{"id":66927,"date":"2026-07-04T03:09:03","date_gmt":"2026-07-04T03:09:03","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/04\/langka-dalam-40-dekade-cara-melihat-planet-uranus-yang-berdampingan-dengan-mars-pada-4-juli\/"},"modified":"2026-07-04T03:09:03","modified_gmt":"2026-07-04T03:09:03","slug":"langka-dalam-40-dekade-cara-melihat-planet-uranus-yang-berdampingan-dengan-mars-pada-4-juli","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/04\/langka-dalam-40-dekade-cara-melihat-planet-uranus-yang-berdampingan-dengan-mars-pada-4-juli\/","title":{"rendered":"Langka dalam 40 Dekade Cara Melihat Planet Uranus yang Berdampingan dengan Mars pada 4 Juli"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/04\/1783114785_b88206779ed1b1d2f6f7.jpg\" alt=\"Langka dalam 40 Dekade! Cara Melihat Planet Uranus yang Berdampingan dengan Mars pada 4 Juli\"\/><figcaption>Perkiraan lokasi Mars dan Uranus pada dini hari tanggal 4 Juli.(canva)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>BAGI Anda pencinta <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/astronomi\" title=\"Astronomi\">astronomi<\/a> atau penjelajah langit malam, bersiaplah menyaksikan salah satu fenomena kosmis paling langka dalam hitungan dekade. Pada momen dini hari menjelang subuh, planet es raksasa yang terpencil, Uranus, akan melintas sangat dekat dengan Planet <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/mars\" title=\"Mars\">Mars<\/a> di langit timur.<\/p>\n<p>Banyak yang mengira hanya ada lima planet di tata surya kita yang bisa dilihat langsung dengan mata telanjang dari Bumi. Namun, planet ketujuh dari Matahari, Uranus, sebenarnya juga bisa terlihat dalam kondisi atmosfer tertentu yang mendukung. Karena jaraknya yang amat jauh, Uranus memancarkan cahaya yang sangat redup, berada di batas ambang penglihatan mata telanjang, yaitu sekitar magnitudo 6. Oleh sebab itu, untuk menemukannya, Anda memerlukan langit yang benar-benar gelap dan terbebas dari polusi cahaya kota.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Tantangan kedua dalam mengamati Uranus adalah mengetahui ke mana arah mata harus memandang. Tanpa panduan, Uranus akan dengan mudah tersamar di antara gugusan bintang redup lainnya latar belakang. Beruntung, posisi Mars kali ini akan menjadi pemandu alami yang sangat membantu.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/888735\/misi-psyche-nasa-abadikan-foto-langka-mars-berbentuk-bulan-sabit\" title=\"Misi Psyche NASA Abadikan Foto Langka Mars Berbentuk Bulan Sabit\" target=\"_blank\">Misi Psyche NASA Abadikan Foto Langka Mars Berbentuk Bulan Sabit<\/a><\/strong><\/p>\n<h2>Cara Menemukan Mars Terlebih Dahulu<\/h2>\n<p>Untuk bisa menemukan Uranus, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah mencari keberadaan Planet Merah, Mars. Saat ini, Mars terbit sekitar setengah jam sebelum cahaya fajar pertama menyingsing. Cahayanya masih tergolong redup di magnitudo +1.3, dan jika dilihat menggunakan teleskop, ukurannya akan tampak sangat kecil, yakni kurang dari 4,5 detik busur.<\/p>\n<p>Arahkan pandangan Anda ke arah timur-timur laut, tepatnya di posisi rendah dekat cakrawala, sekitar 5,5 derajat di bawah gugusan bintang Pleiades (Tujuh Bersaudara). Setelah berhasil mengunci posisi Mars yang tampak kemerahan, gunakan bantuan teropong (binokular) atau teleskop kecil. Fokuskan alat optik Anda ke Mars, lalu geser sedikit ke arah atas. Di sana, Anda akan melihat titik cahaya yang jauh lebih redup seperti bintang kecil. Titik itulah <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/planet-uranus\" title=\"Planet Uranus\">Planet Uranus<\/a>.<\/p>\n<h2>Karakteristik Visual Uranus<\/h2>\n<p>Uranus akan tampak menyerupai bintang kecil berwarna kehijauan. Cahayanya terbilang sangat samar, hanya memiliki tingkat kecerahan sekitar 1\/63 dari terangnya Mars.