{"id":66941,"date":"2026-07-04T03:43:56","date_gmt":"2026-07-04T03:43:56","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/04\/kena-dampak-ai-aktor-tiongkok-pemeran-ceo-dominan-ini-kini-jadi-tukang-sayur\/"},"modified":"2026-07-04T03:43:56","modified_gmt":"2026-07-04T03:43:56","slug":"kena-dampak-ai-aktor-tiongkok-pemeran-ceo-dominan-ini-kini-jadi-tukang-sayur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/04\/kena-dampak-ai-aktor-tiongkok-pemeran-ceo-dominan-ini-kini-jadi-tukang-sayur\/","title":{"rendered":"Kena Dampak AI, Aktor Tiongkok Pemeran CEO Dominan Ini Kini Jadi Tukang Sayur"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/04\/1783136282_ce083426587053d7aabe.jpeg\" alt=\"Kena Dampak AI, Aktor Tiongkok Pemeran 'CEO Dominan' Ini Kini Jadi Tukang Sayur\"\/><figcaption>Aktor Xu Peng terpaksa meninggalkan dunia akting setelah industri drama pendek Tiongkok didominasi AI.\u00a0(Tonboriday)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>DAMPAK <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kecerdasan-buatan\" title=\"Kecerdasan Buatan\">kecerdasan buatan<\/a> (AI) terhadap lapangan kerja manusia bukan lagi sekadar kekhawatiran masa depan, melainkan kenyataan pahit yang kini harus dihadapi oleh para pekerja seni. Salah satu korban nyata dari fenomena ini adalah <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/xu-peng\" title=\"Xu Peng\">Xu Peng<\/a>, seorang aktor berusia 30 tahun asal Tiongkok.<\/p>\n<p>Sebelum badai AI melanda, Xu Peng menikmati masa keemasannya dengan jadwal yang sangat padat, bahkan kerap menjalani syuting selama 15 hingga 16 jam sehari. Bintang drama Blood River (2025) yang populer lewat peran &#8220;CEO dominan&#8221; ini kehilangan semua tawaran kerja setelah menyelesaikan proyek terakhirnya Maret lalu.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Akibat peluang kerja yang menyusut, pria yang sempat naik daun lewat industri micro-drama ini terpaksa menghentikan kariernya. Xu Peng memilih pulang ke kampung halamannya di pedesaan Shandong untuk mencari jalan hidup baru.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/907263\/ai-lokal-di-pc-perkuat-produktivitas-sekaligus-jaga-privasi-pengguna\" title=\"AI Lokal di PC Perkuat Produktivitas Sekaligus Jaga Privasi Pengguna\" target=\"_blank\">AI Lokal di PC Perkuat Produktivitas Sekaligus Jaga Privasi Pengguna<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Kini, alih-alih berakting di depan kamera dengan pakaian mewah, ia mengendarai mobil listrik milik keluarganya untuk mengangkut dan menjual sayur-sayuran hasil kebun kakeknya di pasar lokal.<\/p>\n<p>Kendati demikian, kehadirannya di pasar justru menarik perhatian luas setelah foto dan videonya viral di media sosial. Banyak netizen memuji ketangguhannya, dan tidak sedikit penggemar yang sengaja datang ke pasar untuk memberikan dukungan.<\/p>\n<p>Menanggapi perubahan drastis dalam hidupnya, Xu Peng menunjukkan sikap yang sangat tenang dan bijaksana.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/907102\/soroti-orisinalitas-hak-cipta-ranah-digital-di-tengah-kehadiran-ai\" title=\"Soroti Orisinalitas Hak Cipta Ranah Digital di Tengah Kehadiran AI\" target=\"_blank\">Soroti Orisinalitas Hak Cipta Ranah Digital di Tengah Kehadiran AI<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Berakting hanyalah sebuah pekerjaan. Jika tidak ada peran yang bisa diambil, saya akan mencari cara lain untuk menyambung hidup. Selama saya mencari nafkah yang halal melalui kerja keras, tidak ada rintangan yang tidak bisa saya atasi,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Untuk ke depannya, ia berencana mendirikan program pelatihan akting sambil tetap memproduksi drama pendek format live-action demi menjaga impian lamanya tetap hidup.<\/p>\n<h2>Dampak Masif Invasi AI di Industri Drama Pendek<\/h2>\n<p>Industri drama pendek Tiongkok berubah drastis akibat integrasi AI di hampir semua tahap produksi, mulai dari penulisan skenario hingga penyuntingan akhir. Akibatnya, drama pendek buatan AI dapat diselesaikan hanya dalam hitungan hari dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan produksi yang melibatkan manusia.<\/p>\n<p>Laporan menunjukkan dari sekitar 128.000 drama pendek yang dirilis pada kuartal pertama tahun 2026, sekitar 122.000 di antaranya diproduksi menggunakan AI. Angka tersebut mencakup lebih dari 95 persen dari total rilisan baru di pasaran.\u00a0<\/p>\n<p>Invasi AI di industri drama pendek Tiongkok berdampak buruk pada hampir dua juta pekerjaan. Akibatnya, pendapatan aktor papan atas merosot tajam dari yang dulunya mencapai 20.000 yuan (sekitar Rp53 juta) per hari menjadi hanya 1.200 yuan (Rp3,18 juta) per hari, itu pun mereka masih harus berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan. (CNA Lifestyle\/The Straits Times\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/hiburan\/907415\/kena-dampak-ai-aktor-tiongkok-pemeran-ceo-dominan-ini-kini-jadi-tukang-sayur\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aktor Xu Peng terpaksa meninggalkan dunia akting setelah industri drama pendek Tiongkok didominasi AI.\u00a0(Tonboriday) DAMPAK kecerdasan buatan (AI) terhadap lapangan kerja manusia bukan lagi sekadar kekhawatiran masa depan, melainkan kenyataan pahit yang kini harus dihadapi oleh para pekerja seni. Salah satu korban nyata dari fenomena ini adalah Xu Peng, seorang aktor berusia 30 tahun asal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":66942,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-66941","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66941","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66941"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66941\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66942"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66941"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66941"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66941"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}