{"id":71290,"date":"2026-07-13T04:37:37","date_gmt":"2026-07-13T04:37:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/13\/ancaman-miopia-pada-anak-pentingnya-deteksi-dini-dan-manajemen-progresivitas\/"},"modified":"2026-07-13T04:37:37","modified_gmt":"2026-07-13T04:37:37","slug":"ancaman-miopia-pada-anak-pentingnya-deteksi-dini-dan-manajemen-progresivitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/13\/ancaman-miopia-pada-anak-pentingnya-deteksi-dini-dan-manajemen-progresivitas\/","title":{"rendered":"Ancaman Miopia pada Anak Pentingnya Deteksi Dini dan Manajemen Progresivitas"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/13\/1783917317_4adcf4f903ab67f0c257.jpg\" alt=\"Ancaman Miopia pada Anak: Pentingnya Deteksi Dini dan Manajemen Progresivitas\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/miopia\" title=\"miopia\">MIOPIA<\/a> atau <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/rabun-jauh\" title=\"rabun jauh\">rabun jauh<\/a> pada <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/anak\" title=\"anak\">anak<\/a> kini tidak lagi dipandang sekadar gangguan refraksi yang cukup dikoreksi dengan kacamata biasa. Para dokter <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mata\" title=\"mata\">mata<\/a> memperingatkan bahwa kondisi ini telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius karena berpotensi menimbulkan gangguan penglihatan permanen jika tidak ditangani sejak dini.<\/p>\n<p>Pesan tersebut mengemuka dalam <strong>Indonesia Meet The Expert 2026 (Myopia Summit 2026)<\/strong> yang diselenggarakan EssilorLuxottica Indonesia bersama Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jakarta di Jakarta, Minggu (12\/7). Forum ini membahas pentingnya standarisasi manajemen miopia berdasarkan bukti ilmiah terbaru.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<h3>Deteksi Sejak Fase Pre-Myopia<\/h3>\n<p>Ketua Perdami Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, mengungkapkan tren mengkhawatirkan ketika semakin banyak anak berusia di bawah tujuh tahun yang datang dengan kondisi miopia. Ia menekankan bahwa semakin muda usia awal munculnya miopia, semakin cepat pula progresivitasnya.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/908057\/waspada-risiko-mata-minus-pada-anak-akibat-gadget-dan-cara-mencegahnya\" title=\"Waspada Risiko Mata Minus pada Anak Akibat Gadget dan Cara Mencegahnya\" target=\"_blank\">Waspada Risiko Mata Minus pada Anak Akibat Gadget dan Cara Mencegahnya<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><img decoding=\"async\" alt=\"\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/content\/2026\/07\/13\/1783917281_f82ec5fba5eab61907b2.jpg\"\/><strong>MI\/HO<\/strong>&#8212;<em>Indonesia Meet The Expert 2026 (Myopia Summit 2026) <\/em><\/h5>\n<p>Menurut dr. Julie, intervensi idealnya dilakukan sejak fase <em>pre-myopia<\/em>. Secara alami, bayi lahir dengan kondisi hipermetrop (rabun dekat ringan) yang akan normal seiring pertumbuhan bola mata (emetropisasi). Namun, jika proses ini terjadi terlalu cepat, anak berisiko masuk ke fase miopia progresif.<\/p>\n<p><strong>Parameter Fase Pre-Myopia:<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nKondisi ketika ukuran refraksi mata berada di atas minus 0,50 hingga di bawah plus 0,75 dioptri.<\/p>\n<h3>Gaya Hidup dan Faktor Pemicu<\/h3>\n<p>Selain faktor genetik dan keturunan Asia, gaya hidup modern menjadi pemicu utama ledakan kasus miopia. Penggunaan gawai dalam durasi lama, aktivitas membaca jarak dekat (<em>near work<\/em>) yang berlebihan, serta kurangnya aktivitas luar ruangan menjadi sorotan utama para pakar.<\/p>\n<p>Paparan sinar matahari diketahui merangsang produksi dopamin yang berfungsi menghambat pertumbuhan bola mata. Sebaliknya, kebiasaan tidur larut malam dan minimnya waktu bermain di luar rumah akibat jadwal sekolah yang padat mengganggu mekanisme alami ini, sehingga memicu pemanjangan sumbu bola mata (<em>axial length<\/em>).