74038"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}