{"id":68235,"date":"2026-07-06T23:57:39","date_gmt":"2026-07-06T23:57:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/06\/dua-gagasan-visual-soal-perjalanan\/"},"modified":"2026-07-06T23:57:39","modified_gmt":"2026-07-06T23:57:39","slug":"dua-gagasan-visual-soal-perjalanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/06\/dua-gagasan-visual-soal-perjalanan\/","title":{"rendered":"Dua Gagasan Visual Soal Perjalanan"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/07\/1783380500_a1a5a843f17b2bdb7dc6.jpeg\" alt=\"Dua Gagasan Visual Soal Perjalanan\"\/><figcaption>Thovfa Endone(Dok: Pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PERBINCANGAN soal plagiasi kembali mencuat di jagat maya, kali ini nama <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/thovfa-endone\" title=\"Thovfa Endone\">Thovfa Endone<\/a> dan desain <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/cover-album\" title=\"cover album\">cover album<\/a> bertajuk <em>Bintang di Surga<\/em>\u00a0milik grup band <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/peterpan\" title=\"peterpan\">Peterpan<\/a> yang menjadi bahasan. <em><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/artwork\" title=\"artwork\">Artwork<\/a><\/em>\u00a0album tersebut disebut memiliki kemiripan dengan sampul album <em>Lost Highway<\/em> milik <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/bon-jovi\" title=\"Bon Jovi\">Bon Jovi<\/a>. Rupanya proses memirip-miripkan itu sudah berlangsung bertahun-tahun.<\/p>\n<p>Thovfa membeberkan faktanya, cover <em>Bintang di Surga<\/em>\u00a0rilis pada tahun 2004, sementara\u00a0<em>Lost Highway<\/em>\u00a0muncul di tahun 2007. Meski demikian, Thovfa tidak mengambil pusing persoalan memiripkan tersebut. Baginya, kemiripan tersebut bukan persoalan siapa yang meniru siapa.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>&#8220;Kemiripan itu lebih merupakan pertemuan dua gagasan visual yang sama-sama berbicara tentang perjalanan, bukan hubungan saling meniru,&#8221; kata Thovfa ketika dihubungi <em>Media Indonesia<\/em>, Sabtu (4\/7) kemarin.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/hiburan\/907161\/konser-misterius-bon-jovi-di-baltimore-jelang-tur-dunia-forever\" title=\"Konser Misterius Bon Jovi di Baltimore Jelang Tur Dunia Forever\" target=\"_blank\">Konser Misterius Bon Jovi di Baltimore Jelang Tur Dunia Forever<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Terpenting, perbincangan soal desain cover album ini menjadi pengingat perjalanan sebuah karya yang lahir dari tenggat yang sempit, teknologi yang serba terbatas, serta keberanian menerjemahkan sebuah tema menjadi bahasa visual yang mampu bertahan lintas generasi.<\/p>\n<p><strong>Berawal dari Musik Underground<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai seorang <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/desainer-grafis\" title=\"desainer grafis\">desainer grafis<\/a> yang telah berkarya selama lebih dari dua dekade di industri kreatif, Thovfa mengakui memulai menggarap album musik\u00a0<em>underground<\/em>, mulai dari kompilasi Metalik Klinik, Ska Klinik, hingga <em>artwork<\/em> band seperti Purgatory, Tengkorak, dan Thrashline.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/832553\/adgi-design-week-2025-jadi-pertemuan-berbagai-wujud-desain-grafis\" title=\"ADGI Design Week 2025 Jadi Pertemuan Berbagai Wujud Desain Grafis\" target=\"_blank\">ADGI Design Week 2025 Jadi Pertemuan Berbagai Wujud Desain Grafis<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Ia mengaku belajar desain grafis secara otodidak dan membangun kariernya sebagai desainer lepas melalui EndOneStuff Graphz dengan fokus pada industri hiburan, khususnya musik dan film. Pengalaman itu membawanya bertemu jajaran Musica Studio&#8217;s. Ia pun dipercaya menangani berbagai musisi kondang, mulai dari Shaden, Geisha, D\u2019Masiv hingga Peterpan.<\/p>\n<p>&#8220;Biasanya saya dikasih band-band yang sudah settle. Album pertama jalan, album kedua baru saya dipercaya mengerjakan artwork-nya,&#8221; ujarnya dalam wawancara eksklusif kepada Media Indonesia.