{"id":66955,"date":"2026-07-04T04:18:39","date_gmt":"2026-07-04T04:18:39","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/04\/kematian-bintang-bukanlah-akhir-teleskop-james-webb-intip-nasib-masa-depan-tata-surya-kita\/"},"modified":"2026-07-04T04:18:39","modified_gmt":"2026-07-04T04:18:39","slug":"kematian-bintang-bukanlah-akhir-teleskop-james-webb-intip-nasib-masa-depan-tata-surya-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/04\/kematian-bintang-bukanlah-akhir-teleskop-james-webb-intip-nasib-masa-depan-tata-surya-kita\/","title":{"rendered":"Kematian Bintang Bukanlah Akhir, Teleskop James Webb Intip Nasib Masa Depan Tata Surya Kita"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/04\/1783119440_ed35d10ca2f44d913996.jpg\" alt=\"Kematian Bintang Bukanlah Akhir, Teleskop James Webb Intip Nasib Masa Depan Tata Surya Kita\"\/><figcaption>Ilustrasi planet ekstrasolar WD 1856 b yang mengorbit bintang matinya.(Robert Lea)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>MENGGUNAKAN Teleskop Antariksa James Webb (JWST), para astronom berhasil mengamati sebuah eksoplanet gas raksasa yang aneh di orbit sekitar bintang mati (kurcaci putih) berjarak 80 tahun cahaya dari Bumi. Sistem &#8220;kehidupan setelah kematian&#8221; ini memberikan visi yang sangat jelas mengenai rupa Tata Surya kita dalam waktu sekitar 5 miliar tahun ke depan, setelah Matahari kehabisan bahan bakar hidrogen di intinya, melepaskan lapisan luarnya, dan menyisakan sisa-sisa bintang berupa kurcaci putih yang redup.<\/p>\n<p>Sebelum memasuki tahap akhir transformasi tersebut, bintang kita akan membengkak menjadi raksasa merah (red giant) hingga berukuran ratusan kali lipat dari radius aslinya. Proses ini diprediksi akan menelan planet-planet batuan bagian dalam, termasuk Merkurius, Venus, dan kemungkinan besar Bumi, namun membiarkan planet-planet luar tetap bertahan meskipun orbitnya berubah secara ireversibel.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Ryan MacDonald, pemimpin tim peneliti dari University of St Andrews, mengungkapkan kekagumannya terhadap kemampuan observasi ini.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/905673\/teleskop-james-webb-intip-gugus-galaksi-tertua-di-alam-semesta-ilmuwan-bingung-dengan-hasilnya\" title=\"Teleskop James Webb Intip Gugus Galaksi Tertua di Alam Semesta, Ilmuwan Bingung dengan Hasilnya\" target=\"_blank\">Teleskop James Webb Intip Gugus Galaksi Tertua di Alam Semesta, Ilmuwan Bingung dengan Hasilnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Kita biasa melihat ke masa lalu saat menggunakan teleskop, tetapi ini pertama kalinya kita bisa melihat ke depan tentang apa yang mungkin terjadi pada planet-planet luar di sekitar sisa-sisa bintang mirip Matahari; ini seperti menggunakan mesin waktu untuk mengintip ke masa depan Tata Surya kita yang jauh,&#8221; kata Ryan MacDonald.<\/p>\n<p>Ia juga menambahkan optimistis mengenai fase pasca-<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kematian-bintang\" title=\"kematian bintang\">kematian bintang<\/a> ini.<\/p>\n<p>&#8220;Ini hanyalah awal dari eksplorasi kita terhadap planet-planet yang mengorbit bintang mati dengan Webb, dan pencarian planet-planet lain yang mengorbit kurcaci putih terus berlanjut. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kematian bintang bukanlah akhir, beberapa planet mengalami masa depan yang semarak dan hidup setelah kematian bintang mereka,&#8221; tambah MacDonald.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/903304\/teleskop-james-webb-deteksi-angin-pembunuh-galaksi-ramalan-kematian-bima-sakti\" title=\"Teleskop James Webb Deteksi 'Angin Pembunuh Galaksi', Ramalan Kematian Bima Sakti?\" target=\"_blank\">Teleskop James Webb Deteksi &#8216;Angin Pembunuh Galaksi&#8217;, Ramalan Kematian Bima Sakti?<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Teka-Teki Keberadaan Eksoplanet WD 1856 b<\/h2>\n<p>Planet yang diamati tersebut dinamai WD 1856 b, sebuah planet berukuran mirip Jupiter yang pertama kali ditemukan dalam kondisi utuh mengorbit sangat dekat dengan bintang kurcaci putihnya. Orbit planet ini tergolong ekstrem, hanya berukuran sekitar 2% dari jarak Bumi ke Matahari dan menyelesaikan satu putaran penuh (satu tahun) hanya dalam kurun waktu 1,4 hari Bumi.