{"id":71334,"date":"2026-07-13T06:31:47","date_gmt":"2026-07-13T06:31:47","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/13\/berawal-dari-pinjaman-rp2-juta-kini-berdayakan-perempuan-dan-difabel\/"},"modified":"2026-07-13T06:31:47","modified_gmt":"2026-07-13T06:31:47","slug":"berawal-dari-pinjaman-rp2-juta-kini-berdayakan-perempuan-dan-difabel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/13\/berawal-dari-pinjaman-rp2-juta-kini-berdayakan-perempuan-dan-difabel\/","title":{"rendered":"Berawal dari Pinjaman Rp2 Juta, Kini Berdayakan Perempuan dan Difabel"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/13\/1783923573_36576e3ff5c087a18dc7.jpg\" alt=\"Berawal dari Pinjaman Rp2 Juta, Kini Berdayakan Perempuan dan Difabel\"\/><figcaption>Sugeng Paijo (kiri) dan istrinya, Khania Kendarsyah (kanan), mengembangkan usaha Jajanan Mamake.(MI\/Lilik Darmawan)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>USAI menikah dengan Khania Kendarsyah, Sugeng Paijo atau yang akrab dipanggil Jojo, memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah petak ukuran 4&#215;5 meter dengan biaya sewa sekitar Rp500 ribu per bulan di <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/cilacap\" title=\"Cilacap\">Cilacap<\/a>, Jawa Tengah.<\/p>\n<p>Khania yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, harus rela meninggalkan pekerjaannya\u00a0sebagai <em>Human Resources Development<\/em> (HRD) sebuah perusahaan untuk menjadi ibu rumah tangga (IRT). Waktu itu, Jojo yang seorang penyandang disabilitas daksa masih sebagai penyiar sebuah radio terkenal di Cilacap.\u00a0<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Karena merasa rumah petak sempit, Jojo dan istrinya pun pindah ke rumah kontrakan milik ibu dari Jojo di Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/910235\/bantuan-sekolah-sembako-dan-modal-usaha-sasar-masyarakat-prasejahtera\" title=\"Bantuan Sekolah, Sembako, dan Modal Usaha Sasar Masyarakat Prasejahtera\" target=\"_blank\">Bantuan Sekolah, Sembako, dan Modal Usaha Sasar Masyarakat Prasejahtera<\/a><\/strong><\/p>\n<p>\u201cTidak usah membayangkan luasannya, karena sama-sama sempitnya. Bahkan, dapur untuk masak hanya berukuran sekitar 3 meter persegi. Kecil sekali. Setiap malam, ketika anak-anak sudah tidur, saya bersama istri memproduksi manggleng. Sebetulnya, itu usaha ibu sejak tahun 2016 yang kemudian saya kembangkan bersama istri,\u201d katanya beberapa saat lalu.<\/p>\n<p>Usaha mulai jalan, kebetulan orang tua ingin mengembangkan dan butuh modal. Kemudian, mereka bertemu dengan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/pnm-mekaar\" title=\"pnm mekaar\">PNM Mekaar<\/a>.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cAda tawaran dari PNM untuk mengembangkan usaha. Namun, karena ibu saya sudah tua, maka disarankan yang meminjam adalah istri saya. Akhirnya, Khania yang meminjam. Pinjaman pertama senilai Rp2 juta. Meski kelihatan kecil, tapi bagi kami sangat bermanfaat. Maka ada lembaga selain PNM memberi pinjaman tanpa agunan. Paling kan rentenir, dan kami jelas tidak mau. Kami tidak punya sertifikat, karena rumah yang kami diami tanahnya milik sebuah perusahaan. Tanah ini hanya hak guna saja. Makanya sebetulnya kami benar-benar tidak memiliki agunan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/909211\/akhirnya-kapal-pertamina-pride-berhasil-melintasi-selat-hormuz-dengan-aman-dan-langsung-menuju-cilacap\" title=\"Akhirnya, Kapal Pertamina Pride Berhasil Melintasi Selat Hormuz dengan Aman dan Langsung Menuju Cilacap\" target=\"_blank\">Akhirnya, Kapal Pertamina Pride Berhasil Melintasi Selat Hormuz dengan Aman dan Langsung Menuju Cilacap<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Dari pinjaman Rp2 juta itulah, usaha bisa kembali jalan. Bahkan, Khania mulai me-<em>rebranding<\/em> jajanan manggleng dengan merek Jajan Mamake.