<\/p>\n<p>Kesempatan menggarap album kedua Peterpan datang pada pertengahan 2004. Saat itu, ia justru sedang disibukkan oleh persiapan pernikahannya. Seluruh proses pembuatan <em>artwork<\/em>\u00a0<em>Bintang di Surga<\/em> hanya berlangsung sekitar satu minggu. Mulai dari menerima <em>brief<\/em>, menyusun konsep, melakukan pemotretan, hingga menyerahkan desain akhir kepada pihak label.<\/p>\n<p>&#8220;Saya selalu dikasih kebebasan. &#8216;Lu interpretasi aja&#8217;,&#8221; ujarnya mengenang arahan dari pihak Musica.<\/p>\n<p><strong>Berbekal Diskusi<\/strong><\/p>\n<p>Berbekal diskusi dan proses <em>brainstorming<\/em>\u00a0sederhana, Thovfa melahirkan konsep sebuah mobil tua dengan jalan terbentang di depan, sementara visual personel Peterpan terlihat melalui kaca spion. Konsep tersebut tidak berangkat dari referensi karya tertentu. Dari proses yang serba sederhana itulah lahir salah satu artwork album paling dikenang dalam sejarah musik Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Ada sih inspirasinya, tapi zaman dulu cari referensi susah. Jadi lebih banyak dari ide dan <em>brainstorming<\/em>. Waktu itu sempat ngobrol juga sama label, terus saya mengajukan konsep, di-<em>approve<\/em>, ya langsung eksekusi,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Bagi Thovfa, visual jalan yang terlihat dari dalam mobil bukan dimaksudkan sebagai simbol yang rumit. Konsep itu lahir sebagai cara sederhana untuk menerjemahkan tema perjalanan hidup yang menjadi benang merah album <em>Bintang di Surga<\/em>.<\/p>\n<p><strong>Generasi Baru Desainer Grafis<\/strong><\/p>\n<p>Meski dikenal lewat karya-karyanya di industri musik, Thovfa mengaku sudah tidak lagi banyak menggarap <em>artwork<\/em>\u00a0album. Sejak sekitar 2012, ia lebih fokus berkarya di industri perfilman sebagai desainer\u00a0<em>movie poster<\/em>\u00a0dan <em>key art<\/em>\u00a0film. Bahkan, album terakhir yang ia tangani adalah <em>Keterkaitan Keterikatan<\/em> milik Noah pada 2019.<\/p>\n<p>Perpindahan fokus tersebut juga diikuti dengan berbagai pencapaian. Jika sebelumnya ia meraih AMI Awards 2005 untuk kategori Grafis Album Terbaik berkat <em>artwork<\/em>\u00a0<em>Bintang di Surga<\/em> milik Peterpan, di industri film Thovfa sukses menyabet penghargaan Poster Film Terbaik dalam ajang IBOMA Awards selama tiga tahun berturut-turut, masing-masing melalui poster film\u00a0<em>Comic 8: Casino Kings Part 1<\/em>\u00a0(2016), <em>Cek Toko Sebelah<\/em>\u00a0(2017), dan <em>Jailangkung<\/em>\u00a0(2018).<\/p>\n<p>Di sisi lain, Thovfa juga menyoroti karya-karya visual saat ini jauh lebih beragam dibandingkan ketika ia mulai berkecimpung di industri musik pada awal 2000-an. Menurutnya, semakin banyaknya pelaku industri kreatif membuat setiap desainer dituntut memiliki identitas visual yang kuat agar mampu bersaing, bahkan hingga ke pasar global.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau <em>artwork<\/em> musik zaman sekarang lebih variatif, lebih <em>out of the box<\/em>. Senimannya juga jauh lebih banyak,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau karya kita bagus dan berbeda sama yang lain, sebenarnya bisa tembus juga kok&#8221;.(M-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/hiburan\/908204\/dua-gagasan-visual-soal-perjalanan\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Thovfa Endone(Dok: Pribadi) PERBINCANGAN soal plagiasi kembali mencuat di jagat maya, kali ini nama Thovfa Endone dan desain cover album bertajuk Bintang di Surga\u00a0milik grup band Peterpan yang menjadi bahasan. Artwork\u00a0album tersebut disebut memiliki kemiripan dengan sampul album Lost Highway milik Bon Jovi. Rupanya proses memirip-miripkan itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Thovfa membeberkan faktanya, cover Bintang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":68236,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-68235","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68235","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=68235"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68235\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/68236"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=68235"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=68235"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=68235"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}