<\/p>\n<p>&#8220;Planet ini tergolong aneh. Ukurannya sekitar Jupiter, tetapi bintang kurcaci putih yang diorbitnya berukuran sebesar Bumi, jadi planet ini tujuh kali lebih besar dari bintangnya,&#8221; jelas MacDonald.<\/p>\n<p>Kedekatan jarak ini memicu pertanyaan besar bagi para ilmuwan. Jika WD 1856 b sudah berada di posisi tersebut ketika bintangnya masih berada dalam fase raksasa merah yang membengkak, planet tersebut seharusnya sudah musnah terbakar dan tertelan.<\/p>\n<p>Christopher O&#8217;Connor, anggota tim dari Northwestern University, menjelaskan dua teori utama mengenai bermigrasinya planet raksasa tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Pertanyaan besarnya adalah bagaimana WD 1856 b bisa berakhir di tempatnya sekarang, dan ada dua teori,&#8221; kata Christopher O&#8217;Connor. &#8220;Salah satunya adalah planet tersebut tertelan oleh bintang induknya saat sedang sekarat, dan berhasil bertahan hidup di dalamnya. Teori lainnya adalah migrasi tersebut terjadi karena efek gravitasi dari objek lain di dalam sistem tersebut. Bintang kurcaci putih ini merupakan bagian dari sistem tiga bintang, dan bintang pendamping di bagian luar bisa saja memengaruhi orbit WD 1856 b.&#8221;<\/p>\n<h2>Misteri Suhu yang Terlalu Panas<\/h2>\n<p>Petunjuk penting yang membantu para ilmuwan memecahkan misteri migrasi ini terletak pada suhunya. Suhu WD 1856 b tercatat mencapai 260 derajat Fahrenheit (127 derajat Celsius), atau sekitar 240 derajat lebih panas daripada yang seharusnya jika satu-satunya sumber panas planet tersebut berasal dari pancaran cahaya bintang kurcaci putihnya yang sudah meredup.<\/p>\n<p>Karena kurcaci putih tidak lagi memproduksi energi baru untuk menghangatkan planet secara masif, tim menyimpulkan bahwa suhu tinggi ini merupakan sisa energi dari proses pemanasan masa lalu. Berdasarkan pemodelan masa pendinginan planet dengan massa antara 4 hingga 11 kali massa Jupiter tersebut, peningkatan suhu kemungkinan besar dipicu oleh gaya pasang surut ekstrem.<\/p>\n<p>&#8220;Saat planet tersebut bergerak ke dalam, interaksinya dengan gravitasi kuat dari kurcaci putih akan menyebabkan planet tersebut memanas secara signifikan, dan sejak saat itu suhunya terus mendingin,&#8221; pungkas O&#8217;Connor.<\/p>\n<p>Penemuan yang dipublikasikan di jurnal Nature ini membuktikan keandalan luar biasa instrumen inframerah milik <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/teleskop-james-webb\" title=\"Teleskop James Webb\">Teleskop James Webb<\/a> senilai US$10 miliar. Menurut salah satu peneliti, Victoria Boehm dari Cornell University, bintang kurcaci putih seperti WD 1856 sangat redup jika dibandingkan dengan bintang-bintang biasa, ditambah dengan waktu transit planet yang sangat singkat, yaitu hanya berlangsung selama 8 menit. &#8220;Jika Anda berkedip, Anda akan melewatkannya!&#8221; ungkap Boehm yang juga mengonfirmasi penemuan jejak hidrokarbon (seperti metana) dan partikel awan kecil di atmosfer planet tersebut. (Space\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/907369\/kematian-bintang-bukanlah-akhir-teleskop-james-webb-intip-nasib-masa-depan-tata-surya-kita\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi planet ekstrasolar WD 1856 b yang mengorbit bintang matinya.(Robert Lea) MENGGUNAKAN Teleskop Antariksa James Webb (JWST), para astronom berhasil mengamati sebuah eksoplanet gas raksasa yang aneh di orbit sekitar bintang mati (kurcaci putih) berjarak 80 tahun cahaya dari Bumi. Sistem &#8220;kehidupan setelah kematian&#8221; ini memberikan visi yang sangat jelas mengenai rupa Tata Surya kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":66956,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-66955","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66955","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66955"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66955\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66956"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}