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/899264\/manfaat-aktivitas-luar-ruangan-2-jam-sehari-untuk-kesehatan-mata-anak\" title=\"Manfaat Aktivitas Luar Ruangan 2 Jam Sehari untuk Kesehatan Mata Anak\" target=\"_blank\">Manfaat Aktivitas Luar Ruangan 2 Jam Sehari untuk Kesehatan Mata Anak<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Risiko Komplikasi Permanen<\/h3>\n<p>Membiarkan miopia berkembang tanpa kendali dapat menyebabkan <em>high myopia<\/em> hingga <em>pathologic myopia<\/em>. Berikut adalah beberapa risiko komplikasi yang dapat terjadi:<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #2c3e50; color: white;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px; text-align: left;\">Jenis Komplikasi<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px; text-align: left;\">Dampak pada Penglihatan<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Myopic Maculopathy &amp; Foveoschisis<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Kerusakan pada pusat penglihatan (makula).<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Posterior Staphyloma<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Penipisan dan penonjolan dinding bola mata.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Neuropati Optik<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Gangguan pada saraf optik yang memicu kebutaan.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Macular Hole<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Terbentuknya lubang pada makula.<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<h3>Inovasi Lensa Pengendali Miopia<\/h3>\n<p>Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, menyatakan bahwa manajemen miopia kini bergeser dari sekadar koreksi menjadi pengendalian. Salah satu inovasi yang dipaparkan adalah lensa <strong>Essilor\u00ae Stellest\u00ae<\/strong> dengan teknologi <em>Highly Aspherical Lenslet Target<\/em> (H.A.L.T.).<\/p>\n<p>Lensa ini menggunakan 1.021 lenslet untuk menciptakan sinyal optik yang menghambat pertumbuhan bola mata. Berdasarkan studi klinis selama tujuh tahun, teknologi ini menunjukkan hasil yang signifikan dalam memperlambat laju miopia pada anak dan remaja hingga usia 19 tahun.<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #ecf0f1;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px; text-align: left;\">Indikator Keberhasilan (Studi 7 Tahun)<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px; text-align: left;\">Hasil Capaian<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Perlambatan Perkembangan Miopia<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Hingga 2,30 Dioptri<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">Hambatan Pemanjangan Sumbu Aksial<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #ddd; padding: 10px;\">0,92 Milimeter<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>Konferensi ini juga menghadirkan perspektif internasional dari Dr. Loh Kai Lyn (Singapura) serta pakar nasional seperti Dr. dr. Tri Rahayu, Sp.M(K) dan dr. Devina Nur Annisa, Sp.M(K). Kolaborasi antara akademisi, organisasi profesi, dan industri ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orang tua di Indonesia untuk melakukan pemeriksaan mata rutin sejak dini demi menjaga kualitas penglihatan generasi mendatang. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/910281\/ancaman-miopia-pada-anak-pentingnya-deteksi-dini-dan-manajemen-progresivitas\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) MIOPIA atau rabun jauh pada anak kini tidak lagi dipandang sekadar gangguan refraksi yang cukup dikoreksi dengan kacamata biasa. Para dokter mata memperingatkan bahwa kondisi ini telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius karena berpotensi menimbulkan gangguan penglihatan permanen jika tidak ditangani sejak dini. Pesan tersebut mengemuka dalam Indonesia Meet The Expert 2026 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":71291,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-71290","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71290","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=71290"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71290\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/71291"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=71290"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=71290"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=71290"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}