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cDengan modal itu, mulai tahun 2018, kami mencoba untuk mem-<em>branding<\/em> dengan <em>packaging<\/em> yang menarik. Selain itu, kami mulai berjualan lewat media sosial <em>Instagram<\/em> dan <em>marketplace<\/em>. Kami menjual di <em>marketplace<\/em> untuk meningkatkan <em>trust<\/em> publik,\u201d katanya.<\/p>\n<h2>Semakin Fokus<\/h2>\n<p>Tahun 2019 awal, Jojo mundur dari penyiar radio, karena dia bersama istrinya yakin untuk mengembangkan usaha. Apalagi, dirinya sudah melihat ada modal lain yang bisa diraih.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSaya berani mundur, karena waktu itu saya mendapat <em>job<\/em> sebagai <em>event organizer<\/em> (EO) untuk beberapa <em>event<\/em> besar di Cilacap. Pemikiran saya, begitu <em>job<\/em> selesai, tentu akan dapat modal untuk mengembangkan usaha yang mulai ditekuni istri dengan merek <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/jajanan-mamake\" title=\"jajanan mamake\">Jajanan Mamake<\/a>,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Skenario berubah. Mulai akhir 2019 hingga 2020, covid-19 merebak. Termasuk di Indonesia. Modal dari EO gagal diraih. Seluruh acara dibatalkan. Jelas itu menjadi pukulan berat hingga kembali ke titik nadir. Namun, Jojo dan Khania tidak menyerah. Mereka mengintensifkan pemasarannya melalui media sosial dan <em>marketplace<\/em>.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cTernyata ada hikmahnya juga ketika covid-19 melanda. Hampir semua orang mencari makanan secara online. Inilah titik baliknya, dagangan kami laris manis, \u201dujarnya.<\/p>\n<p>Meski serba terbatas, tetapi ternyata media sosial mampu mendongkrak pemasaran.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cLucunya, karena tampilan <em>Instagram<\/em> kami terlihat rapi dan profesional, banyak orang mengira usaha kami sudah besar. Padahal kenyataannya sangat sederhana. Kami bahkan belum memiliki rak <em>display<\/em>. Produk-produk hanya disimpan di dalam kardus. Kalau sekarang cerita itu dikenang memang bisa ditertawakan, tetapi dulu benar-benar masa yang sulit,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Bahkan, pernah ada dua bus wisata dari Teluk Penyu yang ingin mampir ke Jajan Mamake setelah melihat promosi di <em>Instagram<\/em>.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cMereka mengira kami sudah punya toko besar, padahal saat itu kami masih berjualan dari rumah kontrakan kecil. Akhirnya kami hanya bisa mengatakan bahwa tempat sedang direnovasi dan menawarkan untuk mengantarkan pesanan langsung kepada pelanggan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dari situlah perlahan mereka mendapatkan pelanggan, terutama dari kalangan menengah ke atas, seperti tamu hotel dan wisatawan yang mencari oleh-oleh khas Cilacap melalui internet.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cPada saat banyak UMKM baru mulai belajar berjualan online, kami sudah lebih dulu terbiasa menggunakan media sosial dan marketplace. Karena tidak memiliki modal produksi, kami meminta pelanggan melakukan transfer terlebih dahulu sebelum barang diproduksi. Jadi sebenarnya para pembeli itulah yang menjadi modal awal usaha kami. Pada titik ini, peran PNM sangat luar biasa, karena menjadi satu-satunya lembaga pembiayaan yang menyalurkan dana ke kami,\u201d ungkap dia.<\/p>\n<h2>Usaha Berkembang<\/h2>\n<p>Setelah manggleng, keduanya beranjak menekuni jajanan lainnya. Yakni keripik sukun, kentang hingga produk basah brownies dan <em>frozen food<\/em>. Produk yang sangat laku di pasaran adalah keripik sukun.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSelama dalam perjalanan mengembangkan usaha kami, PNM selalu membersamai. Mulai dari pembiayaan, memfasilitasi pelatihan hingga pemasaran. Pokoknya dari hulu sampai hilir,\u201d ungkapnya.