{"id":66461,"date":"2026-07-03T04:27:40","date_gmt":"2026-07-03T04:27:40","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/03\/bahaya-sinar-matahari-pagi-dan-sore-kerusakan-dna-tetap-terjadi-meski-kulit-tidak-terbakar\/"},"modified":"2026-07-03T04:27:40","modified_gmt":"2026-07-03T04:27:40","slug":"bahaya-sinar-matahari-pagi-dan-sore-kerusakan-dna-tetap-terjadi-meski-kulit-tidak-terbakar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/07\/03\/bahaya-sinar-matahari-pagi-dan-sore-kerusakan-dna-tetap-terjadi-meski-kulit-tidak-terbakar\/","title":{"rendered":"Bahaya Sinar Matahari Pagi dan Sore Kerusakan DNA Tetap Terjadi Meski Kulit tidak Terbakar"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/07\/03\/1783052445_21835f4e13ee52e16743.jpg\" alt=\"Bahaya Sinar Matahari Pagi dan Sore: Kerusakan DNA Tetap Terjadi Meski Kulit tidak Terbakar\"\/><figcaption>Ilustrasi(magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>BANYAK orang menganggap paparan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sinar-matahari\" title=\"sinar matahari\">sinar matahari<\/a> pada pagi atau sore hari relatif aman bagi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kulit\" title=\"kulit\">kulit<\/a> karena suhunya yang terasa lebih sejuk dan tidak menyengat. Namun, temuan terbaru dari QIMR Berghofer Medical Research Institute menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Paparan sinar ultraviolet (UV) dalam kadar rendah sekalipun tetap berpotensi menyebabkan kerusakan seluler yang serius.<\/p>\n<p>Berdasarkan laporan <i>7 News<\/i>, risiko kerusakan kulit ternyata tidak hanya dipicu oleh tingginya intensitas sinar matahari, melainkan oleh akumulasi paparan yang diterima tubuh dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Hal ini menegaskan bahwa sinar matahari yang tampak &#8220;teduh&#8221; tetap memberikan dampak biologis pada sel kulit jika seseorang terpapar secara berulang tanpa perlindungan memadai.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/jelita\/690235\/lindungi-kulit-si-kecil-saat-bermain-di-luar-ruang-\" title=\"Lindungi Kulit si Kecil saat Bermain di Luar Ruang \" target=\"_blank\">Lindungi Kulit si Kecil saat Bermain di Luar Ruang <\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Kerusakan DNA Tanpa Gejala Sunburn<\/h3>\n<p>Dalam studi tersebut, para ilmuwan melibatkan 58 peserta dengan rentang warna kulit dari terang hingga gelap. Para peneliti melakukan eksperimen dengan memaparkan area kecil pada kulit punggung peserta menggunakan <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/sinar-uv\" title=\"sinar UV\">sinar UV<\/a> berintensitas rendah dan tinggi selama beberapa hari.<\/p>\n<p>Melalui prosedur biopsi jaringan kulit, ditemukan fakta mengejutkan: meskipun dosis UV yang diberikan tidak cukup kuat untuk menyebabkan kulit terbakar (<i>sunburn<\/i>), kerusakan DNA tetap terjadi. Selain itu, ditemukan perubahan biologis awal yang berkaitan erat dengan peningkatan risiko <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/kanker-kulit\" title=\"kanker kulit\">kanker kulit<\/a> di masa depan.<\/p>\n<div style=\"border: 1px solid #ccc; padding: 15px; margin: 20px 0; background-color: #f9f9f9;\"><strong>Ringkasan Temuan Penelitian:<\/strong><\/p>\n<table style=\"width: 100%; border-collapse: collapse; margin-top: 10px;\">&#13;<\/p>\n<thead>&#13;<\/p>\n<tr style=\"background-color: #e2e2e2;\">&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px; text-align: left;\">Parameter<\/th>\n<p>&#13;<\/p>\n<th style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px; text-align: left;\">Detail Temuan<\/th>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;\n\t<\/thead>\n<p>&#13;<\/p>\n<tbody>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Lembaga Riset<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">QIMR Berghofer Medical Research Institute<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Subjek Penelitian<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">58 peserta (kulit terang hingga