{"id":66473,"date":"2026-07-03T04:58:46","date_gmt":"2026-07-03T04:58:46","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/03\/dua-lipa-buka-perpustakaan-khusus-buku-terlarang-di-portugal\/"},"modified":"2026-07-03T04:58:46","modified_gmt":"2026-07-03T04:58:46","slug":"dua-lipa-buka-perpustakaan-khusus-buku-terlarang-di-portugal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/03\/dua-lipa-buka-perpustakaan-khusus-buku-terlarang-di-portugal\/","title":{"rendered":"Dua Lipa Buka Perpustakaan Khusus Buku Terlarang di Portugal"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/03\/1783053036_9c3ddeda7aabae500f8e.png\" alt=\"Dua Lipa Buka Perpustakaan Khusus Buku Terlarang di Portugal\"\/><figcaption>Penyanyi Dua Lipa,(Instagram\/service95bookclub)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>PENYANYI pop dunia, <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/dua-lipa\" title=\"Dua Lipa\">Dua Lipa<\/a>, membawa kecintaannya terhadap dunia literasi ke tingkat yang lebih tinggi. Sukses menginisiasi klub buku digital Service95 sejak tahun 2021, bintang pop berusia 30 tahun tersebut kini resmi membuka <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/perpustakaan\" title=\"perpustakaan\">perpustakaan<\/a> fisik pertamanya yang diberi nama Manifesto Library.<\/p>\n<p>Menariknya, perpustakaan ini didedikasikan khusus untuk menampung koleksi buku yang pernah dilarang atau disensor di berbagai belahan dunia. Perpustakaan ini bertempat di dalam toko buku bersejarah yang terkenal di Porto, Portugal, yaitu Livraria Lello, dan telah resmi dibuka pada 27 Juni 2026.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Melalui Manifesto Library di Livraria Lello, Dua Lipa dan klub bukunya mengumpulkan sekitar 100 buku kontemporer yang menantang otoritas serta memicu refleksi tentang kebebasan dan identitas. Seluruh koleksi tersebut dikurasi berdasarkan empat tema utama: kekuasaan, kontrol, suara, dan ingatan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/392688\/perpustakaan-indonesia-masih-hadapi-persoalan-klasik\" title=\"Perpustakaan Indonesia Masih Hadapi Persoalan Klasik\" target=\"_blank\">Perpustakaan Indonesia Masih Hadapi Persoalan Klasik<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Beberapa karya fiksi dan non-fiksi ternama yang dipajang di antaranya adalah The Handmaid&#8217;s Tale karya Margaret Atwood, Felon karya Reginald Dwayne Betts, serta sejumlah karya terpilih dari penulis kontroversial Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk.<\/p>\n<p>Dalam pernyataan resminya, Dua Lipa menegaskan bahwa perpustakaan ini adalah bentuk perlawanan terhadap sensor literatur yang membatasi hak manusia untuk mempertanyakan dan memahami dunia.<\/p>\n<p>&#8220;Membaca dunia membawa kita lebih dekat,\u00a0tetapi sayangnya, tidak semua orang mendukung hal itu. Di sini Anda akan menemukan seratus buku yang mengajukan pertanyaan, atau yang telah dipertanyakan.&#8221;<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/367723\/menumbuhkan-minat-baca-dengan-gerakan-pm\" title=\"Menumbuhkan Minat Baca Dengan Gerakan PM\" target=\"_blank\">Menumbuhkan Minat Baca Dengan Gerakan PM<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Lebih lanjut, ia menjabarkan realitas pahit mengenai berbagai sensor yang terjadi di era modern terhadap karya-karya tertentu. &#8220;Beberapa telah dilarang oleh distrik sekolah karena tema ras atau seksualitas. Yang lain, yang ditulis untuk pembaca LGBTQIA+, telah dibatasi penampilannya. Dalam beberapa kasus, sang penulis bahkan harus membayar kata-kata mereka dengan nyawa mereka.&#8221;<\/p>\n<p>Pelantun \u2018Levitating\u2019 ini menegaskan ia ingin tempat ini menjadi ruang aman bagi buku-buku yang disingkirkan serta bentuk penghormatan bagi para pegiat literasi.<\/p>\n<p>&#8220;Perpustakaan ini adalah sebuah tempat suci bagi buku-buku yang telah lenyap, bagi para penulis yang keberaniannya membuka kedok struktur kekuasaan dan kontrol, dan bagi para pembaca yang menolak untuk didikte tentang buku apa yang boleh mereka baca,&#8221; tegasnya mengenai misi utama Manifesto Library.<\/p>\n<p>Pihak toko buku Livraria Lello sendiri menyambut positif langkah Dua Lipa karena sejalan dengan keyakinan mereka selama 120 tahun bahwa buku adalah teknologi kebebasan.\u00a0<\/p>\n<p>Melalui Manifesto Library, Dua Lipa berharap dapat memicu percakapan global yang sehat serta mengajak masyarakat dunia berani membaca dan menyuarakan pikiran lewat karya-karya yang sempat dibungkam.<\/p>\n<p>(People\/RollingStone\/P-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/hiburan\/907030\/dua-lipa-buka-perpustakaan-khusus-buku-terlarang-di-portugal\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penyanyi Dua Lipa,(Instagram\/service95bookclub) PENYANYI pop dunia, Dua Lipa, membawa kecintaannya terhadap dunia literasi ke tingkat yang lebih tinggi. Sukses menginisiasi klub buku digital Service95 sejak tahun 2021, bintang pop berusia 30 tahun tersebut kini resmi membuka perpustakaan fisik pertamanya yang diberi nama Manifesto Library. Menariknya, perpustakaan ini didedikasikan khusus untuk menampung koleksi buku yang pernah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":66474,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-66473","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66473","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66473"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66473\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66474"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66473"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66473"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66473"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}