\u00a0<\/p>\n<p>Menurutnya, <em>exposure<\/em> usaha semakin moncer ketika Jojo mengikuti sebuah ajang kompetisi Juragan Jaman Now yang diselenggarakan stasiun televisi swasta. \u201cProgram yang ditayangkan pada 2023 tersebut, dampaknya luar biasa. Kami sampai mendapat pesanan stik sukun dalam bentuk produk jadi sebanyak 1,5 ton hingga 2 ton. Pemesannya kebanyakan para penjual di <em>marketplace<\/em>. Produk kami sempat viral waktu itu,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Bahkan, lanjutnya, permintaan stik sukun sebenarnya sudah datang dari Malaysia, Australia, sampai Taiwan. \u201cNamun kami kewalahan memenuhi permintaan tersebut. Problem utamanya ada pada <em>supply chain\u00a0<\/em>(rantai pasok). Sukun bukan tanaman budi daya, ditambah lagi sifatnya musiman. Jadi ketika sedang tidak musim, bahan bakunya benar-benar tidak ada. Dari situ kami mulai berpikir, sebenarnya produk ini punya peluang ekspor. Namun persoalannya tetap sama, yakni pasokan,\u201d ujar dia.<\/p>\n<p>Tidak berhenti di industri kecil makanan, Jojo dan Khania mengepakkan sayap untuk produksi kerajinan. Yang ditangani adalah produk kerajinan berbahan baku gedebok\u00a0atau pelepah pisang. Bagi Jojo, kulit pohon pisang bukanlah limbah, namun dapat menjadi bahan baku kerajinan.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cIde ini muncul dari pengalaman di Jajan Mamake. Ketika permintaan besar tetapi pasokan bahan baku tidak mencukupi. Nah, kulit pohon pisang ini bisa menjadi alternatif karena di mana-mana ada dan tidak bergantung pada musim. Apalagi, produknya dipastikan ramah lingkungan. Saya mulai belajar mengolah pelepah pisang dari berbagai sumber, termasuk <em>YouTube<\/em> dan <em>Instagram<\/em>. Sampai sekarang riset dan pengembangannya masih terus berjalan,\u201d ungkapnya.\u00a0<\/p>\n<p>Pelepah pisang itu diolah hingga menyerupai kulit sintetis. Bahkan ada pihak yang tertarik menggunakan material tersebut untuk sandal hotel. Ketika ada permintaan ekspor, kami sudah siap dari sisi bahan baku dan kualitas produksi. Karena memang arahnya ingin masuk pasar ekspor.<\/p>\n<p>Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari <em>card holder<\/em> atau dompet penyimpan kartu-kartu, <em>wallpaper<\/em> dekoratif, keranjang <em>laundry<\/em>, keranjang sampah, hingga topi. Beberapa produk juga dikolaborasikan dengan perajin lain.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cUntuk pemasaran produk-produk ramah lingkungan ini, kami juga mengarah ke pasar korporasi. Selain melalui <em>Instagram<\/em> dan <em>marketplace<\/em>, kami aktif menjalin relasi dengan perusahaan,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Sementara itu, Khania turut mengurus Kelompok Usaha Bersama (KUB) bernama Wijayapura. Kelompok ini melimpatkan para perempuan di wilayah pesisir Laut Cilacap.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cKami diberi pelatihan <em>ecoprint<\/em> dengan difasilitasi PNM. Sampai sekarang klaster ini masih tetap berjalan. Karena mereka juga dilayani pembiayaan oleh PNM. Saya sendiri juga mendapat pembiayaan hingga Rp14 juta,\u201d tambah Khania.<\/p>\n<p>Berdasarkan perhitungan dari Jojo dan Khansa, usaha yang dirintis dari nol tersebut, sekarang mulai menggeliat dan memiliki omzet hingga puluhan juta.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cOmzet Jajan Mamake saat ini berkisar Rp30 juta per bulan dengan enam pekerja, semuanya perempuan. Dari awal memang kami ingin memberdayakan perempuan, khususnya mereka yang menjadi tulang punggung keluarga atau <em>single parent<\/em>,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Kemudian untuk <em>ecoprint<\/em>, anggota yang terlibat di KUD sekitar 15 orang, mayoritas perempuan dan ada juga teman-teman difabel. \u201cMereka rata-rata merupakan nasabah PNM karena awalnya memang dibentuk sebagai klaster binaan. Omzet <em>ecoprint <\/em>saat ini berkisar Rp15 juta per bulan. Produknya sering dibawa dalam berbagai kegiatan pameran dan promosi, termasuk lewat jejaring kolaborasi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sedangkan untuk kerajinan dari gedebok\u00a0pisang, omzet per bulan saat ini berkisar Rp25 juta.