gelap)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Temuan Utama<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Kerusakan DNA terjadi meski tanpa efek terbakar (sunburn)<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<\/p>\n<tr>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Faktor Risiko<\/td>\n<p>&#13;<\/p>\n<td style=\"border: 1px solid #aaa; padding: 8px;\">Akumulasi total paparan UV lebih krusial daripada intensitas sesaat<\/td>\n<p>&#13;<br \/>\n\t\t<\/tr>\n<p>&#13;<br \/>\n\t<\/tbody>\n<p>&#13;<br \/>\n<\/table>\n<\/div>\n<h3>Bahaya Akumulasi Jangka Panjang<\/h3>\n<p>Profesor Rachel Neale, salah satu penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa rasa aman palsu saat sinar matahari terlihat lemah justru menjadi ancaman. Kondisi ini sering kali membuat orang menghabiskan waktu lebih lama di luar ruangan tanpa perlindungan.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/880119\/tips-olahraga-outdoor-cara-melindungi-kulit-dari-bahaya-sinar-uv\" title=\"Tips Olahraga Outdoor: Cara Melindungi Kulit dari Bahaya Sinar UV\" target=\"_blank\">Tips Olahraga Outdoor: Cara Melindungi Kulit dari Bahaya Sinar UV<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Penelitian kami menunjukkan bahwa yang paling penting adalah total paparan sinar UV yang diterima tubuh, bukan seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkannya,&#8221; ujar Neale. Ia menekankan bahwa paparan dosis kecil yang terjadi terus-menerus selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dapat memicu mutasi genetik yang menjadi awal terbentuknya kanker kulit.<\/p>\n<p>Temuan ini secara langsung menantang pandangan konvensional bahwa aktivitas luar ruangan pada pagi atau sore hari hampir tidak memiliki risiko. Faktanya, tubuh tetap menerima radiasi UV meskipun intensitasnya lebih rendah dibandingkan saat tengah hari.<\/p>\n<h3>Tetap Butuh Matahari, Namun Terlindungi<\/h3>\n<p>Meski memperingatkan bahaya radiasi UV, para peneliti menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menghindari sinar matahari sepenuhnya. Sinar matahari tetap krusial bagi kesehatan, terutama dalam membantu produksi vitamin D yang dibutuhkan untuk kekuatan tulang dan fungsi tubuh lainnya.<\/p>\n<p>Sebagai langkah mitigasi, para ahli menyarankan beberapa tindakan pencegahan rutin:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li>Menjadikan penggunaan tabir surya (<i>sunscreen<\/i>) sebagai rutinitas harian.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Menggunakan pakaian pelindung, topi, dan kacamata hitam saat beraktivitas di luar.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li>Mencari tempat teduh secara berkala saat berada di bawah sinar matahari.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Dengan perlindungan yang tepat, manfaat sinar matahari tetap dapat diperoleh tanpa harus mengorbankan kesehatan kulit jangka panjang. (Z-1)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/907027\/bahaya-sinar-matahari-pagi-dan-sore-kerusakan-dna-tetap-terjadi-meski-kulit-tidak-terbakar\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(magnific) BANYAK orang menganggap paparan sinar matahari pada pagi atau sore hari relatif aman bagi kulit karena suhunya yang terasa lebih sejuk dan tidak menyengat. Namun, temuan terbaru dari QIMR Berghofer Medical Research Institute menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Paparan sinar ultraviolet (UV) dalam kadar rendah sekalipun tetap berpotensi menyebabkan kerusakan seluler yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":66462,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-66461","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66461","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66461"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66461\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66461"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66461"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66461"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}