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/882509\/misteri-cincin-terluar-uranus-jejak-bulan-tersembunyi-dan-teka-teki-es\" title=\"Misteri Cincin Terluar Uranus, Jejak Bulan Tersembunyi dan Teka-teki Es\" target=\"_blank\">Misteri Cincin Terluar Uranus, Jejak Bulan Tersembunyi dan Teka-teki Es<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Meskipun secara fisik ukuran Uranus hampir 7,5 kali lebih besar daripada Mars, lokasinya dari Bumi berada 9,5 kali lebih jauh. Berada pada jarak luar biasa jauh sekitar 1,88 miliar mil (atau setara 3,02 miliar kilometer), ukuran semu Uranus di langit malam terlihat sedikit lebih kecil dari Mars, yaitu hanya sekitar 3,5 detik busur.<\/p>\n<h2>Seberapa Dekat Posisi Keduanya?<\/h2>\n<p>Berdasarkan perhitungan dari pakar kalkulasi benda langit asal Belgia, Jean Meeus, posisi Mars dan Uranus berada pada titik terdekatnya saat jarak sudut pemisah keduanya hanya sebesar 6 menit busur.<\/p>\n<p>Sebagai perbandingan astronomis, bintang Mizar, bintang yang berada di tengah gagang rasi bintang Biduk Besar (Big Dipper), dan pendampingnya yang lebih redup, Alcor, terpisah oleh jarak sudut sekitar 12 menit busur. Dengan kata lain, jarak pandang antara Mars dan Uranus di langit nanti malam hanya setengah dari jarak Mizar dan Alcor.<\/p>\n<p>Bagi pengamat yang memiliki penglihatan sangat tajam dan berada di lokasi yang benar-benar gelap gulita tanpa polusi cahaya, tantangan melihat Uranus tanpa alat bantu optik bisa saja dicoba. Namun, penggunaan binokular atau teleskop kecil sangat direkomendasikan agar pengalaman mengamati menjadi jauh lebih mudah dan jelas.<\/p>\n<p>Secara astronomis, fenomena konjungsi atau pertemuan antara Mars dan Uranus rata-rata terjadi setiap 2,38 tahun sekali. Kendati demikian, pertemuan dengan jarak yang luar biasa dekat seperti kali ini adalah peristiwa yang sangat langka, karena rata-rata hanya terjadi sekali dalam 40 tahun. Fenomena serupa yang dapat terlihat dengan jelas di langit malam yang gelap diprediksi baru akan terjadi lagi pada tanggal 8 Desember 2147 mendatang.<\/p>\n<h2>Target Bonus: Bintang HIP 19146<\/h2>\n<p>Bagi Anda yang mengamati fenomena ini menggunakan teleskop kecil, ada objek tambahan yang menarik untuk dibidik. Tepat sekitar 2 menit busur di bawah Uranus, terdapat objek yang jauh lebih redup lagi.<\/p>\n<p>Perlu dicatat bahwa objek tersebut bukanlah satelit alami atau bulan milik Uranus, melainkan sebuah bintang latar belakang yang terdaftar dalam katalog astronomi sebagai HIP 19146. Kode &#8220;HIP&#8221; ini merujuk pada satelit Hipparcos milik Badan Antariksa Eropa (ESA) yang diluncurkan pada tahun 1989 dan beroperasi hingga 1993. Hipparcos merupakan misi antariksa pertama di dunia yang didedikasikan khusus untuk astrometri presisi, yaitu pengukuran akurat mengenai posisi dan jarak benda-benda langit.<\/p>\n<p>Bintang HIP 19146 memiliki kekuatan cahaya bermagnitudo 8, yang berarti sinarnya sekitar 11 kali lebih redup jika dibandingkan dengan Uranus. Bintang ini terletak sangat jauh di kedalaman alam semesta, yakni berjarak kurang lebih 882 tahun cahaya dari planet Bumi. Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk menatap keajaiban tata surya kita! (Space\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/teknologi\/907351\/langka-dalam-40-dekade-cara-melihat-planet-uranus-yang-berdampingan-dengan-mars-pada-4-juli\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perkiraan lokasi Mars dan Uranus pada dini hari tanggal 4 Juli.(canva) BAGI Anda pencinta astronomi atau penjelajah langit malam, bersiaplah menyaksikan salah satu fenomena kosmis paling langka dalam hitungan dekade. Pada momen dini hari menjelang subuh, planet es raksasa yang terpencil, Uranus, akan melintas sangat dekat dengan Planet Mars di langit timur. Banyak yang mengira [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":66928,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-66927","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66927","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66927"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66927\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66928"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66927"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66927"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66927"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}