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cMemang arah pasar kami lebih banyak ke korporasi, sehingga pola penjualannya tidak rutin harian, tetapi sekali ada pembelian biasanya langsung dalam jumlah besar. Misalnya, kemarin kami mendapat pesanan dari Baznas hingga Rp21 juta untuk kebutuhan suvenir acara dan pelatihan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<h2>Pelibatan Difabel<\/h2>\n<p>Sebagai seorang penyandang disabilitas, Jojo juga tergerak untuk memperhatikan para difabel di Cilacap. Kemudian dia mendirikan Yayasan Dipa Mandiri Nusantara dan unit usaha Dipa Craft. Meski yayasan baru berdiri pada 2025, embrio gerakan tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak 2022.\u00a0<\/p>\n<p>Berangkat dari pengalaman pribadi sebagai penyandang disabilitas sekaligus aktivitasnya sebagai Ketua Unit Layanan Inklusi Disabilitas Penanggulangan Bencana, Jojo banyak berdialog dengan sesama difabel mengenai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cKetika sering kumpul dan <em>ngobrol <\/em>dengan teman-teman disabilitas, saya melihat sebenarnya bantuan itu cukup banyak. Tetapi sering kali kurang merata, tidak tepat sasaran, dan sifatnya masih <em>charity<\/em>,\u201d ujar Jojo.<\/p>\n<p>Menurutnya, pola bantuan yang hanya bersifat karitatif justru kerap memunculkan ketergantungan. Bahkan dalam jangka panjang dapat menciptakan <em>mental block<\/em> yang menghambat kreativitas dan produktivitas penyandang disabilitas.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cKadang muncul perasaan tidak percaya diri, merasa tidak bisa, dan akhirnya sulit berkembang. Padahal mereka punya potensi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Berangkat dari pengalaman di dunia kewirausahaan, Jojo kemudian mencoba membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada komunitas difabel di Cilacap. Ia ingin penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk mandiri secara ekonomi.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cYayasan Dipa Mandiri Nusantara yang berfokus pada isu strategis pemberdayaan perempuan dan disabilitas. Yayasan tersebut tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan, tetapi juga membangun sistem pendampingan agar peserta benar-benar bisa menjalankan usaha,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Jojo mengatakan, salah satu persoalan terbesar yang dihadapi pelaku UMKM difabel adalah pemasaran dan permodalan. Banyak penyandang disabilitas sebenarnya memiliki keterampilan, tetapi kesulitan mengembangkan usaha karena terbatas modal dan akses pasar.<\/p>\n<p>Untuk menjawab persoalan tersebut, yayasan membentuk Dipa Craft sebagai unit usaha sekaligus ruang produksi bersama. Dalam sistem itu, yayasan berperan sebagai fasilitator.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cMereka kami beri bahan untuk dikerjakan, lalu produk yang dihasilkan kami bantu pasarkan. Jadi teman-teman difabel bisa fokus berkarya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Saat ini, sekitar 20 hingga 25 penyandang disabilitas aktif terlibat dalam berbagai kegiatan produksi dan pemberdayaan di Dipa Craft. Namun dalam proses pendampingan, Jojo menyadari persoalan yang dihadapi penyandang disabilitas ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar ekonomi.