{"id":68633,"date":"2026-07-07T17:27:49","date_gmt":"2026-07-07T17:27:49","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/07\/pentingnya-edukasi-obat-herbal-di-tengah-meningkatnya-prevalansi-diabetes\/"},"modified":"2026-07-07T17:27:49","modified_gmt":"2026-07-07T17:27:49","slug":"pentingnya-edukasi-obat-herbal-di-tengah-meningkatnya-prevalansi-diabetes","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/07\/pentingnya-edukasi-obat-herbal-di-tengah-meningkatnya-prevalansi-diabetes\/","title":{"rendered":"Pentingnya Edukasi Obat Herbal di Tengah Meningkatnya Prevalansi Diabetes"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/07\/1783438061_cedff5c6d0dfa87f7e8f.jpg\" alt=\"Pentingnya Edukasi Obat Herbal di Tengah Meningkatnya Prevalansi Diabetes \"\/><figcaption>Pekerja menjemur bahan baku obat herbal.(Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DATA International <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/diabetes\" title=\"diabetes\">Diabetes<\/a> Federation (IDF) tahun 2024 menunjukkan Indonesia memiliki 20,4 juta penderita diabetes dengan prevalensi mencapai 11,3%. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia untuk jumlah penderita diabetes, atau setara dengan satu dari sembilan orang dewasa yang hidup dengan penyakit ini.<\/p>\n<p>Lebih mengkhawatirkan lagi, proyeksi IDF menunjukkan jumlah diabetesi di Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 28,6 juta pada 2045. Kondisi ini memicu tingginya permintaan akan produk herbal sebagai alternatif pengobatan yang lebih terjangkau, namun sayangnya juga membuka celah bagi peredaran produk palsu yang membahayakan.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Perusahaan yang\u00a0 saya pimpin\u00a0 merupakan distributor produk herbal Srevot dan saya mesakan rihatinan terhadap fenomena ini. Di tengah krisis diabetes nasional, justru muncul ancaman baru berupa maraknya produk herbal palsu. Ini sangat berbahaya karena diabetesi adalah kelompok yang sangat rentan terhadap komplikasi kesehatan,&#8221; ungkap Direktur PT. Hollis Media Bariklana, Akhmad Rois kemarin.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/908282\/pentingnya-lifestyle-modification-untuk-tekan-risiko-genetik-diabetes\" title=\"Pentingnya Lifestyle Modification untuk Tekan Risiko Genetik Diabetes\" target=\"_blank\">Pentingnya Lifestyle Modification untuk Tekan Risiko Genetik Diabetes<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong>SASARAN OBAT PALSU<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nMenurut Akhmad, penderita diabetes menjadi target empuk produk palsu karena beberapa faktor. Pertama, biaya pengobatan diabetes yang tinggi mendorong pasien mencari alternatif yang lebih murah. Kedua, diabetes adalah penyakit seumur hidup yang membutuhkan pengobatan konsisten, sehingga menciptakan pasar yang besar dan berkelanjutan. Berbeda dengan produk palsu pada umumnya yang hanya tidak efektif, produk herbal diabetes palsu memiliki risiko yang jauh lebih berbahaya.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Produk palsu bisa mengandung bahan berbahaya atau justru mengandung gula tersembunyi yang memperburuk kondisi diabetes. Lebih parah lagi, diabetesi yang sudah mengonsumsi obat medis bisa mengalami interaksi berbahaya seperti hipoglikemia,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Akhmad menyebut, komplikasi diabetes yang kompleks juga membuat penderita sulit membedakan apakah gejala yang muncul adalah efek samping produk palsu atau perburukan penyakit. Kondisi ini dapat menyebabkan keterlambatan pengobatan yang tepat dan berujung pada komplikasi ireversibel.\u00a0<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/907717\/inovasi-terapi-tirzepatide-resmi-hadir-di-indonesia-untuk-diabetes-tipe-2-dan-obesitas\" title=\"Inovasi Terapi Tirzepatide Resmi Hadir di Indonesia untuk Diabetes Tipe 2 dan Obesitas\" target=\"_blank\">Inovasi Terapi Tirzepatide Resmi Hadir di Indonesia untuk Diabetes Tipe 2 dan Obesitas<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Srevot merupakan produk herbal yang diformulasi khusus untuk membantu meringankan keluhan kencing manis.\u00a0 Produk ini mengandung lima ekstrak herbal pilihan dalam setiap kapsul 500mg, yaitu <em>morinda citrifolia<\/em> (mengkudu) 150mg, <em>tinospora crispa<\/em> (brotowali) 100mg, <em>andrographis paniculata<\/em> (sambiloto) 100mg, <em>moringa oleifera<\/em> (daun kelor) 100mg, dan <em>cinnamomum burmannii <\/em>(kayu manis) 50mg.<\/p>\n<p>&#8220;Setiap ekstrak dalam srevot memiliki peran spesifik. Mengkudu meningkatkan efektivitas insulin, brotowali dan sambiloto menurunkan kadar gula darah, daun Kelor mengurangi glukosa dalam darah dan urine, sementara kayu manis berfungsi sebagai anti-inflamasi untuk mencegah komplikasi. Produk yang telah mengantongi izin BPOM dengan nomor POM TR.243002941 ini diproduksi oleh PT. Putra Harjo Herbal di Sragen dengan standar produksi yang ketat,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p><strong>PANDUAN PRODUK ASLI<\/strong><br \/>&#13;<br \/>\nUntuk melindungi konsumen, sebut Akhmad PT. Hollis Media Bariklana memberi panduan lengkap membedakan produk Srevot original dan palsu. Produk original memiliki ciri-ciri khusus, terdapat logo PHH pada tutup botol dan depan kemasan, bersegel hologram berwarna emas bertuliskan PHH, logo Srevot timbul, serta terdapat barcode BPOM pada kemasan. Ia menghimbau masyarakat untuk selalu membeli produk di toko resmi atau reseller terpercaya.\u00a0 \u00a0<\/p>\n<p>Konsumen dapat mengakses informasi resmi melalui media sosial <em>@srevot.id<\/em> di <em>Instagram <\/em>dan <em>TikTok <\/em>atau melalui toko resmi di <em>Shopee<\/em>. \u201cVerifikasi nomor BPOM di website resmi dan simpan bukti pembelian. Jangan tergiur harga murah yang justru bisa membahayakan kesehatan,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Akhmad menerangkan untuknmengatasi peredaran produk palsu adalah tanggung jawab bersama. Produsen harus menjaga kualitas dan transparansi, pihak distributor harus memastikan distribusi yang aman, pihak regulator melakukan pengawasan ketat. \u201cYang terpenting, konsumen harus menjadi pembeli yang cerdas dan kritis,\u201d tutupnya.(E-2)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/jabar\/berita\/908568\/pentingnya-edukasi-obat-herbal-di-tengah-meningkatnya-prevalansi-diabetes-\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pekerja menjemur bahan baku obat herbal.(Antara) DATA International Diabetes Federation (IDF) tahun 2024 menunjukkan Indonesia memiliki 20,4 juta penderita diabetes dengan prevalensi mencapai 11,3%. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia untuk jumlah penderita diabetes, atau setara dengan satu dari sembilan orang dewasa yang hidup dengan penyakit ini. Lebih mengkhawatirkan lagi, proyeksi IDF menunjukkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":68634,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-68633","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68633","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=68633"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68633\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/68634"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=68633"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=68633"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=68633"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}