{"id":71248,"date":"2026-07-13T02:45:36","date_gmt":"2026-07-13T02:45:36","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/13\/676-persen-balita-masih-konsumsi-kental-manis-alarm-bagi-pemerintah\/"},"modified":"2026-07-13T02:45:36","modified_gmt":"2026-07-13T02:45:36","slug":"676-persen-balita-masih-konsumsi-kental-manis-alarm-bagi-pemerintah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/13\/676-persen-balita-masih-konsumsi-kental-manis-alarm-bagi-pemerintah\/","title":{"rendered":"67,6 Persen Balita Masih Konsumsi Kental Manis, Alarm bagi Pemerintah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/13\/1783910522_9c37b70fb365e303c169.jpg\" alt=\"67,6 Persen Balita Masih Konsumsi Kental Manis, Alarm bagi Pemerintah?\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MESKI pemerintah telah menegaskan bahwa <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kental-manis\" title=\"kental manis\">kental manis<\/a> bukanlah produk <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/susu\" title=\"susu\">susu<\/a> melalui regulasi yang ketat sejak hampir satu dekade lalu, praktik di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda. Hingga saat ini, banyak <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/orangtua\" title=\"orangtua\">orangtua<\/a> yang masih memberikan kental manis sebagai asupan susu bagi anak-anak mereka.<\/p>\n<p>Landasan hukum mengenai hal ini tertuang dalam Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018, yang kemudian diperkuat dengan Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2021 tentang Pengawasan Periklanan Pangan Olahan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Regulasi tersebut secara eksplisit melarang kental manis dipromosikan sebagai susu. Namun, efektivitas aturan ini dipertanyakan seiring dengan masih tingginya angka konsumsi yang salah sasaran.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/800027\/keterbatasan-akses-terhadap-makanan-bergizi-sebabkan-orangtua-beri-kental-manis-sebagai-susu-anak\" title=\"Keterbatasan Akses Terhadap Makanan Bergizi Sebabkan Orangtua Beri Kental Manis sebagai Susu Anak\" target=\"_blank\">Keterbatasan Akses Terhadap Makanan Bergizi Sebabkan Orangtua Beri Kental Manis sebagai Susu Anak<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Lead Food and Nutrition Center for Indonesia\u2019s Strategic Development Initiatives (CISDI), Nida Adzilah Auliani, menilai fenomena ini sebagai alarm bagi kesehatan publik.<\/p>\n<p>Menurutnya, persoalan kental manis membuktikan bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak bisa dicapai hanya dengan menerbitkan regulasi di atas kertas.<\/p>\n<p>\u201cSelama bertahun-tahun, masyarakat terpapar promosi yang membangun citra kental manis sebagai produk susu yang identik dengan pertumbuhan dan kesehatan anak. Persepsi yang telah terbentuk dalam waktu lama tentu tidak dapat diubah hanya dengan menertibkan regulasi,\u201d ujar Nida saat dihubungi pada Jumat (10\/7).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/902124\/susu-penting-untuk-anak-kental-manis-bukan-susu\" title=\"Susu Penting untuk Anak, Kental Manis bukan Susu\" target=\"_blank\">Susu Penting untuk Anak, Kental Manis bukan Susu<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Data Survei: Tantangan di Tingkat Rumah Tangga<\/h3>\n<p>Kekhawatiran tersebut didukung oleh temuan terbaru dari survei nasional yang dilakukan Universitas Islam Bandung (Unisba). Survei yang melibatkan 2.150 orangtua <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/balita\" title=\"Balita\">balita<\/a> ini mengungkap data yang cukup mengejutkan terkait persepsi dan pola konsumsi kental manis.<\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin: 20px 0; border: 1px solid #ddd;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #f2f2f2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: left;\">Indikator Survei Unisba<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">Persentase\/Data<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Orangtua yang memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">67,6%<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Mengenal kental manis melalui iklan (TV, Radio, Media Massa)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">66,9%<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Latar belakang pendidikan responden (Lulusan Perguruan Tinggi)<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">Hampir 50%<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd;\">Total Responden<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"padding: 12px; border: 1px solid #ddd; text-align: center;\">2.150 orang tua balita<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<p>Data di atas menunjukkan bahwa pembatasan promosi yang ada saat ini belum berjalan efektif. Selain itu, fakta bahwa hampir separuh responden merupakan lulusan perguruan tinggi menjadi sinyal kuat bahwa masalah ini bukan sekadar persoalan rendahnya tingkat pendidikan.<\/p>\n<h3>Perlunya Pengawasan dan Komunikasi Publik<\/h3>\n<p>Nida menekankan bahwa paparan informasi harian, termasuk promosi produk yang masif, memiliki pengaruh lebih besar terhadap cara pandang masyarakat dibandingkan pendidikan formal. Oleh karena itu, implementasi dan pengawasan aturan menjadi tantangan utama yang harus segera dibenahi.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini paparan produk tidak sehat semakin masif. Persepsi masyarakat tidak hanya dibentuk oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh informasi yang mereka terima setiap hari. Karena itu, perubahan perilaku membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif,\u201d ungkap Nida.<\/p>\n<p>Ia mendesak pemerintah untuk melakukan langkah-langkah konkret sebagai berikut:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Pengawasan yang konsisten terhadap praktik promosi di berbagai lini media.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Penegakan aturan yang tegas terhadap pelanggaran regulasi periklanan.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Komunikasi publik yang berkelanjutan agar masyarakat menerima informasi yang seragam mengenai fungsi dan bahaya penggunaan kental manis sebagai pengganti susu.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Tanpa adanya pengawasan yang ketat dan edukasi yang terus-menerus, regulasi BPOM dikhawatirkan hanya akan menjadi aturan tanpa taring, sementara risiko kesehatan pada balita akibat salah konsumsi terus mengintai. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/910249\/676-persen-balita-masih-konsumsi-kental-manis-alarm-bagi-pemerintah\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) MESKI pemerintah telah menegaskan bahwa kental manis bukanlah produk susu melalui regulasi yang ketat sejak hampir satu dekade lalu, praktik di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda. Hingga saat ini, banyak orangtua yang masih memberikan kental manis sebagai asupan susu bagi anak-anak mereka. Landasan hukum mengenai hal ini tertuang dalam Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":71249,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-71248","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71248","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=71248"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71248\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/71249"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=71248"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=71248"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=71248"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}