{"id":73913,"date":"2026-07-18T07:50:44","date_gmt":"2026-07-18T07:50:44","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/18\/jelajahi-google-maps-seorang-pria-temukan-kawah-meteor-berusia-390-juta-tahun\/"},"modified":"2026-07-18T07:50:44","modified_gmt":"2026-07-18T07:50:44","slug":"jelajahi-google-maps-seorang-pria-temukan-kawah-meteor-berusia-390-juta-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/18\/jelajahi-google-maps-seorang-pria-temukan-kawah-meteor-berusia-390-juta-tahun\/","title":{"rendered":"Jelajahi Google Maps, Seorang Pria Temukan Kawah Meteor Berusia 390 Juta Tahun"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/18\/1784360548_5edb5861ae9e9197c1e5.jpeg\" alt=\"Jelajahi Google Maps, Seorang Pria Temukan Kawah Meteor Berusia 390 Juta Tahun\"\/><figcaption>Kawah meteor berusia 390 juta tahun yang tertangkap kamera satelit Google Earth.(CBC\/Gordon Osinski)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>SAAT merencanakan liburan berkemah pada 2024, seorang <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/astronom-amatir\" title=\"astronom amatir\">astronom amatir<\/a> bernama Jo\u00ebl Lapointe tidak sengaja menemukan formasi lingkaran mencurigakan di wilayah C\u00f4te-Nord, Quebec, melalui <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/google-maps\" title=\"Google Maps\">Google Maps<\/a>. Penemuan tersebut kini telah dikonfirmasi tim peneliti sebagai <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kawah-meteor\" title=\"kawah meteor\">kawah meteor<\/a> berusia 390 juta tahun dengan diameter mencapai 25 kilometer.\u00a0<\/p>\n<p>Gordon Osinski, seorang profesor geologi planet di Western University yang memimpin tim peneliti, mengaku sangat terkesan dengan penemuan ini. Ia menjelaskan meskipun dirinya sering menerima laporan potensi kawah baru dari masyarakat, kebanyakan berakhir dengan kekecewaan.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cItu adalah penemuan yang cukup menarik,\u201d ujar Osinski. \u201cIni menunjukkan meskipun 9 dari 10, atau 99 dari 100 laporan mungkin bukan kawah, selalu ada satu yang akan mengejutkan Anda. Ini adalah yang pertama bagi saya.\u201d<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/755959\/begini-cara-pakai-google-maps-offline-untuk-mudik-lebaran\" title=\"Begini Cara Pakai Google Maps Offline Untuk Mudik Lebaran\" target=\"_blank\">Begini Cara Pakai Google Maps Offline Untuk Mudik Lebaran<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Osinski, yang telah bekerja di enam benua, menyebut ekspedisi ini sebagai salah satu yang tersulit yang pernah ia lakukan. Medannya sangat terjal dan tertutup semak belukar, bahkan tim harus mengarungi air setinggi 50 meter dengan membawa peralatan lengkap karena pesawat amfibi yang mereka tumpangi tidak bisa mendarat langsung di daratan.<\/p>\n<p>Di lokasi, tim menemukan bukti geologis yang spektakuler, termasuk tebing batu leleh akibat suhu dan tekanan tinggi dari hantaman asteroid, serta pola shatter cones yang terbentuk akibat gelombang kejut hantaman meteor. Penemuan ini merupakan salah satu kawah terbesar yang ditemukan dalam beberapa tahun terakhir.\u00a0<\/p>\n<p>Jo\u00ebl Lapointe merasa sangat bahagia mengetahui temuan awalnya kini telah diakui secara ilmiah. Kawah tersebut kini diberi nama Uhackatik, sebuah nama yang dipilih melalui konsultasi dengan Dewan Innu Ekuanitshit.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/911302\/3-cara-melacak-lokasi-orang-lain-dengan-nomor-hp\" title=\"3 Cara Melacak Lokasi Orang Lain dengan Nomor HP\" target=\"_blank\">3 Cara Melacak Lokasi Orang Lain dengan Nomor HP<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cBukan setiap hari warga biasa menemukan kawah berusia 390 juta tahun,\u201d tulis Lapointe. Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak mengabaikan intuisi atau observasi mereka, meskipun hal tersebut berada di luar bidang keahlian masing-masing.<\/p>\n<p>Saat ini, kawah tersebut menjadi sorotan di dunia sains internasional. Bulan depan, tim peneliti dijadwalkan untuk mempresentasikan abstrak penelitian mereka di kongres tahunan Meteoritical Society di Jerman.\u00a0<\/p>\n<p>Meskipun penelitian lebih lanjut di laboratorium dan lapangan mungkin masih diperlukan, pengakuan resmi ini menandai tonggak sejarah penting dalam memahami peristiwa purba yang turut membentuk permukaan bumi kita. (CBC\/Business Today\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/912154\/jelajahi-google-maps-seorang-pria-temukan-kawah-meteor-berusia-390-juta-tahun\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kawah meteor berusia 390 juta tahun yang tertangkap kamera satelit Google Earth.(CBC\/Gordon Osinski) SAAT merencanakan liburan berkemah pada 2024, seorang astronom amatir bernama Jo\u00ebl Lapointe tidak sengaja menemukan formasi lingkaran mencurigakan di wilayah C\u00f4te-Nord, Quebec, melalui Google Maps. Penemuan tersebut kini telah dikonfirmasi tim peneliti sebagai kawah meteor berusia 390 juta tahun dengan diameter mencapai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":73914,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-73913","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73913","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=73913"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73913\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/73914"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=73913"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=73913"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=73913"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}