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cAda persoalan sosial, kekerasan, sampai pendampingan hukum. Karena itu kami mulai bekerja sama dengan dengan berbagai pihak lain untuk membantu advokasi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menurut Jojo, yayasan yang baru resmi berdiri pada Juni 2025 itu terus berkembang melalui berbagai kolaborasi baru hampir setiap bulan. Salah satu mitra yang aktif mendukung adalah PNM yang selama ini membantu penyerapan produk sekaligus memberikan pelatihan usaha.<\/p>\n<p>\u201cPNM bukan hanya menyalurkan kredit, tetapi juga mendampingi dari hulu sampai hilir. Itu yang sebenarnya sangat dibutuhkan teman-teman difabel,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Melalui Dipa Craft, Jojo dan istrinya mencoba membangun blueprint atau model pengembangan masyarakat inklusif di Cilacap. Mereka ingin membuktikan bahwa usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga harus memberikan dampak sosial dan lingkungan.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cPola pikir usaha ya tetap usaha, tetapi harus ada dampak sosial dan lingkungan. Mudah-mudahan nanti ada penerusnya dan bisa berkelanjutan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selain membangun usaha bersama, yayasan juga mulai merintis sistem pendataan penyandang disabilitas di tingkat kecamatan. Setiap wilayah memiliki perwakilan yang bertugas mendata jumlah penyandang disabilitas, jenis disabilitas, hingga kebutuhan yang mereka hadapi.<\/p>\n<p>Pendataan itu disertai proses mitigasi agar data yang dimiliki benar-benar riil dan lebih akurat. Sebab hingga kini, menurut Jojo, salah satu persoalan utama dalam isu disabilitas adalah minimnya data yang valid dan merata.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cSebenarnya yayasan ini bukan ingin berjalan sendiri secara eksklusif. Kami ingin menjadi jembatan atau fasilitator agar bantuan dari berbagai pihak bisa lebih terarah dan berdampak nyata,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan, banyak bantuan yang sebenarnya diberikan dengan niat baik, tetapi tidak berkelanjutan karena tanpa pendampingan. Misalnya bantuan mesin jahit yang akhirnya mangkrak dan tidak digunakan.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cBukan berarti mereka tidak peduli. Mungkin hanya belum tahu cara membantu yang tepat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Karena itu, ia berharap gerakan inklusivitas tidak berhenti pada bantuan sesaat. Bagi Jojo, penyandang disabilitas membutuhkan ruang untuk berkembang, kesempatan untuk bekerja, dan sistem pendampingan yang berkelanjutan sehingga bisa hidup mandiri di tengah masyarakat. (LD\/E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/910298\/berawal-dari-pinjaman-rp2-juta-kini-berdayakan-perempuan-dan-difabel\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sugeng Paijo (kiri) dan istrinya, Khania Kendarsyah (kanan), mengembangkan usaha Jajanan Mamake.(MI\/Lilik Darmawan) USAI menikah dengan Khania Kendarsyah, Sugeng Paijo atau yang akrab dipanggil Jojo, memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah petak ukuran 4&#215;5 meter dengan biaya sewa sekitar Rp500 ribu per bulan di Cilacap, Jawa Tengah. Khania yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, harus rela [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":71335,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-71334","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71334","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=71334"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71334\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/71335"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=71334"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=71334"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=71334"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}