{"id":67283,"date":"2026-07-04T18:28:38","date_gmt":"2026-07-04T18:28:38","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/04\/dampak-el-nino-2026-sebagian-lahan-sawah-di-aceh-terlambat-tanam-musim-gadu\/"},"modified":"2026-07-04T18:28:38","modified_gmt":"2026-07-04T18:28:38","slug":"dampak-el-nino-2026-sebagian-lahan-sawah-di-aceh-terlambat-tanam-musim-gadu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/04\/dampak-el-nino-2026-sebagian-lahan-sawah-di-aceh-terlambat-tanam-musim-gadu\/","title":{"rendered":"Dampak El Nino 2026 Sebagian Lahan Sawah di Aceh Terlambat Tanam Musim Gadu"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/04\/1783162649_ac47a08e9553134b5b2b.jpg\" alt=\"Dampak El Nino 2026: Sebagian Lahan Sawah di Aceh Terlambat Tanam Musim Gadu\"\/><figcaption>Muhammad Habibi, seorang siswa SD pulang sekolah melewati lahan sawah yang baru ditanami di Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Aceh.(MI\/Amiruddin Abdullah Reubee)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>FENOMENA\u00a0alam <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/el-nino\" title=\"el nino\">El Nino<\/a> mulai menghantui Tanah Air sejak pertengahan Mei 2026. Kondisi kekeringan dan kemarau panjang ini diprediksi akan menyelimuti Nusantara hingga awal tahun 2027 mendatang. Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian, perikanan, dan peternakan, terutama terkait risiko krisis bahan makanan dan ketahanan pangan nasional.<\/p>\n<p>Di Provinsi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/aceh\" title=\"aceh\">Aceh<\/a>, dampak awal <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/musim-kemarau\" title=\"Musim Kemarau\">musim kemarau<\/a> sudah mulai terasa di wilayah yang diapit Selat Malaka dan Samudra Hindia tersebut. Namun, ironisnya, masih banyak lahan sawah milik petani yang saat ini masih dalam tahap olah tanah atau belum ditanami padi untuk musim gadu (musim tanam kedua).<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Di Kabupaten Pidie, keterlambatan tanam terpantau di sebagian kawasan Kecamatan Delima, Padang Tiji, dan Muara Tiga. Wilayah-wilayah yang tertinggal ini umumnya merupakan kawasan sawah tadah hujan yang belum memiliki jaringan irigasi teknis. Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Aceh Besar, tepatnya di Kecamatan Seulimeum dan Kecamatan Lembah Seulawah.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/885672\/ancaman-el-nino-di-depan-mata-petani-aceh-percepat-tanam-padi\" target=\"_blank\" title=\"Ancaman El Nino di Depan Mata, Petani Aceh Percepat Tanam Padi\">Ancaman El Nino di Depan Mata, Petani Aceh Percepat Tanam Padi<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Tokoh Masyarakat Tani Kecamatan Padang Tiji, Muhammad Nasir, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengimbau para petani untuk mempercepat proses tanam pada musim gadu kali ini. Langkah percepatan ini krusial guna menghindari risiko krisis air saat tanaman padi memasuki fase pertumbuhan hingga masa bunting.<\/p>\n<p>&#8220;Ajakan itu sesuai seruan pemerintah. Tapi apa hendak dikata, kondisi di lapangan ternyata berbeda. Petani harus melakukannya secara bertahap atau saling berbagi ketersediaan air yang ada. Apalagi Padang Tiji bukan kawasan irigasi teknis,&#8221; ujar Muhammad Nasir kepada <em>Media Indonesia<\/em>, Sabtu (4\/7).<\/p>\n<p>Berdasarkan data lapangan, luas lahan sawah di Kabupaten Pidie mencapai sekitar 56.504 hektare yang tersebar di 22 kecamatan. Namun, dari total luas tersebut, hanya sekitar 60%\u00a0yang dapat ditanami pada musim tanam gadu. Sisanya terpaksa tidak ditanami karena berbagai kendala, terutama kekhawatiran akan kekurangan pasokan air dan ketiadaan jaringan irigasi.<\/p>\n<div style=\"padding: 15px; border: 1px solid #ccc; background-color: #f9f9f9; margin: 20px 0;\"><strong>Data Pertanian Kabupaten Pidie:<\/strong><\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Total Luas Lahan Sawah: 56.504 Hektare<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Luas Panen Musim Rencengan (Utama): 43.252 Hektare<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Produksi Gabah: 5 hingga 6,2 ton\/hektare<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Cakupan Tanam Musim Gadu: \u00b160% dari total lahan<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<\/div>\n<p>Keterlambatan tanam di tengah ancaman El Nino ini dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas produksi gabah di daerah tersebut, mengingat hasil produksi rata-rata di Pidie mampu mencapai 5 hingga 6,2 ton per hektare pada kondisi normal. (MR\/E-4)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/nusantara\/907549\/dampak-el-nino-2026-sebagian-lahan-sawah-di-aceh-terlambat-tanam-musim-gadu\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Muhammad Habibi, seorang siswa SD pulang sekolah melewati lahan sawah yang baru ditanami di Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Aceh.(MI\/Amiruddin Abdullah Reubee) FENOMENA\u00a0alam El Nino mulai menghantui Tanah Air sejak pertengahan Mei 2026. Kondisi kekeringan dan kemarau panjang ini diprediksi akan menyelimuti Nusantara hingga awal tahun 2027 mendatang. Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":67284,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-67283","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67283","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=67283"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67283\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/67284"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=67283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=67283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=67283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}